Sedang Membaca
Dear Milenial, Ada Banyak Jalan untuk Hidup Bahagia: Harta Bukan Jaminan

Dear Milenial, Ada Banyak Jalan untuk Hidup Bahagia: Harta Bukan Jaminan

Kata Bijak Hidup Kesederhanaan (1)

Siapa yang tidak ingin mendapatkan kebahagiaan? Semua pasti menginginkannya baik dari kalangan muda maupun tua. Sejak lahir, manusia akan selalu menginginkan kebahagiaan, mereka tidak ingin kesusahan hingga akhir. Pada abad ini, manusia dimudahkan dalam mencari kebahagiaan yang diinginkannya. Mau kebahagiaan lahir atau kebahagiaan batin akan dicari sebanyak mungkin. Adakalanya dilakukan dengan cara bathil sehingga meninggalkan cara yang haq.

Masyarakat yang paling getol mencari kebahagiaan adalah kalangan muda saat ini atau yang disebut milenial. Mereka berlomba-lomba mencari kebahagiaan dengan melakukan pekerjaan yang mubah dan hingga haram. Sesuatu hal keduniaan adalah boleh selama belum ada larangan yang jelas, tetapi faktanya milenial saat ini terlena dengan perilaku hedonisme, yaitu perilaku konsumtif yang berlebihan dan mengingkari adanya rasa sakit akibat kesusahan.

Hedonisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berart pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Hedonisme ini sudah merambah kalangan kota hingga di tingkat desa. Karena tidak ingin merasakan hidup susah, penganut gaya hidup ini akan berlomba-lomba menunjukkan status sosial yang dimiliki, meski orang yang tidak mampu akan menutupi hal tersebut. Masyarakat berpandangan bahwa jika modernisasi tinggi, mereka tidak akan direndahkan dan tidak dicap sebagai orang yang tradisionalis.

Baca juga:  Obituari: Dalang Santri yang Pergi Meninggalkan Energi

Gaya hidup hedonis sendiri di kalangan milenial di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh masyarakat barat, di mana pengaruh ini dikarenakan alih teknologi. Semakin maju teknologi peralihan peradaban semakin cepat. Meski begitu milenial dari lingkungan pondok masih bisa diberikan sharingan sehingga tidak sampai melebihi batas, tetapi terkadang memang ada santri yang terpengaruh. Masyarakat barat terkenal dengan gaya hidup yang modern tanpa batas dengan segala nikmatnya. Namun, masyarakat tidak kenal yang namanya konsep rezeki dari Tuhan. Mereka hanya berpikir logis, di mana rezeki didapat dari usaha sendiri. Kerja ya makan, tidak kerja ya tidak makan.

Konsep hidup seperti ini yang menyebabkan milenial di Indonesia berlomba-lomba mendapatkan rezeki yang dalam hal ini adalah harta sebanyak mungkin. Namun, mereka lupa sebanyak apapun usaha jika takdir Tuhan tidak menghendaki tetap tidak akan sampai. Mengutip Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari, Istirahatkan dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu. Sebab, apa yang sudah dijamin diselesaikan oleh selain kamu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya.

Dari perkataan mulia beliau, bahwa sesungguhnya semua kebutuhan telah diatur oleh Allah kepada hambanya. Banyak orang bersusah payah mencari sesuatu yang tidak dijaminkan padanya. Hal inilah yang terkadang dilupakan sebagian anak muda saat ini. Mereka mengejar segala kenikmatan yang mereka inginkan. Anak muda bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan sehingga kekayaan tersebut digunakan untuk mencari kenikmatan.

Baca juga:  Dua Sisi Manusia: Kulli dan Juz'i

Berkata Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari:

“Siapa yang tidak mendekat kepada Allah, padahal sudah dihadiahi berbagai kenikmatan, maka akan diseret (agar mendekat) kepada-Nya dengan rantai cobaan”.

Bahwa banyak sekali anak muda yang saat ini mendapatkan kejayaan dan kenikmatan sehingga mereka melupakan siapa yang memberi kenikmatan tersebut. Sikap lalai seperti ini menyebabkan datangnya ujian yang tentu saja berdampak pada diri mereka sendiri.

Sikap hedonis yang yang menyebabkan kelalaian tersebut, penyebabnya adalah tidak ada pondasi keimanan anak muda saat ini, mereka muda tergoda dengan yang namanya modernisasi pengetahuan sehingga menyangsikan pengetahuan tradisional. Mereka mengatakan bahwa ilmu terdahulu sudah ketinggalan zaman, mereka lebih memilih pengetahuan tentang sains teknologi dan filsafat modern. Padahal ilmu terdahulu adalah pondasi dari ilmu pengetahuan saat ini.

Semisal ilmu tentang agama, anak muda saat ini hanya belajar sebagian kecil hukum agama islam yang hanya berkutat pada praktik wudlu atau salat, sehingga ilmu lain seperti akhlak serasa ditingalkan, karena menurut mereka itu urusan pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari pun mereka mengikuti gaya hidup masyarakat barat yang kadang meninggalkan nilai-nilai agama. Praktik kehidupan seperti ini semakin lama semakin banyak di kalangan modern.

Perubahan gaya hidup yang semakin modern ini memang dibutuhkan filterisasi yang kompleks sehingga tidak terjadi kerusakan yang semakin parah. Kita berharap anak muda yang masih waras bisa memperbaiki semua yang telah terjadi dan kalangan tua tidak terbebani dengan masalah yang timbul. Semoga Allah memberikan jalan kepada kita semua menuju jalan yang terbaik.

Baca juga:  Nashiruddin Al-Thusi, Penyelamat Khazanah Intelektual Islam
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top