Sedang Membaca
Burdah; Simbol Keagamaan, Makna, dan Integritas Sosial
Penulis Kolom

Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di LPM HUMANIUSH Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan Komunitas Lensa Sosiologi Agama.

Burdah; Simbol Keagamaan, Makna, dan Integritas Sosial

Kala masyarakat diterungku kegamangan, madah Burdah ampuh mendedah jalan keluar ragam persoalan esensial umat beragama. Burdah bukan sekadar nyanyian sublim penuh cinta pada sang Nabi Agung, Muhammad Saw, tetapi ia telah menjelma obat mujarab bagi siapa saja yang membacanya. Dalam tiap bait yang dilantunkan, tersemai harapan bisa mencegah malapetaka serupa wabah, bencana alam dan kemanusiaan, dan sebagainya.

Kumpulan syair yang semula bernama  Al-Kawakib ad-Durriyyah fî Madh Khair al-Bariyyah bertaut kisah spektakuler. Dimulai kala sang penggubah, Muhammad ibn Sa’id al-Bushiri (w. 1295), diterpa penyakit yang membuatnya berbaring lumpuh selama berbulan-bulan, dirinya berinisiatif menggubah syair-syair pujian sebagai perantara kesembuhan penyakit yang dideritanya. Beberapa tabib didatangkan pun tak sanggup menyembuhkannya.

Syahdan, sebelum gubahannya selesai, ia bermimpi Nabi menyelimutinya dengan Burdah (Baju hangat yang terbuat dari kulit binatang) sembari mengusap-usap kepalanya. Alhasil, ketika al-Bushiri diselimuti Burdah yang biasa dipakai Nabi itu, dirinya sembuh total. Dari sini narasi historis Burdah pun lalu mengalami interpretasi pemaknaan cukup sublim. Ditilik dari sisi estetisnya,  syair Burdah memiliki kualitas sastra tingkat tinggi dan sarat pesan-pesan etis.

Simbol  yang Menyatukan

Bagi sebagian masyarakat kita, madah Burdah lumrah dipercaya memiliki kekuatan magis, sehingga ia jadi ritual yang dibacakan pada saat momen tertentu.  Karena penafsiran berkekuatan magis inilah, Burdah kian menemukan eksistensinya di lubuk sanubari masyarakat kala dilanda pandemi. Ia bukan hanya sekadar ritus ekspresivitas yang memiliki aspek komunikatif yang orientasinya tidak hanya sekedar teknis dan pragmatis, tetapi telah menjadi semacam simbol keagamaan yang membawa buah pikiran atau makna.

Baca juga:  Teladan Akhlak Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri

Di dalam simbol tersublim makna-makna yang membangun suasana hati. John A. Saliba dalam “Homo Religious  in Mircea Eliade “ (1976) menilik sistem simbol berpengertian segala sesuatu yang membawa, menyimpan, dan menyampaikan ide dan makna. Simbol menjadi entitas tak terpisahkan dari masyarakat. Mempunyai pertautan erat dengan masyarakat karena simbol bagian integratif dari perasaan dan emosi masyarakat.

Seorang Mircea Eliade, pernah mengungkap keterkaitan simbol dengan agama dilihat dari sisi fungsionalnya. Secara fungsional, simbol menjadi instrumen untuk mengenal hal-hal religius.  Dengan kata lain, sesuatu yang dianggap sakral terkadang tidak melulu bisa disampaikan secara gamblang. Ia mesti disimbolkan dengan wujud tertentu serupa kata (pujian), objek (Kakbah) , tindakan keagamaan (ritual), dan sebagainya. Melalui pelbagai wujud inilah simbol sebagai pembawa ide dan makna secara implisit hendak merumuskan sesuatu yang sakral itu.

Dalam Burdah, kita menemukan ketakjuban berupa kearifan sang manusia agung Muhammad Saw. Dihantar ke masa silam dengan hasrat menggebu meneladani etos perjuangannya. Simbolisme pujian kepada kearifan Nabi Saw yang mewujud Burdah itu memberikan pengalaman momen puitis yang dapat membangun suasana hati. Kandungan makna di tiap baitnya seolah membangunkan jiwa yang redup agar selalu terjaga.

Perasaan dan emosi masyarakat menyatu dalam langgam lantunan bait Burdah. Burdah  disenandungkan serupa nyanyian takjub. Perasaan dibawa ke kedalaman sesosok manusia paripurna. Emosi diaduk-aduk sembari mendamba syafaatnya kelak berupa pengakuannya bahwa diri umatnya. Selain itu untuk tujuan pragmatis, Burdah dilantunkan sebagai penolak bencana yang mampu menyatukan umat Islam dalam suatu konstruksi seremonial keagamaan.

Baca juga:  Obituari: Cakar Ayam Danarto

Di dalam konstruksi seremonial keagamaan inilah Burdah yang merupakan simbol keagamaan itu berkontribusi besar membangun masyarakat agama dan ketertiban masyarakat. Seperti deskripsi Elisabeth K. Nottingham dalam Agama dan Masyarakat (2002) yang meneguhkan betapa simbol merupakan cara yang paling efektif untuk mempererat persatuan di antara para pemeluk (agama) di dunia ini.

Demikian argumen teoretis Nottingham itu dikukuhkan Aziz Faiz melalui tulisannya Simbol Agama dan Representasi Sosial . Bagi Faiz, simbol-simbol agama berkontribusi besar dalam membangun masyarakat agama dan ketertiban dalam masyarakat. Faiz segendang sepenarian dengan Peter L. Berger yang menilik masyarakat secara fungsional bertugas menjaga makna dan ketertiban.

Kontekstualisasi Burdah dalam dinamika sosial masyarakat beragama dapat membantu menjaga ketertiban dalam struktur masyarakat. Suatu anomi akan terjadi jika individu tidak menyatu di dalamnya, di dalam konstruksi seremonial Burdah. Ia merasa terasing dan kehilangan identitasnya sebagai bagian dari struktur masyarakat itu.

Demikianlah suatu simbol itu menyatukan. Muatan sistem makna dan ide yang diyakini bersama dalam suatu simbol keagamaan memantik kesadaran sikap masyarakat melebur dalam lingkar dan baris menuju keterhubungan substantif dengan Tuhannya. Dalam tradisi masyarakat kampung, misalnya, kita menjumpai orang-orang berarak mengelilingi jalan raya, mendaki tanjakan, berkarib dengan pekatnya malam sambil menggenggam suluh, ini semua merupakan perwujudan fungsionalisasi simbol keagamaan yang dapat menggerakkan loyalitas masyarakat

Baca juga:  Humor Pesantren: Kang Jalal Bertawasul dengan Penulis Barat

Tentu hal demikian tidak bisa dilepaskan dari peran seorang Kiai. Identitas kultural yang melekat pada seorang Kiai sebagai seorang alim dapat memberikan pengaruh signifikan menggerakkan orang sekitar hanyut dalam tradisi pembacaan Burdah. Doktrin-doktrin keagamaannya yang dilekatkan di alam pikir masyarakat, perlahan menumbuhkan etos beragama  yang mampu menggerakkan seseorang dalam pelbagai aktivitas keagamaannya. Baik aktivitas individual maupun aktivitas kolektif keagamaan.

Etos keagamaan ini pada muaranya akan melahirkan spirit, motivasi, dan sikap keagamaan, hingga pola-pola keagamaan. Dalam tiap babakan etos keagamaan yang konstruktif demikianlah integritas sosial dalam suatu masyarakat beragama dapat menemukan momentumnya. Momentum menjaga ketertiban dan suasana guyub. Akhirnya, disadari atau tidak, maujud adanya tradisi pembacaan Burdah akan memberikan  pengaruh terhadap kesatuan sosial tidak hanya ketika terjadi pandemi, tapi juga di kehidupan berikutnya.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top