Sedang Membaca
Qiraah Sab’ah 3: Metode Para Imam Meriwayatkan Bacaan Al-Qur’an
Penulis Kolom

Lahir 15 Agustus 1996. Pendidikan: alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Lirboyo, Kediri. Sedang menempuh S1 Jurusan Ushuluddin Univ. Al Azhar al Syarif, Kairo, Mesir. Asal Pesantren An Nur I, Bululawang, Malang, Jawa Timur.

Qiraah Sab’ah 3: Metode Para Imam Meriwayatkan Bacaan Al-Qur’an

D52edc73 8159 4b10 88dd B63ca35cf16d

Qiraah tujuh yang dikenal sekarang memilik sanad Al-Qur’an yang bersambung dengan bacaan Rasulullah Saw. Seluruh qiraah tujuh juga mengambil sanad dari pembesar tabi’in dan sahabat yang ada di zamannya.

Imam Nafi’ mengambil sanad bacaan Al-Qur’an kepada tujuh puluh tabi’in yang ada di zamannya. Diantara guru-guru imam Nafi’ adalah Abu Ja’far, Abdurrahman bin Hurmuz, Muslim bin Jundub, Muhammad bin Muslim az-Zuhri, Sholih bin Khawwat, Syaibah bin Nishah, dan Yazid bin Ruman. Guru-guru imam Nafi’ mengambil sanad bacaan Al-Qur’an dari shahabat Umar bin Khattab, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab.

Imam Ibnu Katsir mengambil sanad bacaan Al-Qur’an kepada Mujahid bin Jabr, Abdullah bin Saib dan Darbas. Guru-guru imam Ibnu Katsir bersumber dari bacaan Al-Qur’an shahabat Ubay bin Ka’ab, Umar bin Khattab, dan Zaid bin Tsabit.

Imam Abu Amr al-Bashri mengambil sanad bacaan Al-Qur’an kepada Said bin Jabr, Ikrimah, Atha’ bin Rabbah, Ibnu Katsir, Abu Ja’far, Yazid bin Ruman, Syaibah bin Nishah, Abu Aliyah, al-Hasan al-Bashri, Nashr bib Ashim, Abdullah bin Ishaq, Yahya bin Ya’mur, Ashim bin Abi Najud, Humaid bin Qais. Guru-guru imam Abu Amr al-Bashri mengambil sanad bacaan Al-Qur’an dari shahabat Ubay bin Ka’ab, Ali bin Thalib, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari.

Imam Ibnu Amir mengambil sanad bacaan Al-Qur’an kepada tiga shahabat yaitu Watsilah bin al-Asqa’, Fadhalah bin Ubaid, dan Abu Darda’. Selain itu, imam Ibnu Amir juga mengambil sanad kepada pembesar tabi’in yang bernama al-Mughirah bin Abi Syihab.

Imam Ashim bin Abi Najud mengambil sanad Al-Qur’an kepada Zer bin Hubaisy, Abu Sa’ad bin Iyash dan Abdullah bin Hubaib as-Sulami. Ketiga guru Ashim bin Najud ini mengambil sanad bacaan Al-Qur’an kepada Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit.

Baca juga:  Amin al-Khuli: Mufasir Penggagas Lahirnya Tafsir Sastrawi atas Al-Qur'an 

Imam Hamzah az-Zayyat mengambil sanad Al-Qur’an kepada Sulaiman al-‘Asya, Thalhah bin Mashrif, Abu Ishaq as-Sabi’i, Ibnu Abi Laila, Humran bin A’yun, dan Ja’far ash-Shadiq. Seluruh sanad bacaan Al-Qur’an guru imam Hamzah bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Imam Ali al-Kisai mengambil sanad Al-Qur’an kepada Hamzah az-Zayyat, Isa bin Umar al-Hamdani, Muhammad bin Sahl, Ibnu Abi Laila, Abu Bakar bin Iyash, Isma’il bin Ja’far, Sulaiman al-‘Asya, dan Ashim bin Abi Najud. Seluruh guru imam Ali al-Kisai memiliki sambung menyambung sanadnya dengan imam qiraah yang disebutkan sebelumnya, contoh Abu Bakar bin Iyash adalah murid imam Ashim bin Abi Najud, Isma’il bin Ja’far adalah murid dari imam Nafi’,  Isa bin Umar al-Hamdani adalah murid dari Abu Amr al-Bashri.

Seluruh sanad Al-Qur’an para pendiri qiraah sab’ah bersambung dengan bacaan Rasulullah Saw dengan sanad yang berbeda-beda. Uniknya, seluruh pendiri qiraah sab’ah kecuali Ibnu Amir bersumber sanadnya dari sahabat Ubay bin Ka’ab.

Metode yang digunakan oleh para pendiri tujuah qiraah ini adalah mengambil bacaan Al-Qur’an yang masyhur digunakan oleh guru-guru mereka. Tentu hal ini berbeda dengan metode mujtahid bidang fiqh.

Perbedaannya adalah mujtahid ilmu fiqh memilih pendapat yang paling tepat menurutnya serta meninggalkan pendapat yang kurang tepat menurutnya. Misalnya saja Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan Imam Malik sebagai gurunya. Karena pendapat yang paling tepat menurut Imam Syafi’i berbeda dengan pendapat yang paling tepat menurut Imam Malik.

Sedangkan para pendiri qiraah sabah memilih dan memilah bacaan yang paling masyhur dipakai oleh guru-gurunya. Seluruh guru-guru para pendiri qiraah sabah bersambung sanad bacaannya dengan Rasulullah. Karena itu, para pendiri qiraah sab’ah hanya memilih diantara seluruh bacaan bersanad hingga Rasulullah Saw.

Baca juga:  Tuna-Makna Derita Manusia

Misalnya, imam Nafi’ yang mengambil bacaan Al-Qur’an dari Abu Ja’far tapi juga menggabungkannya dengan bacaan yang banyak dipakai oleh guru-gurunya yang lain. Karena itulah qiraah imam Nafi’ berbeda dengah qiraah imam Abu Ja’far. Begitu juga, imam Ali al-Kisai yang mengambil bacaan Al-Qur’an dari imam Hamzah az-Zayyat tapi juga menggabungkannya dengan bacaan yang banyak dipakai oleh guru-gurunya yang lain.

Dalam hal ini, kota Kuffah adalah kota yang paling banyak menghiasi sejarah ilmu qiraah Al-Qur’an. Tercatat tiga dari tujuh imam qiraah sab’ah berasal dari kota Kuffah. Ketiganya adalah Imam Ashim bin Abi Najud, Imam Hamzah az Zayyat, dan Imam Ali al-Kisai.

Mengapa demikian? Tentu karena adanya tokoh sahabat bernama Abdullah bin Mas’ud yang dikirim oleh khalifah Umar bin Khattab untuk menetap di kota Kuffah. Abdullah bin Mas’ud adalah tokoh besar yang mengajarkan penduduk kota saat itu. Hingga pada saatnya nanti shahabat Ali bin Abi Thalib juga menetap dan mengatur kepemerintahannya di kota Kuffah. Tentunya, khalifah Ali bin Abi Thalib melihat kota Kuffah sebagai kota yang sangat tepat sebagai pusat pemerintahan.

Suatu ketika di saat awal kedatangannya di kota Kuffah, Ali bin Abi Thalib menyanjung Abdullah bin Mas’ud, “Semoga Allah merahmatimu wahai Ibnu Ummi Ma’bad (julukan Abdullah bin Mas’ud), engkau telah menjadikan kota ini penuh dengan ilmu.”

Al-Ijli mencatat di masa sahabat, kota Kuffah adalah rumah bagi 1500 shahabat Nabi. Tak hanya itu, 70 sahabat dari mereka adalah para mantan prajurit perang Badar. Tentu saja dengan banyaknya sahabat yang menetap di kota Kuffah semakin banyak lah ilmu yang mereka ajarkan dari Rasulullah saw. Tak terkecuali ilmu qiraah Al-Qur’an dan riwayat hadis.

Tak jauh dari kota Kuffah, kita juga melihat kota Bashrah sebagai kota terpenting dalan penyebaran ilmu qiraah Al-Qur’an. Kota Bashrah adalah tempat menetapnya Abu Amr al-Bashri, salah satu dari pendiri qiraah sab’ah.

Baca juga:  Bukti-bukti Ilmiah Mengapa Kerusakan Alam Bisa Terjadi?

Keharuman kota Kuffah dan kota Bashrah sebagai pusat pengajaran Al-Qur’an semakin semerbak. Kita tahu Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab yang paling fasih. Tentu mendalami qiraah Al-Qur’an juga dituntut untuk memahami bahasa arab yang sangat indah. Tak mungkin bagi seorang ulama untuk mendalami ilmu qiraah Al-Qur’an tanpa memiliki kecakapan dalam berbahasa arab yang fasih.

Kota Kuffah dan kota Bashrah, di dua kota inilah ilmu nahwu sharaf pengalami masa kejayaan. Tercatat Imam Ali al-Kisa’i di kota Kuffah dan Imam Syibawaih di kota Bashrah adalah dua panutan besar dalam ilmu nahwu sharaf hingga kini.

Menurut Muhammad bin Zahid al-Kautsari dalam kitab Fiqh Ahli Iraq, kota Kuffah dan kota Bashrah memiliki peran penting dalam menjaga bahasa arab yang fasih. Hal ini terjadi, karena kedua kota ini sangat menjaga gramatika bahasa arab dalam bahasa sehari-hari. Tentu kondisi dua kota yang dikelilingi oleh banyak suku nomaden bangsa Arab adalah faktor pendukungnya.

Berbeda dengan bangsa arab di negeri Mesir yang mengalami akulturasi budaya dan bahasa dengan bangsa Koptik. Begitu juga bangsa Arab di kota Mekkah dan kota Madinah yang mengalami akulturasi budaya dan bahasa dengan para jemaah haji dari berbagai penjuru dunia yang memilih menetap di sana. Begitu juga bangsa Arab di negeri Syiria yang mengalami akulturasi budaya dan bahasa dengan bangsa Romawi yang menetap di sana. (RM)

Referensi:

Kitab Tarajum al-Qurra’ al ‘Asyr wa Ruwwatuhum al Masyhurin karya Dr. Thaha Fares.
Kitab Fiqh Ahli Iraq karya Muhammad Zahid al Kautsari.
Kitab as-Suyuf as-Sahiqah li Munkar al-Qiroat min az-Zanadiqah karya Muhammad bin Ali bin Kholaf al Husaini.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top