Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

Memahami Istilah Wabah, Epidemi, Endemik, dan Pandemi

Whatsapp Image 2020 03 17 At 8.02.17 Pm

Sejak terjadi serangan penyakit (outbreak) bernama virus Korona, dengan nama resmi COVID-19, berseliweran kata-kata atau istilah-istilah khas dalam penyakit. Kita tiba-tiba sering sekali mendengar atau membaca satu kata atau istilah yang sebelumnya “diam” saja dalam kamus atau hanya dipakai orang tertentu: wabah, epidemi, endemik, dan pandemi. Mari kita pahami empat istilah itu satu per satu.

“Wabah” berasal dari bahwa Arab, al-waba` (الوَباَءِ). Tidak jelas sejak kapan kata al-Waba` kita adopsi menjadi wabah. Tapi berdasarkan keterangan banyak bacaan, gelombang pertama bahasa Arab menjadi bahasa Melayu lalu menjadi bahasa Indonesia terjadi abad ke-11 atau abad ke-12. Intermezo: “kata” dalam bahasa Arab disebut al-kalimah. “Kalimat” (susunan kata) dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, yaitu al-kalam. Istilah-istilah kalimat, huruf, abjad, frasa, paragraf, alenia, bab, pasal, kitab, semua itu bahasa asing. “Judul”, kepala karangan, mungkin juga berasal dari bahasa Arab, al-jadal, artinya perdebatan, mungkin karena “judul” sering diperdebatkan, tapi ini spekulasi, hahaha… Eh, “kata” sendiri juga konon berasal dari Sansekerta, India. Bahasa kita memang bahasa serapan dari mana-mana, terbukti bahwa kita adalah bangsa yang sangat terbuka.

Buku Kiai Said

Dalam doa-doa, biasanya kata al-waba` “ditemani” al-bala`, kata yang juga sudah diserap dalam bahasa Indonesia, yakni “bala”, maknanya malapetaka; kemalangan; cobaan; kesengsaraan. Kita sering mendengar frasa “tolak bala”, ini artinya menolak kemalangan, malapetakan, sial. Dalam tradisi Jawa, juga ada dalam ajaran Islam, cara menolak bala dengan sedekah, memberi santunan, ritual atau doa tertentu, dan lain-lain.

Baca juga:  Mengenal Peradaban Kitab di Pesantren

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “wabah” diartikan dengan penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Kata kuncinya adalah “menular” dan “menyebar luas”. Demam berdarah itu tidak menular. Jika merujuk pada kamus, ia tidak disebut “wabah”.

Namun, orang awam menyebut “wabah” untuk semua penyakit yang meluas dalam waktu bersamaan. Ada diksi yang lebih tepat menggantikan “wabah” versi orang awam, yakni “hawar” (KBBI). Hawar bisa untuk sebutan penyakit menular, tapi bisa dipakai karena musim penyakit tertentu saja, tidak harus jenis penyakit menular. Masyarakat tani juga sering menyebut “wabah” (hawar) jika pertanian mereka diserang penyakit sejenis dalam waktu bersamaan. Itulah “wabah” dalam kamus dan dalam penggunaan masyarakat awam, orang umum.

Selanjutnya kita ulas “epidemi”. Dalam kamus, kata ini diberi keterangan begini: penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu. Dengan penjelasan seperti ini, epidemi (epidemic) adalah sinonim dengan wabah. Epidemi itu wabah. Wabah itu epidemi. Ilmu yang mempelajari epidemi disebut epidemiologi.

Mari kita lihat kata selanjutnya: “endemik”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan “endemik” sebagai berikut: (1) berkenaan dengan penyakit yang muncul dalam wilayah tertentu. (2) Berkenaan dengan spesies organisme yang terbatas pada wilayah geografis tertentu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Menemukan Keagamaan dan Kemanusiaan di Tengah Kecepatan

Endemik (endemic) itu penyakit –baik menular atau tidak– yang khas wilayah tertentu. Demam berdarah –tidak menular– adalah penyakit endemik daerah tropis, termasuk Indonesia.

Endemik tidak saja terkait jenis penyakit di daerah tertuntu, tapi juga spesies hewan yang hanya hidup di daerah tertentu juga disebut epidemik. Misalnya Kuskus beruang hanya ada di Sulawesi, Banteng Jawa hanya ada di Jawa, Kasuari Merah hanya ada di Papua, dan seterusnya.

Terakhir, mari kita pahami istilah Pandemik (pandemic). Dikutip dari IDN Times, berdasarkan buku berjudul Disease Control Priorities: Improving Health and Reducing Poverty 3rd edition yang ditulis oleh Nita Madhav et all, pandemik ialah wabah besar penyakit menular yang sangat meningkatkan morbiditas dan mortalitas di wilayah geografis yang luas, dilansir dari National Center for Biotechnology Information.

Selain itu, pandemik bisa memicu gangguan ekonomi, sosial dan politik yang signifikan di wilayah yang terdampak. Kasus pandemik kian melejit akibat peningkatan perjalanan, urbanisasi, integrasi global, eksploitasi lingkungan dan pengalihan lahan. Menurut World Health Organization, pandemik ialah penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Menghadapi pandemik seperti sekarang, solusi untuk memperlambat penyebarannya adalah melakukan “jaga jarak”. Kita diminta untuk sangat sedikit bergerak terutama karena ciri kuat manusia modern saat ini adalah sangat mudah bergerak. Tentu ini menjadi kondisi yang sangat sulit karena ini sejatinya menghilangkan jati diri hidup kita: bergerak, dan untuk Indonesia: terbuka. Untuk sementara kita harus diam dan tertutup, siapapun itu asalkan manusia, harus melakukannya: kaya ataupun miskin. Bisa dibayangkan betapa sulitnya.

Baca juga:  Tafsir Udkhulu fis Silmi Kaafah

Ini ujian lagi bagi kemanusiaan, bekerja sama dengan diam dan tertutup. Yang jika gagal maka semua menjadi tidak berguna. Saatnyalah kita kembali menjadi manusia yang saling menolong, juga terhadap bumi tempat kita bermukim sekarang. Dengan diam dan tertutup, ternyata bumi menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Polusi udara di China menurun drastis, kanal air di Venesia kembali jernih. Udara makin segar dan sehat, yang sangat mungkin manusia menjadi lebih sehat, lebih panjang usianya juga lebih cerdas. Yang jika dibandingkan, nantinya manusia lebih sehat satu tahun daripada tanpa adanya pandemik Korona. Sehat setahun lebih panjang dibandingkan dengan rugi harta setahun, pastilah tidak ada apa-apanya.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top