Kisah Selendang: Selempang Enak Dipandang

Muhammad Ishom

Selendang atau “sala” diidentikkan dengan aksesoris busana perempuan. Identifikasi ini berjalan seiring dengan peralihan peradaban Syiwaism menjadi Brahmanism. Secara unik negeri ini mulanya menganut Syiwaism yang mengedepankan aspek matrenial sebagai simbol kasih sayang. Kepercayaan seputar Dewi Sri, Nyi Subang Larang, Dayang kampung, dan lain-lain adalah bukti kejayaan Syiwaism sebelum era Brahmanism.

Di era Syiwaism, lelaki dan perempuan sama-sama mengenakan “sala” yang diselipkan dalam ikat pinggang sebagai alas duduk serta diselempangkan di atas pundak saat berdiri dan berjalan.

Namun setelah kejayaan peradaban Syiwaism memudar digantikan peradaban Brahmanism — pada saat terjadi peralihan kekuasaan Singosari ke Majapahit, berangsur-angsur merubah image “sala”.

Era Brahmanism yang lebih mencirikan peradaban patrenial ikut berperan dalam pengedentikan “sala” pada perempuan. Semula “sala” merupakan alas duduk yang berfungsi seperti permadani dan satir ruangan pertapaan. Sama halnya syal (kerudung, phasmina, jilbab) yang semula berfungsi sebagai alas tempat duduk para rahib dalam tradisi Yahudi kuno.

Dalam bahasa Sansekerta selendang disebut “sala” yang bermakna alas dan ruang. Oleh para pertapa, “sala” lalu dipakaikan kepada istri, anak dan perempuan pertapa lainnya. Perempuan di era Brahmanism diperlakukan sebagai wongkang ditoto (wanita) alias pihak yang ditata.

Selain itu, “sala” juga diselempangkan mengelilingi ruang khusus kaum perempuan untuk memperindah kamar mereka.

Baca juga:  Tren Identitas Syar’i dan Budaya Pop

Dalam bahasa Jawa kuno, istri pertapa dan perempuan pertapa disebut “endang”. Dari sejak itulah “sala” yang telah digunakan para pertapa untuk menata wanita pertapa (endang) berubah penyebutannya menjadi “selendang” (sala dan endang). Sedangkan “sala” yang dikenakan para pertapa dan kaum lelaki lainnya disebut “stola” dengan tetap mempertahankan ciri warna putihnya, khususnya bagi pertapa.

Secara umum yang membedakan antara stola dengan selendang adalah warna jaritnya. Selendang beraneka warna dan motifnya mencerminkan status sosial perempuan pemakainya. Perempuan dari golongan atas biasa memakai selendang dari bahan yang halus, sedangkan perempuan biasa menggunakan selendang jenis bahan kasar.

Selendang dengan bahan kasar memiliki multifungsi mulai dari penutup leher dan dada sampai fungsi gendongan. Sementara selendang berbahan jarit halus berfungsi sebagai aksesoris penutup leher dan dada untuk mempercantik kepribadian perempuan. Termasuk pula untuk memperindah gerak gemulai penari.

Baca Juga

Selendang dari berbahan kain halus khususnya sutra didatangkan dari China. Jalur perdagangan Nusantara yang sudah ramai ikut andil dalam peredaran selendang sutra. Harganya yang mahal tak ayal menarik orang untuk memilikinya. Terlebih lagi dengan berbahan sutra, selendang yang diselempangkan pemakainya menambah elok dipandang mata.

Cerita tentang selendang sakti seperti milik Diah Pitaloka yang mampu menaklukkan kedigdayaan para pria mandraguna termasuk menjadi bumbu sejarah peredaran selendang import di masanya. Dari alur cerita selendang sakti dapat dipahami, bahwa tidak semua perempuan mampu memilikinya sebab hanya golongan tertentu saja yang punya.

Baca juga:  Ulama Rusia Dukung Kazan International Muslim Film Festival

Para pria mandraguna ingin memperistri perempuan berkalung selendang sutra. Mereka pun berebut dengan cara menjajal kesaktian masing-masing untuk menentukan siapa yang lebih berhak bersanding dengan perempuan pemilik selendang sutra. Secara otomatis karena proses seleksi ini pemilik selendang sutra ikut terangkat, hingga dikenal sebagai pemilik selendang sakti.

Padahal bukan sakti selendangnya, melainkan selempang yang dikenakan perempuan menambah elok pandangan mata. Oleh karena itu sebaiknya kita budayakan kembali perempuan berselempang selendang.

Lihat Komentar (0)

Komentari