Sedang Membaca
Analogi Gerakan Salat dalam Manuskrip Samarkandi
Nur Annisa
Penulis Kolom

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Analogi Gerakan Salat dalam Manuskrip Samarkandi

Manuskrip Samarkandi

Wilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia menyimpan begitu banyak budaya yang belum banyak diketahui dan diteliti. Salah satu budaya yang banyak tersimpan adalah manuskrip. Manuskrip yang banyak tersimpan di masyarakat ataupun lembaga lokal ini kemudian berpotensi rusak atau hancur dalam waktu dekat karena ketidaktahuan masyarakat dalam menjaga manuskrip tersebut.

Beruntung kini ada beberapa lembaga yang berhasil mendigitalisasi manuskrip-manuskrip yang ada di masyarakat, salah satunya adalah DREAMSEA. DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) menjadi salah satu lembaga yang ingin melestarikan kekayaan naskah yang ada. Mereka bukan hanya ingin mendigitalkan namun juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya mereka mengenal dan mencintai manuskrip.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lembaga lain yang fokus dalam digitalisasi manuskrip yaitu British Library. Pada tahun 2013, British Library berhasil mendigitalisasi seluruh naskah berbahasa melayu. Jadi, naskah-naskah yang terdapat di British Library sudah dapat diakses tanpa harus meminta izin atau persetujuan khusus untuk mengaksesnya. Berkat adanya digitalisasi manuskrip ini, sangat mudah bagi siapapun untuk melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip yang ada di Nusantara.

Dalam digitalisasi manuskrip, naskah digital menjadi surogat (tiruan) bagi naskah aslinya. Bagi pengkaji naskah, hal ini memberikan kesempatan besar untuk mengkaji naskah serupa yang terdapat dalam website yang tersedia.

Identitas Manuskrip Samarkandi

Manuskrip Samarkandi merupakan naskah bunga rampai yang terdiri dari tiga pembahasan,yaitu mengenai salat dalam bentuk tanya jawab, mengenai niat dan tata cara salat mayit, dan yang terakhir mengenai pernikahan yang pembahasannya dibiarkan tidak lengkap hingga halaman naskah ini berakhir.

Baca juga:  Mengoreksi Islam Mazhab Jihadis

Judul naskah tidak tercantum pada sampul luar, namun judul ditulis pada lembar kedua pada alamat surat dengan menggunakan tulisan Arab pegon berbahasa Melayu. Sedangkan bahasa yang digunakan dalam naskah adalah bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan Arab Jawi/Pegon.

Sosok dibalik adanya naskah ini adalah Abu al-Laits Muhammad bin Abi Nasr bin Ibrahim As-Samarqandi atau yang dikenal dengan sebutan As-Samarqandi. Beliau merupakan ahli hukum mazhab Hanafi dari kota kuno Samarkand, yang terletak di Uzbekistan. Selain itu, beliau juga merupakan salah satu ulama yang namanya sangat dikenal di Nusantara pada tahun 375 H atau 985 M.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berukuran 29×22 cm ini memiliki ketebalan 27 halaman. Adapun ukuran teks dalam naskah yaitu 17,5×12,5 cm dengan margin atas 4 cm, bawah 4 cm,kanan 4,5 cm dan kiri 2,5 cm. Teks dalam naskah ditulis menggunakan tinta berwarna hitam untuk penjelasan dari soal dan jawaban. Sedangkan untuk menunjukan bentuk materi (matan), tinta yang digunakan berwarna merah. Walaupun teks dalam naskah masih bisa terbaca dengan jelas, kondisi naskah ini sudah rusak dengan kertas yang telah berubah warna menjadi coklat kekuningan.

Belum ada informasi pasti kapan naskah ini dibuat, tapi kemungkinan besar naskah ini ditulis selama pemerintahan Inggris di Jawa pada periode 1811-1816. Naskah Samarkandi ini milik Tuan Al-Faris dari kampung Salemba di Batavia, sedangkan juru tulisnya yaitu Enci’ Duljabar yang datang dari Cirebon ke Batavia untuk belajar menulis kepada Tuan Alperes.

Baca juga:  Kaidah Al-Itsar dan Nasihat Gus Dur

Gerakan Salat dalam Naskah Samarkandi

Naskah Samarkandi pada bagian pembahasan salat berisi tentang tanya jawab terkait hakikat dan makna gerakan-gerakan dalam salat. Dikatakan bahwa salat berasal dari bahasa Arab yaitu As-Sholah yang secara bahasa berarti do’a,.

Dalam naskah Samarkandi, terdapat pertanyaan yang berbunyi “Mengapa Shalat lima waktu itu ada berdiri, ruku’, sujud dan duduk?” Kemudian setelah pertanyaan diikuti dengan jawaban yang ditulis menggunakan tinta hitam.

Pada naskah Samarkandi, dijelaskan bahwa berdiri dalam salat itu seperti ibadahnya seluruh kayu (pohon) yang ada di bumi. Pohon merupakan tumbuhan yang tinggi berdiri ke atas dan kokoh, berdirinya kayu tidak lemah lunglai meskipun diterpa angin yang berhembus kencang. Hal ini hendaknya sama dengan berdiri seseorang dalam salat, harus kokoh seperti kayu (pohon) yang tegak dan tidak lemah lunglai serta bergoyang-goyang. Jika manusia melakukan berdiri dalam salat secara sempurna, maka Allah akan memberi ganjaran (pahala) sebanyak jumlah kayu (pohon) yang ada di dunia. Masyaallah.

Kemudian gerakan ruku’ dalam salat dijelaskan dalam manuskrip menunjukkan ibadahnya seluruh hewan kepada Allah yaitu tunduk. Bentuk hewan dalam posisi ini adalah tunduk secara sempurna. Maka apabila seorang hamba melakukan ruku’ menyerupai posisi tunduknya hewan, ganjarannya (pahala) adalah sebanyak jumlah hewan yang ada di dunia.

Baca juga:  Soal Seksualitas dalam Film Bumi Manusia

Selanjutnya posisi sujud dalam salat dijelaskan bagai bentuk pujinya (ibadahnya) seluruh hewan melata kepada Allah. Hewan melata merupakan hewan yang hampir seluruh badannya menempel ke tanah. Jika seseorang bersujud dalam salat secara sempurna, maka ganjarannya sebanyak bilangan hewan melata yang ada di dunia.

Terakhir yaitu posisi duduk dalam salat yang diibaratkan bagai pujinya (ibadahnya) semua tumbuh-tumbuhan kepada Allah. Maka jika manusia melakukan duduk dalam salat secara sempurna seperti halnya tumbuhnya tumbuhan, ganjarannya (pahalanya) adalah sebanyak jumlah tumbuhan yang tumbuh di dunia ini.

Sungguh luar biasa manuskrip Samarkandi ini menjelaskan hakikat gerakan salat. Penulis menggunakan analogi sederhana yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehingga sangat mudah untuk dipahami dan diterima. Semoga dengan membaca dan memahami makna dalam manuskrip ini, kita bisa lebih khusyuk lagi dalam beribadah. Yang tak kalah penting untuk diingat, mari kita jaga manuskrip yang masih ada di sekitar kita supaya ilmu di dalamnya dapat kita manfaatkan untuk kehidupan di masa kini.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top