Sedang Membaca
Habib Quraish dan Gus Baha Mengenalkan Islam dengan Bahagia

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kediri Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

Habib Quraish dan Gus Baha Mengenalkan Islam dengan Bahagia

Gus Baha

Akhir Juli lalu, muhibbin atau pecinta Gus Baha merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bagaimana tidak, Gus Baha duduk bersama dengan Habib Quraish Shihab berada dalam sebuah kesempatan di acara Narasi TV yang dipandu oleh Najwa Shihab.

Memang itu bukan kali pertama beliau berdua duduk dalam satu majlis. Namun pertemuan kali ini terasa berbeda sebab ditata sedemikian rupa oleh Narasi tv dan dengan durasi yang lumayan panjang. Tentu ini bak kompilasi dua permata ilmu, yang sarat menghadirkan pencerahan, keteladanan, dan faedah yang luar biasa berharga. Jika ada dua maestro ahli tafsir duduk bersama untuk mewedar keilmuan, apalagi yang akan kita lakukan, selain menyimak dengan penuh kekhusyuan dan hati yang berbinar-binar.

Gus Baha seperti yang kita kenal adalah ulama yang nisbi muda. Keilmuan beliau juga diakui dan diapresiasi oleh Habib Quraish, mufassir kebanggan bangsa ini. Sementara Gus Baha menaruh ketadziman kepada Habib Quraish lantaran usia dan keluasan ilmunya. Kedua sikap ini patut untuk kita teladani bersama.

Layaknya acara-acara di Narasi TV, konsep “pengajian” kali itu pun tidak seperti pengajian-pengajian konvensional pada umumnya. Pengajian yang dipandu Nana, sapaan hangat Najwa Shihab itu pun seperti acara Talk Show namun dengan tanpa mengurangi kedalaman materi pengajian pada umumnya.

Bagaimana tidak, baru di menit-menit pertama saja, Gus Baha sudah menyentak pemirsa dengan pernyataan, “Laisa li ‘alimin an yuqallida ‘aliman akhor, antar orang alim itu tidak ada keharusan untuk mengikuti sama lain”. Pernyataan ini dimaksudkan sebagai penegasan dari Gus Baha kepada Habib Quraish bahwa apa yang menjadi pernyataan beliau tidak harus diikuti oleh Habib Quraish atau siapa saja yang memenuhi kualifikasi seorang yang ‘alim.

Baca juga:  Kapan Sumber Ortodoksi Islam Masuk di Jawa?

Dari sepenggal kalimat tersebut, Gus Baha hendak mengajari kita betapa dalam dunia intelektual, perbedaan pendapat adalah biasa dan niscaya. Saking biasa dan lumrahnya perbedaan di antara para ulama, mereka tidak ambil pusing umpama pendapat mereka ditolak atau bahkan ditentang.

Tentu jika perbedaan yang dimaksud ialah perbedaan di dalam hal-hal yang tidak mujma’ alaih atau konsensus seperti kewajiban puasa Ramadhan umpamanya. Prinsip seperti ini penting saya utarakan (meminjam istilah yang sering dilontarkan oleh Gus Baha) agar ummat tidak kagetan melihat perbedaan di kalangan ulama.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah, Anda boleh memiliki pendapat sendiri jika Anda memiliki kualifikasi keilmuan yang mumpuni di bidang agama. Sebab tidak semua pendapat seseorang bisa dikategorikan khilaf. Meminjam nazaman  Imam As Syuyuthi, dalam Al Itqhan, “Laisa Kullu Khilafin Ja-a mu’tabaran # Illa Khilaf  lahu haddzun min an-nadzar, terjemah bebasnya, tidak semua perbedaan pendapat itu patut dikategorikan otoritatif jika ia tidak memiliki dalil atau hujjah yang kuat pula.

Dalam acara tersebut, Habib Quraish tak ketinggalan memberikan warning kepada kita semua, bahwa wali atau kekasih Allah itu tidak harus memiliki kekeramatan yang di luar kewajaran manusia pada umumnya. Semisal wali harus bisa terbang, menghilang atau bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan sangat cepat. Justru syarat menjadi wali kata Habib Quraish, adalah memiliki keilmuan. Seperti yang pernah dimaklumatkan oleh Imam Ghazali:

Baca juga:  Berani “Memasak” Gagasan Sendiri: Tentang Filsafat dan Lain-Lain

Kalau bukan orang yang ‘alim itu disebut wali, maka saya tidak tahu lagi siapa yang berhak disebut wali”.

Syarat kedua ialah ilmu tersebut harus diamalkan kemudian diajarkan dengan metode yang sekiranya membuat orang jadi simpati, menaruh hormat dan mengenalkan sifat-sifat keindahanNya, jangan malah menonjolkan sifat-sifat yang keras.

Prinsip semacam itu sesuai dengan komitmen dakwah Gus Baha yang mana beliau selalu berusaha mengenalkan bahwa ajaran Allah itu indah, mudah dan solutif. Kebenaran dan kemudahan beragama semacam ini memang harus dikenalkan. Setelah dikenalkan maka urusan ada yang senang atau malah menyerang tidak perlu lagi dirisaukan.

Menariknya, kedua ulama kita ini bersepakat bahwa pendidikan yang bisa mencetak figur-figur pendakwah dengan sikap semacam ini ialah terlahir dari pesantren. Pendidikan pesantren diyakini sukses mampu mencetak out put semacam itu lantaran terdapat keihlasan dan karakter yang diteladankan oleh para kiai dan pengajar di dalamnya. Pesantren tidak hanya mendidik akal semata tapi juga hati dan perasaan murid-muridnya. Ada wirid-wirid  yang dibiasakan di pesantren yang kian menjadikan spiritualitas santrinya makin terasah.

Dengan ditopang keikhlasan, hubungan antara guru/kiai dan santrinya tidak terpisah oleh ruang dan waktu. Habib Quraish mengenang betapa ia hanya dua tahun mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Malang. Namun saat telah pulang dari Pesantren, beliau masih kerap kali menjumpai gurunya dalam mimpi saat beliau dibekap kemusykilan yang dijumpai. Maka poin inilah yang menjadi poin krusial bagi dunia pendidikan bangsa kita.

Baca juga:  Memaknai Keramat dan Istidraj

Gus Baha memberikan tips bagi kita semua tentang tata cara ikhlas dalam menyampaikan pengetahuan. Menurutnya syaratnya cukup mudah, ilmu kalau tidak diajarkan itu disebut kitmanul ‘ilm, alias menyembunyikan ilmu dan itu adalah dosa. Maka pilihan untuk meyampaikan ilmu khususnya pengetahuan agama, minimal ialah agar kita tidak berdosa. Urusan lainnya tentang akan dapat apa, berapa atau entah bakal dipuji atau dicaci tidak perlu dipikirkan. Pertanyaan penting yang patut diajukan ialah siapkah Anda melalui “jalan ninja” seperti ini?

 

Denanyar, 2 Agustus 2020

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top