Sedang Membaca
Rumus Mencintai Tuhan dari Ibn Athaillah
Muhammad Az-Zamami
Penulis Kolom

Mahasantri Ma'had Aly An-Nur II Malang

Rumus Mencintai Tuhan dari Ibn Athaillah

Kisah Sufi

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته فأوجب عليهم وجود طاعته فساقهم إليها بسلاسل الإيجاب، عجب ربك من قوم يساقون إلى الجنة بالسلاسل

Allah sudah tahu bahwa hamba-hambanya malas berkhidmah pada-Nya. Karena itulah Allah memberikan mereka rangkaian kewajiban (agar bisa berkhidmah). Dan Allah heran kepada mereka yang masuk surga melalui rangkaian paksaan.

Apa benar kita cinta Allah? Apa bukti bahwa kita cinta kepada-Nya? Atas dasar apa kita melakukan segala kewajiban dari-Nya? Kerelaan? Atau paksaan? Mencintai kok terpaksa.

Dalam al-Hikam al-Athaiyyah: Syarh wa Tahlil (al-Hikam al-Athaiyyah: Sebuah Komentar dan Analisa) Syaikh Said Ramadhan al-Buthi membagi sikap manusia dalam menyikapi ibadah menjadi tiga tipe;

Pertama, mereka yang beribadah kepada Allah secara sukarela. Mereka yang tahu betul sebuah tanggung jawab bersyukur dan berkhidmah sebagai hamba atas segala nikmat yang sudah Allah berikan. Kalau kata Syaikh al-Buthi, mereka ini hamba-hamba yang ori, beribadah kepada Allah murni tanpa kepentingan apapun. Mereka minim sekali, dan terus berkurang seiring perkembangan zaman.

Kedua, mereka yang beribadah kepada Allah atas dasar semi-butuh. Mereka ini bisa disebut hamba “musiman”. Mereka akan rajin beribadah ketika sudah merasa terdesak dan butuh sekali terhadap sesuatu. Mereka berkeyakinan bahwa dengan memperbanyak ibadah, banyak hal-hal positif terjadi dan kebutuhan yang mereka inginkan terpenuhi. Di sisi lain, mereka berkeyakinan bahwa itu semua adalah syariat Allah.

Ketiga, mereka yang beribadah kepada Allah karena punya kepentingan. Mereka ini adalah hamba-hamba yang beribadah karena mengharap surga dan takut disiksa. Jadi, tujuan ibadahnya nggak murni karena Allah, tapi biar nggak disiksa. Celakanya, kategori hamba yang ketiga ini adalah mayoritas orang-orang mukmin. Dan jangan-jangan kita ada di bagian ke tiga ini.

Baca juga:  Virus Corona dan Kemelaratan Biologis Manusia

Namun, bagaimanapun juga, golongan ke tiga masih selamat. Sebanyak apapun kepentingan yang mendasari ibadahnya, dia masih memiliki rasa butuh kepada Allah. Setidaknya, karena rasa butuh inilah menyebabkan dia selamat.

Minim pengetahuan akan apa saja yang baik untuk dirinya, yang kiranya bisa menjadikan dirinya selamat dan bahagia di masa depan. Dan juga adanya perasaan takut bahwa dia akan tidak puas saat hidup, banyak kemudian yang terjerumus pada zona nyaman kemaksiatan. Alasan ini lah yang menjadi dasar Allah memberikan kita ragam kewajiban dan larangan. Allah seakan “tidak rela” jika ada hambanya yang terjerumus dalam kubangan dosa dan riwayat hidupnya berakhir di neraka.

Visi Orang Tua adalah Visi Allah.

Saat kecil, sering kali kita rasakan “kegalakan” orang tua. Begini dikit dimarahin, begitu dikit kena semprot. Sejak kecil kita sudah sering capek, di suruh bersih-bersih, membelikan garam, cabe, atau apalah ke toko. Sore hari, kita harus ngaji, kalo misal bolos, harus siap-siap telinga dan mental saat pulang. Bermain tidak boleh jauh-jauh, maghrib harus sudah pulang. Sholat lima waktu harus didirikan. Malam harus belajar dengan rajin. Dan tidur harus tepat waktu.

Bahkan hingga sekarang, tak pandang usia kita berapa, status kita sebagai apa, orang tua masih sama. Selalu mengawasi dan tak henti memberikan arahan kepada anaknya. Apa maksudnya? Orang tua tidak akan rela jika anaknya tidak menjadi orang sukses. Orang tua takut jika kita tidak menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat. Itulah alasan mengapa orang tua sejak kecil dan begitu seterusnya terus memberikan kita asupan-asupan nilai moral sebagai modal untuk hidup.

Baca juga:  Sejarah Makna Kitab Gandul dalam Tradisi Pesantren

Begitu juga Allah. Bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya ya tadi itu, memberikan ragam kewajiban dan larangan agar kita menjadi manusia yang paripurna di dunia, dan bahagia di akhirat. Maka logis kemudian jika Allah menyandingkan orang tua dengan diri-Nya dalam al-Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya

Untuk tugas berbalas budi yang baik, kita memiliki tanggung jawab kepada Allah dan orang tua.

Masuk Surga kok Dipaksa?

Normalnya orang, secara naluri gemar melakukan hal-hal yang menyenangkan. Tanpa disuruh sekalipun, dia akan mati-matian mewujudkan apa yang disukai dan diinginkan. Tapi kalo masalah surga, sepertinya tidak demikian.

Anda ingin masuk surga? Ingin saja atau ingin sekali? Apa Anda yakin jika Anda benar-benar ingin masuk surga? Apa bukti bahwa Anda benar-benar ingin masuk surga?

Poin inilah yang menjadi penggalan hikmah di atas: “Allah heran terhadap mereka yang masuk surga saja harus dipaksa”. Jika mengaca pada narasi sebelumnya, kewajiban yang Allah bebankan kepada hamba tiada lain agar hambanya selamat dan masuk surga. Kalau kita lihat dari sudut pandang hamba, masuk surga saja menunggu diwajibkan untuk beribadah. Kalau diteruskan lagi, bisa jadi kalau ibadah-ibadah tadi tidak diwajibkan, tidak ada jaminan kita masih beribadah

Sangat lucu sekali jika dinalar. Bagaimana bisa seseorang mendaku senang terhadap sesuatu, namun melakukan segala hal yang katanya menyenangkan tadi jika dipaksa. Anda mencintai seseorang, apa butuh paksaan untuk nge-chat de’e? Anda suka sepak bola? Apa harus dipaksa dulu agar mau menonton pertandingan? Perlu dipertanyakan keinginan Anda jika jawabannya iya.

Baca juga:  Nasib Aksara Pegon di Bali

Maka, jika kita benar-benar ingin masuk surga, tanpa dipaksa (dalam konteks ini diwajibkan) shalat, kita sudah secara sukarela shalat sendiri. Tanpa dipaksa puasa, atau melakukan ibadah lain. Artinya, ketaatan kita kepada Allah sudah menjadi kebutuhan, sehingga tanpa diwajibkan sekalipun kita butuh melakukan ketaatan-ketaatan tadi. Namun nyatanya, Allah wes kadung mewajibkan. Apa yang harus kita lakukan?

Cara berpikir dalam beribadah yang harus dibenahi. Gus Baha -melalui video di youtube dan sering penulis dengar- pernah bercerita tentang seorang wali yang ditawari oleh Allah untuk masuk surga. “Ya Rabb, apa di surga masih ada shalat?” Terheran dengan jawaban itu Allah berujar, “Mengapa kamu tanya begitu?” Dengan tegas si wali menjawab: “Apa enaknya hidup tanpa sujud ke Njenengan? Lho, saya ini hamba-Mu. Saya nggak puas kalau tidak bisa sujud kepada-Mu?” “Ya, tidak apa-apa kalau begitu” jawab Allah. “Kalau begitu saya mau”, tangkas si wali tadi.

Dalam cerita lain, Gus Baha juga mengatakan bahwa ada seseorang yang tak berhenti berdzikir sekalipun sudah di neraka. Ya karena tadi itu, dzikir sudah menjadi kebutuhan, tak puas jika tak ditunaikan.

Maka, dua cerita tadi memberikan kita gambaran bahwa jika ibadah sudah menjadi kebutuhan, konsekuensi apa pun akan diterima, yang penting dia mampu menunaikan kebutuhannya tersebut. Alangkah indahnya jika suatu ibadah sudah menjadi kebutuhan kita. Tanpa paksaan dan iming-iming apa pun, kita akan terus beribadah dan beribadah terus dengan rasa senang dan nyaman. Wallahu ‘Alam

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top