Sedang Membaca
Benarkah Terorisme Tidak Ada Hubungannya dengan Agama?
Penulis Kolom

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Ma'had Aly Al-Hikam Malang, Pernah Nyantri di pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep

Benarkah Terorisme Tidak Ada Hubungannya dengan Agama?

1 A Kata Data

Kepada Yth Pak Presiden dan Bapak-bapak yang ada di MUI, yang anggota dan stafnya tentu saja orang-orang alim yang insya Allah ilmunya nggak diragukan lagi. Sebagai rakyat biasa, kami ingin memberikan sedikit pandangan soal terorisme apakah ada hubungannya dengan agama atau tidak.

Soalnya begini pak, saya 2 hari ini dibuat bingung dengan pernyataan bapak. Dan sampai sekarang ternyata belum clear dan masih bingung. Tapi nggak papa. Rasanya tidak hanya kali ini saja njenengan bikin bingung setiap kali ada masalah besar seringkali minim kajian dan identifikasi bahkan mungkin (hanya mungkin ya) malas baca hasil riset dan buku-buku yang membahas tentang nalar kekerasan.

Terkait aksi terorisme bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, polisi sudah mengeluarkan hasil identifikasinya. Mereka diduga bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sulawesi Selatan. Artinya, apa yang dikatakan pak Jokowi dan staf MUI menurut saya terlalu terburu-buru sehingga bertolakbelakang dengan hasil identifikasi. Bahkan memberlakukan pernyataan itu secara umum pun sepertinya perlu dipertanyakan. Atas dasar apa ia menyatakan seperti itu? Pada kenyataannya tidak seperti itu.

Pelaku teroris adalah anggota JAD. Ia melakukan kejahatan karena ajaran-ajaran yang disampaikan kelompok JAD. Lantas apakah bom bunuh diri itu tidak ada kaitannya dengan agama? Lah, masak iya JAD komunitas sepeda gunung? Kan nggak. Apalagi dianggap JAD “Jebolan Akademi Dangdut”. Kan nggak masuk akal.

Baca juga:  Islamofobia di Eropa Meluas, NU di Belanda Berikhtiar Meluruskan

Kalau kita kembali ke sejarah agama masa lalu, nyaris semua agama mengenal adanya kelompok-kelompok radikal. Yahudi, misalnya, ada kelompok ortodoks yang dipimpin Gordon yang memiliki dendam dan perlawanan terhadap modernitas. Merasa benar sendiri dan menganggap Palestina sebagai satu-satunya tempat untuk menjalani kehidupan dunia. Kelompok lain tidak boleh, dan dilarang keras. Dalam dunia Kristen ada khotbah Dwight Moody kelompok konservatif yang menyatakan bahwa Kristus akan datang dengan pakaian berlumuran darah dan akan menumpahkan darah umat manusia. Begitu juga dengan Islam juga mengenal adanya kelompok-kelompok radikal ekstrimisme.

Setiap aksi teror memang bersifat jaringan yang berbasis ideologi. Dan setiap ideologi di sisi lain cendrung muncul karena ajaran agama. Sedangkan tokoh dan elit teroris itu tidak lebih hanya sekadar robot atau wayang. Hakikatnya yang menggerakkan semua itu adalah jaringan ideologinya. Ia masuk pada tatanan kehidupan yang kompleks untuk meracuni manusia.

Di Indonesia sampai saat seringkali kehilangan kendali untuk mematikan ideologi ini. Memang sulit karena ideologi itu ada di otak. Jadi nggak kelihatan mata. Dan yang terjadi ideologi terorisme ini seringkali memperalat Islam. Dan sayangnya MUI nggak paham atau pura-pura nggak paham persoalan ini sehingga serampangan buat statemen.

Ini satu dari sekian banyak pandangan yang mestinya kita lihat secara komprehensif agar penanganan terorisme ini khususnya di Indonesia tidak hanya formalitas belaka saja. Penanganannya lebih arif dan bijaksana. Bukan saja soal kutuk mengutuk, mengandalkan pengamanan dan perang fisik sementara mereka menutup mata untuk menerapkan kebijakan yang holistik, sistematis dan strategis.

Baca juga:  Jakarta Maghrib: Kritik Sosial hingga Religiusitas Masyarakat Jakarta

Dan sekelas MUI yang dibekali dengan perangkat keilmuan yang memadai mestinya paham bahwa dari sekian banyak kasus berdasarkan identifikasi dan kajian yang mendalam kekerasan dan terorisme seringkali memperalat agama untuk kematian agama itu sendiri. Ia pun menggerogoti misi agama dari kehidupan umat manusia yang substansial yakni rahmatan lil alamin.

Terkait pernyataan terorisme tidak beragama perlu dikaji ulang. Toh mereka melakukan aksi terornya dengan dalil-dalil agama, sebagai penguat untuk melakukan aksinya. Bukankah begitu?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top