Sedang Membaca
Matematika Islam (1): Matematika dalam Nazdaman al-Imrithi
Idris Sholeh
Penulis Kolom

Wakil Ketua di Lembaga Dakwah PBNU dan Kepala Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Luhur al Tsaqafah, Jakarta Selatan

Matematika Islam (1): Matematika dalam Nazdaman al-Imrithi

Whatsapp Image 2020 11 10 At 10.09.18 Pm

Bagi masyarakat pesantren, nama kitab Nazham al Imrithi tidak asing lagi. Biasanya para santri selalu membawa kitab tersebut dalam saku baju ke mana ia pergi. Memang dicetak dengan ukuran kecil sehingan mudah dan ringan untuk dibawa-bawa. Namun isinya cukup istimewa karena merupakan kumpulan gubahan bait-bait puisi ber-bahar Rajaz dengan bahasa yang mudah nan indah sekali.

Sengaja disusun oleh penulisnya dengan judul al-Durrah al-Bahiyyah fi Nazdam al-Ajurrumiyah untuk memudahkan proses pembelajaran dan hafalan para santri dalam bidang gramatika bahasa Arab dari kitab al-Ajurrumiyah karya Muhammad bin Ajurrum al Shanhaji. Nama lengkap penulis seperti direkam oleh al-Zirakly dalam kitab al-A’lam, yaitu Syekh Syarafudin Yahya bin Nurudin Musa bin Ramadhan bin ‘Umairah al ‘Imrithi al Syafi’i al Anshari al Azhari. Hidup sekitar abad ke-15 M di distrik ‘Imrith (sekarang Markaz Abu Kabir), wilayah bagian timur Mesir.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beliau merupakan seorang pendidik hebat di al-Azhar, sangat menguasai ilmu bahasa, ushul fikih dan lainnya. Puisi atau Nazham al-Imrithi bidang gramatika bahasa Arab hingga kini, sudah sekitar lima abad masih menjadi rujukan bagi para pelajar. Begitu pula nazam bidang fikih mazhab Syafi’i, yaitu kitab Nihayah al-Tadrib fi Nazhmi Ghayah al-Taqrib dari karya Abu Syuja’ dan bidang ushul fikih, yaitu Tashil al-Thuruqat fi Nazham al-Waraqat menggubah karya Imam al-Haramain menjadi puisi.

Jenis puisi bertemakan pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan, kebanyakan ditulis ber-bahar Rajaz dengan bahasa yang ringkas, jelas, dan tidak keluar dari istilah, serta pemahaman dari bidang ilmu tersebut. Dan pasti tidak menggunakan ungkapan kata yang mengandung al-‘Athifah (emosi), al-Khayal (imajinasi), serta al-Majaz (metafora). Kalaupun ditemukan ungkapan seperti di atas, itu bisa dibilang sedikit. Sangat jauh berbeda dengan puisi yang bertemakan bukan pembelajaran ilmu pengetahuan, karena memang jenis puisi seperti itu diciptakan untuk mempermudah hafalan dan pemahaman bidang ilmu pengetahuan bagi para santri. Contoh selain Nazham al-Imrithi, yang paling terkenal hingga kini adalah puisi (nazham) al-Fiyah Ibnu Malik.

Tradisi Penulisan Puisi Matematika

Dapat kita telusuri dalam literatur Arab, tentang tradisi penulisan berbagai disiplin ilmu pengetahuan berbentuk nazam (puisi). Kemungkinan muncul bersamaan atau paska menjamurnya penulisan ilmiah berbentuk natsar (prosa) seperti matan (teks) berupa inti kajian utama, biasanya ditulis dengan bahasa yang sangat ringkas dan padat dalam beberapa lembar saja. Kemudian Syarah (penjelasan) terhadap teks, biasanya berupa penguraian secara menyeluruh. terakhir Hasyiah (catatan kaki), biasanya berupa ta’liqat dengan tambahan penjelasan yang detail dan terperinci. Belakangan muncul penulisan berupa Taqrirat ‘ala al Hawasyi, atau dalam bahasa kita bisa disebut komentar atas komentar.

Baca juga:  Governing The NU: Kewargaan, Kepentingan, dan Khidmah Ingklusif

Sejak abad ke-10 M, banyak kita jumpai para penulis ilmiah tidak lepas dari lingkaran jenis penulisan berupa Matan, Syarah, Hasyiah dan Taqrirat (empat istilah ini sudah diserap dalam bahasa Indonesia dengan penulisan baik, kecuali taqrirat). Dan yang paling belakang, ada jenis penulisan hanya berisi koleksi pengulangan hasil kajian-kajian terdahulu disebut al Mausu’at, kira-kira seperti ensiklopedia biasanya ditulis sampai berjilid-jilid. Pada tahapan ini, bisa dipastikan tidak ada inovasi baru dan kajian independen dalam tradisi penulisan keilmuan dewasa ini. Hal ini terjadi dalam setiap berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Melihat matan sebagai hilir penulisan ilmu pengatahuan, maka banyak dari para penulis berusaha mengkajinya melalui pendekatan puisi, sebagai jalan pintas untuk dapat menguasai dengan cepat dan mudah dihapal. Meskipun ada beberapa penulis, bersikap keras terhadap model penulisan ilmu pengetahuan dengan pendekatan ini. Mereka menilai, hal itu menjadi penyebab kemunduran dunia literatur. Akan tetapi, hemat saya ini penilaian yang berlebihan. Faktanya, tradisi penulisan ilmu pengetahuan melalui pendekatan puisi mendapat tempat tersendiri di tengah masyarakat pencari ilmu. Sehingga menyebar dalam berbagai bidang seperti Nahwu, Fikih, Ushul Fikih, Qira’at, kedokteran, astronomi, dan lain-lainnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tradisi penulisan berbentuk puisi menjadi tren pada saat itu, termasuk penulisan puisi dalam kajian matematika. Di antaranya –mungkin ini paling terkenal karena banyak sekali yang mengsyarahi– yaitu puisi arjuzah (ber-bahar rajaz) Ibnu Yasamin. Kara tersebut terdiri dari 54 bait, ditulis sekitar awal abad ke-13 M.

Lalu ada Qashidah fi Hisab al-Ashabi’ karya Ibnu al-Husein al-Mushali al-Hanbali pada pertengahan abad ke-13 M. Ada karya berjudul Arjuzah fi al Hisab wa al Misahah yang ditulis oleh Yahya bin Ahmad al Syafi’i, lebih dikenal dengan sebutan al-Dhamiri, hidup sekitar abad ke-13 M.

Tak lupa pada abad ke-15 ada Ibnu al Haim al Mishri  yang menulis al-Muqni’ fi ‘Ilm al-Jabar wa al-Muqabalah. Karya ini terdiri dari 59 bait dengan ber-bahar Thawil, lebih dikenal dengan penyebutan Lamiyah Ibnu al-Haim, dan masih banyak karya-karya ulama lainnya.

Baca juga:  Perundungan dan Empati Digital

Antara Puisi dan Matematika

Sebagian di antara kita mungkin memiliki anggapan antara disiplin matematika dan puisi terpisah bagai ada jurang perbedaan di tengahnya. Matematika hanya berkutat dengan angka-angka dan persamaan. Berbeda dengan puisi berupa kalimat-kalimat yang tertata dengan aturan wazan dan qawafi. Saya kira, itu penilaian dunia modern. Mengapa?

Sebab, pada abad-abad sebelumnya, kita menjumpai tokoh ulama pakar matematika, astronomi, dan kedokteran memiliki kecenderungan mencintai puisi. Bahkan mereka menulis tema-tema keilmuan tersebut dengan puisi. Mereka menilai bahwa untaian kata yang tertata dalam puisi, tidak lain itu hanya persamaan matematis.

Sebuah jurnal Haula Kuliyyah al-Insaniyyat wa al-Ulum al-Ijtima’iyyat yang diterbitkan Qatar University, menerbitkan edisi khusus ke-9 tahun 1984 M, dengan mengangkat tulisan Dr. Jalal Syauqi berjudul “Manzhumat al ‘Ilm al Riyadhi “ (koleksi puisi matematika).

Dalam kajiannya, Syauqi selain banyak mengupas kitab-kitab klasik, berbentuk puisi bertemakan matematika, juga membahas relasi antara puisi dan matematika. Menurutnya, antara matematika dan puisi memiliki persamaan, keduanya sama-sama tunduk pada regulasi pasti.

Memang betul, puisi itu dibangun di atas irama dan aturan-aturan wazan (keseimbangan) yang akurat. Maksudnya, jika kita lagukan dengan menggunakan ketukan, maka baris pertama memiliki jumlah dan tempo ketukan yang sama dengan yang kedua. Begitu pula matematika, tidak akan bisa berdiri tanpa adanya langkah-langkah atau urutan struktur yang logis. Jadi tidak heran, kadang kita menemukan puisi dan keteraturan, wazan dan keseimbangan, persamaan serta harmoni berkumpul di antara berpikir matematis dan ungkapan puitis.

Oleh karena itu, sangat wajar bila kita sering menjumpai seseorang sangat bagus penguasaan terhadap puisi arab sekaligus mumpuni di bidang matematika. Tidak usah terlalu jauh menyebutkan tokoh sekelas Ibnu Yasamin, Abu al-Abbas al-Azdi atau Ibnu al-Haim. Pernah saya jumpai dari salah satu teman pengajar di lingkungan pondok pesantren Luhur al Tsaqafah Jakarta lumayan mumpuni dalam dua disiplin ilmu ini.

Sekilas tentang Kitab al Mujma’ fi Nazham al Luma’

Ternyata, Syekh Syarafudin Yahya al-Imrithi tidak hanya memiliki kepiawaian dalam menggubah puisi bertemakan kajian gramatikal bahasa Arab, fikih dan ushul fikih saja.  Namun, menyusun juga puisi dalam kajian matematika. Beliau mempuisikan kitab Risalah al-Luma’ fil Hisab karya seorang pakar matematika abad ke-14 M, yaitu Ibnu al-Haim dengan judul al-Mujma’ fi Nazham al-Luma’. Mungkin di antara kita tidak begitu banyak mengetahui informasi ini.

Baca juga:  Kisah Guru Ngaji dan Mubalig Sakit Gigi

Ibnu al-Haim ini, merupakan salah satu guru dari al-Hafizd Ibnu Hajar al-‘Atsqalani dalam bidang faraid dan matematika. Beliau memiliki nama lengkap Abu Abbas Syihabudin Ahmad bin Muhammad bin Imaduddin bin Ali, kelahiran Mesir tahun 1352 M, meninggal dunia di Qudus Palestina pada tahun 1412 M.

Di antara karya beliau adalah al-Hawi fi ‘Ilm al-Hisab. Karya ini syarah atas kitab Talkhish A’mal al-hisab milik Ibnu al-Banna, Mursyid al-Thalib ila Asna al-Mathalib, Syarh al-Arjuzah li Ibn al-Yasamin, al-Wasilah fi ‘Ilm al-Hisab berupa ringkasan, al-Muqni’ fi al-Jabr wa al-Muqabalah berupa puisi ber-bahar rajaz, al-Mumti’ fi Syarh al-Muqni’ berupa komantar atas kitabnya sendiri, dan terakhir Risalah al-Luma’ fi al-Hisab.

Karya puisi matematika al-Imrithi yang ia gubah dari kitab Risalah al Luma’, ini masih berbentuk manuskrip. Naskah aslinya ditemukan cuma satu-satunya di dunia, tersimpan di museum Britania di London bernomer 420 (3), kemudian disalin pada tahun 1732 M.

Puisi matematika ini berjumlah sekitar 513 bait, pembukaan puisi seperti dibawah ini:

 

بسم الله الرّحمن الرّحيم وبه نستعين

قال الفقير الشرف العمريطي *** ذو العجز والتقصير والتفريط

الحمـــــــــــــــــد لله الذي قد يسّـــــــــــــــرا *** لنا الحساب والسحاب سيّـــرا

ثم الصّـــــــــــــــــــــــلاة مع ســـــــــــــــــــلام تالي *** على النـــــــــــــــــــبيّ وصحبــــــــــــه والآل

وبعــــــــــــد فاعــــــــــــلم أن الحســــــــــــــــــاب *** مزيّــــــــة لـــــــــــــــــدى أولى الألبـــــــــــــــــــاب

وكل شخص جاهــــل به احتقـــر *** إذ كل علم للحســــاب يفتقـــــر

وكل علــــــــــــــــــــوم منـــــــــه مستــــــــــــــــفادة *** وذلك علم الأزكياء الســـــــــــادة

من كل حبــــــــــــــــــــــر جهبذ نقـــــــــــــــــــــــــــــاد *** يستنبـــــــــــط الأعمـــــــــــــــــال باجتهاد

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

فأهلــــــه نحـــــــــو الإمــــــــــــــام العــــــــــــــــالم *** بحر العلوم أحمد ابن الهائم

أجــــــــــــــــــــل مـــــــــــــن في فنه تصرفـــــــــــــــا *** وخيـــــــــــر من لكتبه قد تصنفـــــــــــا

وخيـــــــــــــر كتبه الصغيـــــرة اللــــــــــمع *** لكثــــــــــــــــرة العلــــــــــــم الذي به جمع

مع ما تراه من لطيف حجمــــــه *** وقد سئــــــلت مــــــــــــــــــدة في نظمــــــــه

فلــــــم أجــــب لما بـــــــــــــه أفكـــــــــــــــــــــــــــاري *** مشغــولــــــة من كثـــــــــــــــــرة الأعذار

ثم أجبــــــــــــــــــــــــت راجــــــــــــي الثـــــــــــــــــــــــــــواب *** والنفع في الدارين بالكتـــــــاب

وربنا المســــــــــــــــــــــؤل في التوفيــــــــــــــــــــــق *** والأجر والإخــــلاص والتحقيـــــق

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top