Sedang Membaca
Kisah Sufi Unik (28): Al-Kattani, Berjanji untuk Tidak Tertawa
Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kisah Sufi Unik (28): Al-Kattani, Berjanji untuk Tidak Tertawa

Al-Kattani, nama aslinya Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Kattani, memiliki kuniyah Abu Bakar, kuniyah inilah yang kemudian menjadi nama tenarnya, Abu Bakar al-Kattani. Al-Kattani berasal dari Baghdad, berkawan dan berguru kepada Imam Junaid, Abu Sa’id al-Kharraz, dan Abu Hasan al-Nuri. Al-Sulami dalam Thabaqat al-Shufiyah menginformasikan bahwa Al-Kattani tinggal di Makkah, sekitaran Masjidil Haram, hingga akhir hayatnya.

Al-Murta’isy mengatakan bahwa al-Kattani bergelar ‘Siraaj al-Haram’, pelita Masjidil Haram. Sementara itu Fariduddin al-Atthar mengatakan bahwa al-Kattani adalah Syaikhu-l-Makkah, Mursyid di zamannya, serta termasuk dalam salah satu ‘Kubbaru-l-Masyaayikh fi-l-Hijaaz’ pembesar para syaikh di tanah Hijaz. Al-Kattani, meninggal di Makkah pada tahun 322 Hijriyah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terkait pengalaman spiritualnya, al-Kattani pernah dalam satu malam mimpi bertemu Kanjeng Nabi sebanyak lima puluh kali. Setiap kali bermimpi, al-Kattani selalu bertanya kepada Kanjeng Nabi, “Ya Rasul, doa apa yang sekiranya menjaga hati ini agar tidak pernah mati?”

Kanjeng Nabi lantas menjawab, “Bacalah ‘Yaa hayyu yaa qayyum laa ilaaha illa anta‘ setiap hari sebanyak empat puluh kali, Allah akan menerangi hatimu dengan cahaya ma’rifat.”

Pada kisah yang lain, al-Kattani juga pernah bermimpi, dan lalu mimpi itu menyebabkan ia berjanji untuk tidak tertawa kecuali ia memang tidak kuat menahan tawa. Berikut kisahnya;

Baca juga:  Abu Nawas Menghadapi Cacian

Pada suatu malam al-Kattani bermimpi bertemu dengan sosok yang tampan dan memakai pakaian yang bagus, penasaran akan sosok itu al-Kattani pun lantas bertanya, “Engkau siapa?”

“Aku adalah Taqwa,” jawabnya.

“Di mana engkau tinggal?” tanya al-Kattani lagi.

“Aku tinggal di hati yang selalu bersedih,” jawab sosok itu.

Masih dalam mimpi yang sama, al-Kattani juga melihat sosok yang jelek, dan berpenampilan buruk, penasaran dengan sosok itu al-Kattani bertanya padanya, “Engkau siapa?”

“Aku adalah Tawa,” jawabnya.

“Di mana engkau tinggal?” tanya al-Kattani.

“Aku bersemayam di hati yang lalai,” jawab sosok itu.

Al-Kattani pun terbangun dari tidurnya dan pada saat itu juga ia berjanji untuk tidak tertawa kecuali pada kondisi-kondisi di mana ia tidak kuat menahan tawa. Selagi al-Kattani kuat menahannya maka ia tidak akan tertawa.

Berikut quote sufistik al-Kattani;

الصُّوْفِيْ مَنْ كَانَ طَاعَتُهُ فِيْ نَظْرِهِ كَجِنَايَةٍ، يَحْتَاجُ إلَى الإِسْتِغْفَارِ لَهَا.

“Al-Sufi man kaana thoo’atuhu fii nazrihi kajinaayatin, yahtaaju ila-l-istighfaari lahaa.”

“Sufi adalah orang yang melihat ketaatannya sebagai kejahatan, ia senantiasa memohon ampunan atas kejahatan itu.”

Wallahu A’lam.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top