Sedang Membaca
Ibnu Khordadbeh, Ahli Geografi Arab Pertama
Penulis Kolom

Peminat literatur Islam klasik dan studi pesantren

Ibnu Khordadbeh, Ahli Geografi Arab Pertama

Ibnu Khordadbeh merupakan salah satu ahli geografi dan sejarawan ternama dan mungkin bisa dikatakan terawal di masa dinasti Abbasiyah. Karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi para sejarawan setelahnya. Siapakah Ibnu Khordadbeh, sang penulis 8 kitab penting ini?

Ignatij J. Kratchkovsky dalam Istoria Arabskoi Geograficheskoi Literatury mengatakan bahwa sebenarnya klaim Ibnu Khordadbeh sebagai penulis Arab terawal geografi tidak seratus persen diterima. Mengapa?

Sebab, terdapat beberapa karya lain yang serupa dengan Al-Masalik wal Mamalik yang telah ditulis sebelumnya. Hanya saja karya Ibnu Khordadbeh tidak seperti karya para pendahulunya di mana karyanya bukan saja terkenal melainkan juga dikutip oleh para penulis setelahnya.

Pada titik ini, Ignatij J. Kratchkovsky mengatakan bahwa karya Ibnu Khordadbeh adalah karya pertama yang ulasannya tentang sejarah bangsa-bangsa cukup lengkap dan bisa kita baca hingga hari ini.

Fuat Sezgin dalam Geschichte des Arabischen Schrifttums menginformasikan bahwa awal mula penulisan karya sejarah kota-kota dan bangsa-bangsa dalam sejarah Islam memiliki keterkaitan dengan sejarah penaklukan yang dilakukan mereka. Oleh karena itu, menurut Sezgin, kerja intelektual ini telah dilakukan sejak masa-masa awal Islam.

Masih menurut Sezgin, terdapat beberapa riwayat yang menginformasikan bahwa Sayyidina Umar bin Khattab memiliki perhatian yang cukup besar dalam ilmu sejarah dan geografi.

Fuat Sezgin mencatat setidaknya terdapat lima penulis sejarah kota-kota paling awal di masa Bani Umayyah, yaitu, Abu Qabil Huyay bin Hani’ al-Ma’afiri al-Mashri, Yazid bin Abu Habib, Al-Harits bin Yazid al-Hadrami, Ubaidillah bin Abu Jakfar, dan ‘Amr bin Al-Harits.

Meski sedemikian penting dan berpengaruhnya karya Ibnu Khordadbeh bagi ilmu geogrrafi dan sejarah ini saya masih belum menemukan alasan Fuat Sezgin tidak mengulas para penulis sejarah petualangan (rihlah) yang ditulis oleh para sarjana muslim. Padahal kita ketahui bersama, Sezgin dengan karya monumentalnya berjudul Geschichte des Arabischen Schrifttums merupakan sarjana yang telah menganotasi karya-karya sarjana Islam dari abad pertama hingga keempat Hijriah. Karya Sezgin merupakan karya terlengkap. Tapi kenapa dia tidak memberikan ruang atas capaian para ahli geografi Arab?

Baca juga:  Gus Dur dan Teknologi di Era Milenial
Peta Mediterania

Sekilas Tentang Ibnu Khordadbeh dan Karyanya
Nama lengkapnya adalah Abul Qasim Ubaidillah bin Abdullah Ibnu Khordadbeh. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai tahun kelahiran dan juga wafatnya penulis kitab al-Masalik wal Mamalik ini. Ia diperkirakan lahir pada tahun 205 H atau 211 H. Ia lahir di kota Khurasan dari keluarga Persia penganut agama Zoroaster.

Ayahnya, Abdullah, mengirimkan putranya ke Baghdad untuk mengenyam pendidikan di sana. Ayahnya sangat menghendaki putranya untuk belajar sains dan seni musik secara intens di hadapan ahli musik ternama di masanya, Ishaq al-Mawshili (w. 850 M).

Profesi sehari-harinya Ibnu Khordadbeh adalahadirektur umum pos dan berita di Baghdad. Sebagaimana diduga oleh Ignati J. Kratchkovsky, profesinya inilah yang menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk menuis karya dalam bidang geografi selain juga sekaligus mengabulkan permintaan khalifah Abbasiyah.

Ibnu Nadhim dalam al-Fihrisat mencatat karya Ibnu Khordadbih sekitar delapan karya yang sebagian besarnya belum ditemukan hingga sekarang. Kitab-kitab tersebut adalah:

1. al-Masalik wal Mamalik,

2. Al-Adab wa as-Sima’, (Etika Mendengar)

3. At-Thabikh, (kuliner)

4. Al-Lahw wa al-Malahi, (canda dan permainan)

5. Asy-Syarab, (minuman)

6. An-Anwa’, (astronimu)

7. An-Nadam wa al-Julasa’, (sahabat dan teman duduk)

8. Kitab Jamharah ansab al-Fars wa an-Nawafil. (geneologi bangsa persia)

Dari kesemua karyan tersebut, hanya Al-Masalik wa al-Mamalik (di dunia Barat dikenal dengan nama Book of Routes and Kingdoms) dan sebagian dari al-Lahw wa al-Malahi ditemukan.

Baca juga:  Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Dideportasi dari Haramain

Pengaruh Ibnu Khordadbeh terhadap para sejarawan dan ahli geografi yang datang setelahnya sangat besar. Di antaranya al-Ya’qubi, Ibnu al-Faqih, Ibnu Rustah, Ibnu Hawqal, al-Maqdisi, A-Usthukhri, dan juga al-Mas’udi. Dalam pengantar kitab al-Masalik ini, ia menjelaskan:

Ini adalah sebuah karya yang mengulas tentang sifat-sifat bumi, bentuk-bentuknya, arah kiblat bagi bangsa-bangsa, dan raja-raja serta perjalanan mengelilingi dunia. Ditulis oleh Abul Qasim Ubaidillah ibnu Abdillah ibnu Khardadbeh. Abul Qasim berkata bahwa sifat dan bentuk bumi itu bulat ibarat bola.

Kitab al-Masalik wal Mamalik ini sekurangnya terbagi ke dalam tujuh pembahasan. Bagian pertama menjelaskan tentang astronomi yang berkaitan dengan bumi dan alam semesta, yang di mana pembahasan ini terinspirasi oleh Plotemous. Kedua tentang sensus geografis daerah bagian Baghdad sebagai pusat dunia (Islam).

Bab ketiga hingga keenam menulis tentang daerah-daerah di wilayah Timur seperti Persia, India dan Cina. Kemudian bagian Barat yang meliputi Suriah, Mesir, Maroko, Mesopotamia, dan Byzantium.

Sedangkan di bab terakhir, bab ketujuh, ia memberikan informasi secara umum tentang pembagian wilayah-wilayah di dunia, keajaiban-keajaiban yang ada di dunia baik alam maupun manusia-manusianya. Saat menguraikan tentang arah kiblat bagi daerah-daerah di belahan dunia ia berkata:

Arah kiblat bagi bagsa Armenia, Azerbaijan, Baghdad, Kufah, Bashrah, Dinawar, Nahawan, Isfahan, Rayy, Khurasan, Qishmir Hind adalah menghadap ke kutub utara ke kiri. Sementara negeri Turki, Cina, Al-Manshurah membelakangi bagian tengah arah timur dengan delapan bagian dekat hajar aswad. Arah kiblatnya orang-orang Yaman menghadap ke Rukun Yamani dan wajahnya menghadap arah Armenia. Dan kiblatnya orang-orang Magribi, Afrika, Mesir, Syam, maka menghadap rukum Syami.

Tema paling penting yang diulas kitab ini adalah tentang penjelasan deskriptifnya atas bangsa-bangsa di dunia dari Baghdad hingga Asia Tengah dan juga Kawasan Samudera Hindia. Selain itu, ia juga mengulas tentang perjalanan di lautan dan binatang yang ada di dalamnya, terutama yang membentang antara Cina dan India.

Baca juga:  Bagaimana Respon Masyarakat Madinah Terhadap Dakwah Rasulullah Saw?

Dalam kaitannya dengan informasi yang kemungkinan besar daerah Nusantara, ia mengulas tentang kapur, gajah, dan tentang agama Budha yang dianut oleh raja Jawa (Ignati J. Kratchkovsky, 1957: Vol. I 157) Dalam mengilustrasikan Nusantara ia mengatakan:

Di Pegunungan Dzabaj terdapat kapur. Negeri ini memiliki keajaiban-keajaiban yang tak terbatas jumlahnya, yaitu sebuah negeri di bagian Timur Jauh India. Ia juga menjelaskan nama-nama panggilan raja yang berbeda-beda antara satu negeri dengan lainnya. Raja Irak disebut Kisra, Raja Romawi Kisra, Raja di Dzabaj disebut dengan Maharaja.

Sumber Bacaan:
1. Fuat Sezgin dalam Geschichte des Arabischen Schrifttums diarabkan oleh Mahmud Fahmi Hijazi dengan judul Tarikh at-Turats al-Arabi (Riyadh, 1991)
2. Ibnu Khordadbeh, Al-Masalik wa al-Mamalik (Brill: Leiden, 1881)
3. Ignatij J. Kratchkovsky dalam Istoria Arabskoi Geograficheskoi Literatury diarabkan oleh Salahuddin Utsman Hasyim berjudul Tarikh al-Adab al-Jugrafi al-‘Arabi (Kairo: Jamiah ad-Duwal al-‘Arabiyyah, tt)
4. Ibnu Nadhim, al-Fihrisat (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah , 1988)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top