Sedang Membaca
Desa Mawa Carita Buntu (1): Membaca Desa Buntu dari Leluhur

Pelajar di Islamic Home Schooling Fatanugraha Wonosobo, sedang mengaji Tari Topeng Lengger yang ada di Wonosobo.

Desa Mawa Carita Buntu (1): Membaca Desa Buntu dari Leluhur

Whatsapp Image 2022 08 30 At 21.44.08

Membahas sebuah wilayah atau desa katakanlah, tentu tidak bisa lepas dari para pendahulu atau peran dari tokoh di masa lalu yang membabat desa, sehingga sampai saat ini menjadi wilayah yang bisa dihuni dan berkembang sampai sekarang.

Desa Buntu misalnya, desa yang berada di lereng gunung Sindoro ini pun memiliki cerita dan sejarah yang menyertai. Mbah Citro adalah sebagai tokoh yang sering menjadi rujukan siapa yang membuka desa ini. Nantinya disusul atau diteruskan dengan keturunan-keturunan beliau ke bawah. Seperti Mbah Wahi, Mbah Glondhong dan dilanjutkan beragam sampai ke generasi selanjutnya.

Jika ditelusuri dari bentuk atau tipologi makam Mbah Citro sendiri termasuk pada tipe makam kuno. Sebab dari segi batu nisan dan kijingnya masih utuh belum dipugar, nantinya bisa diteliti dan digali secara mendalam. Dengan kijing bahan potongan batu yang lebar dan nisan yang besar pula seperti batuan candi. Dalam arti mirip potongan makara atau bagian pintu pada candi.

Sebagaimana ketika mengkaji sejarah desa ada beberapa metode yang bisa ditempuh, salah satunya dengan mencari makam salah satu tokoh yang berperan maupun yang disepuhkan atau di-tua kan. Kedua, menggali nama desa dengan metode toponimi, sebab nama suatu tempat adalah salah satu prasasti yang tidak bisa diubah oleh kolonial. Sehingga nantinya nama wilayah tersebut bisa ditelusuri lebih mendalam dari makna dan cerita yang menyertai.

Baca juga:  Islam Kosmopolitan di Gresik

Ambil contoh menggunakan cara pendekatan tipe-tipe makam atau pendekatan antropologi nantinya. Dari tipe makam yang berada di kampung pasarean Desa Buntu itu sendiri ada beberapa yang menarik terlihat sepuh atau kuno. Ketika penulis menanyakan sembari mencari tokoh yang berperan, salah satu warga yang sedang membersihkan makam di pasarean tersebut memberikan cerita dan menunjukkan makam mbah Citro, dan beberapa makam yang berperan seperti tokoh maupun kepala desa (lurah) zaman dahulu.

Kebetulan penulis sowan di Desa Buntu ketika bulan Muharram atau bulan Suro, jadi ‘menangi’ cara istilah Wonosobo kebiasaan ziarah kubur ke leluhur serta tokoh pembuka desa.

Mbah Suro, sebagai salah satu tokoh sesepuh desa yang masih sugeng atau hidup bisa digali informasi dengan ingatan yang masih kuat seakan membuka waktu masa lalu dengan teges lugas dan runtut. Dari beberapa keturunan dari Mbah Wahi misalnya nantinya sampai Mbah Glondhong pun bahkan sampai lurah sekarang ini masih ada keterikatan satu garis keturunan atau nasab.

Hal ini bukan berarti hierarki kekuasaan atau feodalisme masih diterapkan, tetapi secara psikologis urusan trah, nasab sampai sanad masih berpengaruh, atau ibarat pepatah “buah tidak bisa lepas dari pohonnya.” Meskipun begitu itu adalah sekian persen, dalam mengatur tata pemerintahan semua pihak berperan untuk kemaslahatan Desa Buntu.

Baca juga:  Moderasi Islam yang Saya Pahami: antara NU dan Muhammadiyah

Kembali pada pasarean Desa Buntu, dari segi nisan yang ditemukan terlihat kuno jika dikategorikan termasuk pada tipe nisan gaya pantura atau Jawa Timuran, tetapi memiliki ciri dan gaya khas tersendiri.

Ketika penulis amati dan tanyakan kepada penulis buku “Nisan Hanyakrakusuman” bahwa beberapa nisan pada kampung pasarean Desa Buntu ini ada sekitar tahun 18-an dan ditelisik masih trah Pajang atau Jaka Tingkir atau Bayat. Trah disini bukan sekedar garis secara nasab, namun boleh jadi dari segi sanad keilmuannya. Memang menarik semakin menyelami makna dan pecahan puzzle yang sedikit demi sedikit terpasang. Jika dirunut lagi boleh jadi nyambung keterikatan dengan sanad keilmuan ke Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya atau guru beliau ke atas.

Sebab ada kisah bahwa beliau ketika geger kerajaan kemudian tetirah menentramkan diri sampai negeri atas awan ini (sekarang bisa disebut dengan Wonosobo) dan berguru dengan mursyid tarekat yaitu Sayyid Abdullah Quthbuddin yang makamnya dan bekas bangunan berupa pecahan batu yang bermotif pun umpak-umpak bangunan berada di tengah persawahan Desa Candirejo, Mojotengah Wonosobo.

Bahwa Sayyid Abdullah Quthbuddin mengajarkan dan mengijazahkan hizb dan do’a kepada Jaka Tingkir yang nantinya ketika kembali pulang melewati sungai Brantas atau sungai Bengawan Solo (memang banyak versi) tersebut beliau ditumpangi buaya sebagaimana kutipan tembang Megatruh “Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon” yang nantinya itu bagian dari martabat tujuh atau tingkat ahwal menuju Tuhan.

Baca juga:  Pemerintah Kolonial Mengajari Cara Penyembelihan Secara Islam

Hanya saja nantinya untuk menyingkap makna dan sejarah tersebut dan tentunya masih panjang pekerjaan rumah yang perlu kita gali dan cari derajad referensial atau rujukan sejarahnya.

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top