Sedang Membaca
Tradisi Ayun-Temayun, dari Permaianan, Dakwah hingga Kebercayaan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Tradisi Ayun-Temayun, dari Permaianan, Dakwah hingga Kebercayaan

Muhammad Ishom
Tak Ada Mauludan tanpa Baayun Maulud di Banjarmasin 1

Secara bahasa ayun berarti bergerak ke depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri secara teratur. Dari model gerakan ini, kata ayun diidentikkan dengan kegiatan menyenangkan untuk menurunkan tensi pikiran seperti bergoyang, berjoget, berayun dan berbuai-buai, serta ditimang-timang. Makanya bukan saja anak kecil yang suka diayun, namun orang dewasa pun senang bermain ayunan.

Manusia dalam segala umur senang duduk dan tidur di ayunan sebab teruji klinis mampu menenangkan pikiran. Menariknya lagi sinyal otak manusia sewaktu diayun ternyata masih aktif walaupun kelihatan terlelap. Hal ini berbeda dengan posisi rileks manusia di tempat biasa, sekalipun berbaring di tas kasur maupun di pinggir pantai sekalipun.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di Indonesia terdapat banyak macam jenis ayunan. Antara lain keranjang ayun, kain ayun, tali ayun, kursi ayun (kursi goyang), hammock (tempat tidur gantung), per ayun, kayu ayun, dan sebagainya. Apakah hal ini menandakan bahwa bangsa Indonesia tergolong bangsa yang suka santai?

Banyaknya jenis ayunan yang dikenal bangsa Indonesia tidak berarti menunjukkan bangsa ini senang bersantai-santai. Ayun-temayun oleh masyarakat tidak sekedar dianggap permaian, tetapi juga kepercayaan, atau kita sebut dengan spiritualitas ayunan. Hal ini seperti dalam tradisi Ayun Pengantin di Cilegon Banten, Tari Golek Ayun-ayun di Yogyakarta serta Tradisi Baayun di Banjarmasin Kalimantan Selatan

Baca juga:  Warisan Budaya: Dari Gerimpheng Aceh Hingga Ndambu Papua

Pertama, tradisi ayun penganten, khususnya di kecamatan Anyer Kota Cilegon Banten. Masyarakat setempat biasa menggelar ritual ayun penganten sebelum akad nikah, jika acara akad nikah dan resepsi digelar di bulan Safar.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat bulan Safar adalah bulan turunnya sial, marabahaya, dan sasapareun. Supaya tidak terjadi apa-apa dalam berumah tangga maka pengantin diayun-ayun terlebih dulu oleh seorang spiritualis ahli ayun.

Penganten yang kelahirannya di bulan Syawal juga diadakan ayun-temayun untuk menghilangkan sial. Masyarakat setempat menghitung mundur waktu sembilan bulan dari Syawal yang ketemunya bulan Safar saat pertama ibu pengantin itu mengandung. Tujuannya agar rumah tangga pengantin itu sakinah, mawaddah dan rahmah.

Adapun perlengakapan tradisi ayun penganten adalah: sepotong kayu nangka, bambu penyangga, uang kuno (ringgit), sapu lidi, tali tambang, piring beling kuno, beras sekarung, ayam kampung berikut 1 telur, sarung, dan satu setengah meter kain putih. Pada saat penganten diayun diiringi dengan pembacaan kidung salawat Nabi.

Kedua, Tari golek ayun-ayun merupakan tarian yang menggambarkan seorang gadis yang beranjak dewasa yang suka berdandan. “Golek” merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang berarti mencari.

Dalam konteks Beksan Golek, mencari merupakan usaha menemukan jatidiri menuju alam kedewasaan, tidak terkecuali Golek Ayun-ayun. Semula tari golek ayun-ayun diperagakan seorang gadis tapi sekarang dilakukan kelompok untuk menyambut tamu-tamu yang datang dalam acara perhelatan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Tahlilan di Negeri Khabib Nurmugamedov

Ketiga,Tradisi Baayun atau ayun-temayun yang digelar di halaman Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin Kalimantan Selatan pada tiap tanggal 12 Rabiul Awwal (Mulud). Pada pelaksanaan tradisi ini, dari bayi hingga dewasa turut berpartisipasi dengan cara diayun memakai ayunan khusus.

Ayunannya dihiasi berbagai macam benda yang dalam tradisi orang Banjar memiliki makna-makna dan harapan tertentu bagi yang diayun. Misalnya, janur bernama ular lidi yang diletakkan di bagian atas ayunan, bermakna kebersihan. Diharapkan, orang yang diayun akan selalu senang dengan kebersihan.

Dengan demikian masyarakat Indonesia mengenal ayun-temayun, bukan sekedar permainan akan tetapi pemaknaan filsafat kehidupan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top