Sedang Membaca
Al-Hinnu wa al-Binnu: Manusia Purba Versi Turats
Penulis Kolom

Warga NU yang sedang menuntaskan studi (S1) di perguruan tinggi Universitas Nurul Jadid Probolinggo, sekarang sebagai mahasantri aktif di Ma'had Aly Nurul Jadid, paiton, probolinggo dengan konsentrasi fiqh-ushul fiqh.

Al-Hinnu wa al-Binnu: Manusia Purba Versi Turats

E5isfeouua0oyqj

Sejarah manusia yang sering dikampanyekan dari zaman dahulu kala dengan teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera dengan pijakan teori dan alasan ilmiah, yang semula diterima namun lambat-laun banyak yang tidak sependapat bahkan tidak menerima teori Charles Darwin ini dan dirasa memang tidak ada yang setuju jika nenek moyangnya dari bangsa kera yang lolos seleksi alam. Siapa yang setuju?

Polemik makhluk perdana di muka bumi sebagai nenek moyang manusia menjadi bahan diskusi para intelektual, baik dari Barat ataupun dari Islam sendiri. Dalam memahami jati diri manusia perdana di muka bumi menjadi bahan kajian penting karena manusia ingin mengetahui siapa jati diri leluhur dan jati dirinya sendiri.

Ilmuwan barat yang dimentori oleh Charles Darwin menuangkan teori evolusi dengan pendekatan medis dan rasional, Darwin memotret jati diri manusia. Ia menyatakan bahwa segala makhluk hidup (termasuk manusia) adalah anak cucu leluhur kera yang telah lulus seleksi alam. Hipotesis tersebut menjadi teori Evolusi Darwin sejak 1859 hingga beberapa tahun, namun teori ini sudah ‘jatuh-berguguran’ dengan adanya hipotesa baru yang lebih aktual.

Dalam al-Qur’an manusia sejak lahir hingga mengakhiri hayatnya melalui proses yang baku, namun di sisi lain belum ditemukan secara eksplisit bahwa Nabi Adam sebagai manusia perdana di muka bumi.

Bila didalami, al-Qur’an tidak menyebut Adam sebagai manusia pertama dan Hawa diciptakan setelah Adam. Ada beberapa ayat yang mengindikasikan kuat bahwa Adam dan Hawa hanya salah satu dari makhluk yang sudah ada pada waktu itu, salah satunya dalam Q.S al-Baqarah (2): 30, ketika Allah berkata kepada malaikat akan menjadikan Adam sebagai khalifah.

Baca juga:  Para Singa Pangung, dari Mulai Kiai Zainuddin MZ, Aa Gym hingga Gus Mus

وَإِذْ قالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قالُوا أَتَجْعَلُ فِيها مَنْ يُفْسِدُ فِيها وَيَسْفِكُ الدِّماءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat: “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, malaikat menjawab: “Apakah Engkau hendak menjadikan di muka bumi itu orang yang akan berbuat anarki (kerusakan) dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui””.

Ayat di atas sering kali dijadikan pijakan untuk menjelaskan bahwa Adam adalah makhluk pertama dengan landasan gambaran dialog antara Allah dengan malaikat. Padahal ayat di atas memaparkan bahwa bukanlah Adam sebagai makhluk pertama, melainkan salah satu makhluk yang ‘menang kontestan’ dalam pemilihan khalifah yang terdiri dari sekian banyak makhluk yang sudah ada di zaman tersebut.

Sekurang-kurangnya ada dua hal yang menjadi dasar dari pernyataan di atas; Pertama, kata “إِنِّي جاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً” dengan arti “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Kalimat tersebut tidak menggunakan kata ‘menciptakan’ namun dengan kata ‘menjadikan’, berarti bukan mengadakan dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’, melainkan ‘memilih’ dari beberapa yang sudah ada untuk dijadikan sebuah khalifah. Dalam artian, pemimpin bagi umat manusia di kala itu. Kedua, kata ‘memilih’ lebih jelas lagi pada Q.S Ali-Imran (3):33 “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat ”. Allah menggunakan kata “Isthofaa” yang secara eksplisit berarti ‘memilih dari yang sudah ada’.

Baca juga:  Antara Terobosan dan Pendidikan Kita

Lantas adakah dan siapa manusia sebelum nabi Adam tercipta?

Kajian turats juga menyoroti hal ini, dimana adanya makhluk sebelum Adam tercipta  namun pada akhirnya Adam-lah yang terpilih dalam ‘kontes pemilihan pemimpin’ di muka bumi.

Ditemukan beberapa literatur khazanah turats yang menguak bahwa ada makhluk sebelum Adam, hal ini dikemukakan oleh ulama’ tafsir kenamaan dari damsyik, Suriah ia dikenal dengan Ibnu Katsir, dalam bukunya al-bidayah wa an-nihayah, beliau mengatakan serta melansir dari pendapat mayoritas ulama tafsir.

 قَالَ كَثِيرٌ مِنْ عُلَمَاءِ التَّفْسِيرِ خُلِقَتِ الْجِنُّ قَبْلَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَكَانَ قَبْلَهُمْ فِي الْأَرْضِ الْحِنُّ وَالْبِنُّ فَسَلَّطَ اللَّهُ الْجِنَّ عَلَيْهِمْ فَقَتَلُوهُمْ وَأَجْلَوْهُمْ عَنْهَا وَأَبَادُوهُمْ مِنْهَا وَسَكَنُوهَا بعدهم.

Artinya: “Mayoritas ulama tafsir berkata: bangsa jin diciptakan sebelum Adam dan sebelum mereka (Adam dan Jin) ada makhluk di muka bumi yang bernama al-hinnu wa al-binnu kemudian Allah memerintahkan bangsa jin untuk membinasakan mereka kemudian mereka (bangsa jin) lah yang menghuni bumi” (Ibnu Katsir, al-bidayah wa an-nihayah ]Ihya’ at-Turats, 1988[, Juz 1, Hal. 59).

Pernyataan di atas dapat dipahami bahwa sebelum Adam tercipta, bangsa jin telah memijaki muka bumi dan makhluk sebelum mereka, ada yang lebih ‘senior’ mereka bernama al-hinnu wa al-binnu, namun akhirnya Allah memerintah bangsa jin untuk memusnahkan mereka karena kelakuannya yang penuh anarki.

Baca juga:  Belajar Setia kepada Matahari

Tidak hanya Ibnu katsir, Ibnu ‘Asyur juga menulis akan hal tersebut namun sedikit berbeda dengan yang pertama, dalam bukunya yang bertajuk at-tahrir wa at-tanwir, ulama’ tunis ini mengatakan bahwa bumi ini sudah dihuni sebelum Adam tercipta dan penduduk bumi sebelum Adam bernama al-hinnu wa al-binnu, namun ada pula yang mengatakan, mereka bernama at-thimmu wa ar-rimmu.

وإما أن يراد من الخليفة معناه الحقيقي إذا صح أن الأرض كانت معمورة من قبل بطائفة من المخلوقات يسمون الحن والبن- بحاء مهملة مكسورة ونون في الأول، وبموحدة مكسورة ونون في الثاني- وقيل اسمهم الطم والرم- بفتح أولهما

Artinya: “Dan adakalanya yang dikehendaki dari ‘khalifah’ itu ialah makna hakiki maka sah bahwa bumi sudah dihuni dari dahulu kala dengan sebuah gologan dari beberapa makhluk yang mereka diberi nama al-hinnu wa al-binnu dan ada yang mengatakan bahwa nama mereka at-tammu wa ar-rammu ”. (Ibnu ‘Asyur, at-tahrir wa at-tanwir ]ad-Dar at-Tunisiyah, 1984[, Juz 1, Hal. 399).

Dua pendapat di atas juga dikuatkan oleh Muhammad Rasyid pengarang tafsir manar (juz 1, hal 215),  dalam bukunya itu Ia mengatakan, bahwa al-hinnu wa al-binnu atau at-thimmu wa ar-rimmu sudah berdomisili di muka bumi sebelum Adam tercipta, namun akhirnya mereka binasa dan Allahlah yang memusnahkan mereka digantikan dengan makhluk yang telah lolos seleksi dalam kontes pemilihan pemimpin di muka bumi yang telah Allah pilih sendiri, dia bernama Adam. WaAllahu A’lamu bis Showab…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top