Sedang Membaca
Khutbah Jumat: Menyambut Hari Kemerdekaan dengan Semangat 45
Noor Sholeh
Penulis Kolom

Penulis pernah mengajar di SMKN 2 Jepara, dan mengabdi di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kabupaten Jepara. Pernah juga diamanahi menjadi Ketua MWC NU Kota Jepara. Kolom Khutbah Jumat adalah kumpulan naskah-naskah yang pernah disampaikan oleh almarhum dalam mimbar Jumat. Naskah itu kini diketik ulang supaya bermanfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Lahu-alfaatihah..

Khutbah Jumat: Menyambut Hari Kemerdekaan dengan Semangat 45

Hadirin sidang jumat yang berbahagia

Sebentar lagi kita akan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75. Marilah dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 75 ini, kita sebagai generasi penerus para pejuang kemerdekaan ini, dapatlah melanjutkan cita-citanya yang luhur, yaitu mengisi alam kemerdekaan dengan rasa tanggung jawab baru dengan profesi kita masing-masing. Wabil khusus, berjuang dalam garapan bidang jasmaniah dan rohaniah.

Sebab kami berkeyakinan dan berfikir realistis bahwa bila jasmaninya kuat, ekonomi kuat, secara tidak langsung dapat memperkuat nilai keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, tetapi apabila jasmaniahnya loyo, ekonomi rakyat lemah, keadaannya miskin tidak berdaya, secara tidak langsung, akan berpengaruh besar kepada nilai keimanan dan ketaqwaan, nilai akhlak dan mental bangsa, serta berpengaruh juga kepada nilai sosial, politik, dan keamanan bangsa.

Inilah kasus yang dikhawatirkan, apabila generasi yang akan datang atau saat ini, mereka itu dalam keadaan lemah, miskin, dan kurang tercukupi kebutuhan hidup setiap harinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa’, ayat 9 yang berbunyi:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Baca juga:  Antara Gereja dan Masjid: Hagia Sophia

Dan di dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah juga disebutkan:

اْلمُؤْمِنُ اْلقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ اِلَى اللهِ مِنَ اْلمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang mukmin yang lemah.

Dengan petunjuk Al-Qur’an, Surat An-Nisa’ ayat 9, dan hadis Kanjeng Rasul tersebut, marilah kita umat islam untuk bangkit dan cancut tali wondo mengisi kemerdekaan Republik Indonesia ini, dengan rasa nasionalisme yang tinggi, yaitu menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjaga lingkungan dan keamanan, dengan sebaik-baiknya, khususnya untuk situasi seperti ini, yang diperlukan adalah membangun bangsa dari keterpurukan ekonomi, membangun moral dan akhlak para pemimpin dan rakyatnya dari mental korupsi, serta penanaman dasar nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tentang keadilan, kejujuran, kebenaran, dan kebangsaan.

Pendekatan itu saya kira lebih tepat dan menuju sasaran ketimbang memaksakan syariat Islam yang justru akan menimbulkan persoalan baru bagi bangsa ini.

Kita harus menyadari betul bahwa ekonomi kita sudah parah, rakyat banyak yang menjerit, anak-anak bangsa banyak yang terlantar, keamanan rusuh, budaya kisruh masih mengakar di tengah kita, dan negara dalam keadaan rapuh karena banyak hutangnya. Nah, kalau muncul konflik baru dan pertentangan baru maka semakin beratlah negara ini.

Baca juga:  Khutbah Jumat: Mengingat Allah Hati Jadi Tenang

Bagi kita umat Islam, yang terpenting melihat kondisi semacam ini adalah bukan tulisannya dan propagandanya yang dibesar-besarkan, akan tetapi perilaku kita dan pengamalan kita yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya.

Oleh karena itu wahai kaum muslimin sidang Jumat rohimakumullah, kami menghimbau dan mengharap bahwa bagi yang mampu dan mempunyai kelebihan di bidang apa saja, marilah selalu berfikir dan berusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru, sehingga ekonomi rakyat bisa terangkat, demi kesejahteraan masyarakat itu sendiri, masalah teknis dan operasionalnya terserah kita masing-masing.

Di sinilah pentingnya peranan kepedulian kaum muslimin dan penerus pejuang bangsa, termasuk juga para abdi negara dan abdi masyarakat, hendaknya mereka itu bisa mendorong keberhasilan ekonomi rakyat dan keamanan masyarakatnya sendiri, yang otomatis harus didukung oleh hukum-hukum yang jelas dan tegas, serta membela yang benar, bukan membela yang bayar.

Insya Allah apabila umat Islam dari pucuk pimpinannya, dimulai dari presidennya, DPR, MPRnya, aparat keamanan dan abdi negaranya, sampai dengan rakyatnya tahu dan menyadari tugas dan fungsinya masing-masing secara benar dan konsekuen, saya yakin hidup ini akan terasa indah, damai, tentram, saling cinta-mencintai, dan sayang- menyayangi, yang penuh dengan rahmat Allah dan berkah Allah Swt. Tetapi kalau pemimpinnya dan rakyatnya selalu cuek, bahkan banyak yang mendustakan kalimatnya Allah, maka Allah akan menimpakan adzab, sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Baca juga:  Kisah Masjid Tiban di Jombang

Hanya doa kita yang kita harap, semoga Allah Swt menyelamatkan diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari fitnah di dunia dan akhirat. Amiin Allahumma Amin.

Arsip Khutbah 2002 dengan sedikit perubahan.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top