Sedang Membaca
Asal Usul Syair Maulaya Shalli dan Ya Rabbi bil Musthafa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Asal Usul Syair Maulaya Shalli dan Ya Rabbi bil Musthafa

Mohammad-Nasif

Seringkali dalam berdzikir maupun melantunkan maulid kita mendengar syair maulaya shalli wasallim serta ya rabbi bil musthafa. Di beberapa daerah di Indonesia, dua syair ini juga cukup sering dibaca tatkala usai salat Jum’at atau menjelang berakhirnya hajatan kenduren. Ada juga yang membacanya sebagai pujian menunggu jamaah dimulai.

Namun jarang ada yang mengetahui siapa penyusun dua bait syair tersebut. Bahkan ada yang mengira bahwa dua bait tersebut adalah bagian dari maulid Burdah karya al-Bushiri, lantaran sering dibaca saat melantunkan maulid Burdah.

‘Utsman ibn Umar dalam at-Tuhfah fi Mahasini Burdah menyatakan bahwa berdasar kebanyakan naskah qasidah Burdah yang sahih, jumlah bait qasidah Burdah ada 160 bait. Bait pertama adalah amin tadzakuri jiranum bi dzi salami, dan bait terakhir adalah ma rannahat ‘adzbatil bani rihu shaba waathrabal ‘isa hadil ‘isi bin naghami. Burdah memang tidak diawali dengan pujian kepada Allah dan solawat kepada Nabi, layaknya karya-karya ulama’ lainnya.

Namun, banyak ulama’ yang kemudian memberi tambahan beberapa bait untuk mengiringi Burdah. Di antaranya adalah satu bait sebelum bait amin tadzakuri. Bait tersebut berbunyi:

اَلْحَمْدُ للهِ مُنْشِي الْخَلْقِ مِنْ عَدَمِ – ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَي الْمُخْتَارِ فِي الْقِدَمِ

Segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk dari ketiadaan # dan solawat semoga tercurah pada sosok terpilih di zaman terdahulu

Baca juga:  Wakaf Sebagai Jalan Reforma Agraria (1/3)

Beberapa tambahan syair atas qasidah Burdah yang masyhur dibaca di Indonesia adalah bait:

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا اَبَدًا # عَلَي حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ

Ya Allah, semoga solawat serta salam tercurah selamanya pada Kekasih-Mu, sosok paling mulia dari seluruh makhluk

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَي بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا # وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Ya Allah, demi kemuliaan Nabi Muhammad yang terpilih, kabulkanlah hajat kami. Dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Tuhan yang luas kemuliaannya

Baca Juga

‘Athiyah Musthofa dalam kata sambutannya di kitab az-Zubdah ar-Raiqah karya Ibn Hajar al-Haitami menuturkan bahwa dua bait tambahan yang cukup dikenal di Indonesia tersebut disusun sendiri oleh al-Bushiri. Latar belakang penyusunan bait ini, berdasar penuturan para ulama’, adalah saat al-Bushiri menyusun Burdah, ia bermimpi bertemu Rasulullah. Al-Bushiri pun membaca Qasidah Burdah di hadapan beliau. Rasulullah tampak kagum. Namun saat sampai pada bait فمبلغ العلم فيه انه بشر (famablaghul ‘ilmi fiihi annahu basyarun), al-Bushiri tidak mampu melanjutkannya.

Rasulullah kemudian berkata: “Ucapkan: وانه خير خلق الله كلهم. (Wa annahu khairu khalqi kullihimi).

Al-Bushiri pun menambahkan separuh bait ini pada bait yang tak bisa ia selesaikan. Ia juga menyusun separuh bait lagi untuk disandingkan dengan separuh bait dari Rasulullah, agar ia dapat mengulang-ulangnya setelah membaca satu bait.

Baca juga:  Strategi Dakwah Rasulullah Saw Ketika Berada Di Madinah

Maka sejarah penyusunan bait tersebut dilatar belakangi bentuk tabarruk atau harapan meluapnya berkah dari al-Bushiri pada separuh terakhir bait, yang tak lain diperoleh dari Kanjeng Nabi Muhammad sendiri. Dan agar lidah pembaca tak hanya merasakan separuh syair tersebut di tiap sekali membaca Burdah, al-Bushiri menyusun separuh syair lain yang digunakan untuk dibaca berulang-ulang saat selesai membaca beberapa bait maulid Burdah.

Dari uraian di atas sudah selayaknya kita ikut menghayati dan mencicipi kerinduan al-Bushiri pada tiap hal yang terkait dengan Rasulullah. Dengan senantiasa mengingat bahwa ada separuh bait yang disusun langsung oleh Rasulullah dalam dua bait tambahan di atas. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari