Sedang Membaca
Kalah Perang, Penguasa Mesir Sempat Salahkan Kitab Shahih Bukhari
M. Tholhah Alfayad
Penulis Kolom

Lahir 15 Agustus 1996. Pendidikan: alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin, Lirboyo, Kediri. Sedang menempuh S1 Jurusan Ushuluddin Univ. Al Azhar al Syarif, Kairo, Mesir. Asal Pesantren An Nur I, Bululawang, Malang, Jawa Timur.

Kalah Perang, Penguasa Mesir Sempat Salahkan Kitab Shahih Bukhari

1 A Mesir

Kisah ini dimulai ketika terjadi perang berkecamuk antara negara Mesir dan negara Ethiopia, tahun 1874 sampai 1876 M. Perang besar ini dilatarbelakangi keinginan Khedive Ismail Pasha, penguasa negara Mesir, untuk menguasai dataran di sekeliling sungai Nil, sungai yang terkenal itu.

Mesir terdesar, kekalahan telah tiba di depan mata. Khedive Ismail Pasha bersama Syarif Pasha pun mengadukan hal ini kepada para ulama al-Azhar. Kala itu keduanya benar-benar dalam keadaan gelisah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Khedive Ismail Pasha pun bertanya kepada Syarif Pasha, “Apakah yang harus kita lakukan bersama para ulama al-Azhar ?”

Syarif Pasha pun menjawab: “Wahai Tuanku, menurut cerita turun temurun di antara para ulama ketika kita ditimpa musibah kita harus meminta para ulama untuk membaca kitab Shahih Bukhari agar musibah tersebut dihilangkan oleh Allah.”

Khedive Ismail Pasha pun meminta syeikh Mushtofa al-‘Arusi, grand syaikh al-Azhar kala itu, untuk mengumpulkan seluruh ulama yang ada di Mesir.

Acara yang dijanjikan pun tiba. Seluruh ulama berkumpul di masjid al-Azhar guna membaca kitab Shahih Bukhari bersama-sama. Tak dinyana, beberapa jam kemudian muncul kabar tentara negara Mesir kalah telak dalam perang melawan negara Ethiopia.

Khedive Ismail Pasha pun sangat geram. Ia berjalan tergesa-gesa untuk bertemu ulama-ulama Mesir yang tengah membaca kitab Shahih Bukhari. Dengan perasaan tak sabar, Khedive Ismail Pasha menghardik

Baca juga:  Mengunjungi Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi yang Hampir Mati (?)

“Mengapa pasukan kita bisa semakin kalah telak ? Apakah yang kalian baca bukan kitab Shahih Bukhari ? Atau apakah kalian bukan golongan ulama yang salih, sehingga doa kalian tak terkabul dan bacaan kitab Shahih Bukhari kalian tak diterima oleh Allah?”

Maka semua ulama yang hadir di sana seketika terdiam. Mereka tak ada yang berani bicara atau menggeser posisi duduk. Namun, tiba-tiba, ada seorang ulama yang duduk di baris paling belakang berdiri dan mendekat kepada Khedive Ismail Pasha.

“Wahai Tuan Ismail, apakah Tuan belum mendengar hadis Rasulullah saw: “Hendaklah kalian memerintahkan kebaikan dan melarang perbuatan munkar atau (kalau kalian tidak melakukan) Allah akan memberikan kalian pemimpin yang jahat dan saat orang-orang baik diantara kalian berdoa kepada Allah niscaya Allah tidak akan mengabulkan doa mereka.” (HR. Ahmad)

Suasana pun semakin hening, dingin, dan kikuk.

Tapi setelah itu, Khedive Ismail Pasha beserta rombongannya berlalu tanpa meninggalkan sepatah kata apa pun.

Para ulama yang masih berada disana pun khawatir dengan keselamatan ulama yang berkata begitu tegas kepada Khedive Ismail Pasha. Tak lama kemudian, para polisi pun menyeret ulama yang sangat berani tersebut. Tak urung, kejadian tersebut membuat suasana semakin menegangkan.

“Akankah ia akan baik-baik saja atau ia akan mati di tiang gantung dan tak akan kembali lagi?” para ulama al-Azhar bergumam.

Baca juga:  Naskah Lontara Gowa: Tentang Kedatangan Islam Di Gowa

Sontak, para ulama pun berebut untuk memeluknya. Mereka takut tak akan bertemu dengannya lagi.

Sang ulama gagah berani tersebut digelandang polisi menuju kediaman Khedive Ismail Pasha.

Setibanya di sana Khedive Ismail Pasha pun bertanya:

“Wahai Ustaz, ulangi lagi apa yang Engkau katakan tadi di Masjid al-Azhar”

Sang ulama ini pun mengulangi apa yang ia katakan tadi.

“Menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang dengan musibah ini ?” tanya Khedive Ismail Pasha.

Dengan gagah berani sang ulama pun berkata:

“Wahai tuan, bukankah keadilan tak pernah ditegakkan? Bukankah korupsi merajalela? Bukankah yang lemah semakin tertindas? Bukankah yang kaya semakin berkuasa? Maka bila keadaan sudah seperti itu bagaimana mungkin Allah akan memberikan kita pertolongan menghadapi musibah ini?”

“Kalau begitu bukankah sulit di zaman sekarang untuk menghindari hal itu?”

“Kalau begitu apa salah Imam Bukhari ? Dan bagaimana lagi para ulama harus berbuat?”

Khedive Ismail Pasha pun termenung lama. Ia menimbang-nimbang lagi kebijakan yang telah ia tetapkan yang justru menyengsarakan rakyat Mesir.

“Benar juga apa yang engkau katakan,” tukas Khedive Ismail Pasha. Kemudian, Khedive Ismail Pasha pun memberikan uang tiga puluh pound Mesir sebagai imbalan atas keberanian sang ulama tersebut.

Baca juga:  Ayyaam al-Arab, Kondisi Arab Menjelang Kelahiran Islam

Kembali lah sang ulama ke Masjid al-Azhar dengan hati gembira. Para ulama yang melihatnya datang sangat bahagia tak terkira. Seperti itulah tugas ulama dan penguasa. Keduanya tak bisa dipisahkan bagaikan dua sisi mata uang. Nasihat ulama harus didengar oleh penguasa dan penguasa harus mendekat kepada para ulama agar tercipta keharmonisan antara agama dan negara. (Sumber bacaan: Min al Mawaqif al Khalidah li Ulama al Azhar karya Ahmad Rabi’ Ahmad as-Sayyid)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top