Sedang Membaca
Sebuah Persembahan untuk Karlina Supelli

Pegiat komunitas SEED Institute Solo. Ketua umum HMP PAI UMS 2019.

Sebuah Persembahan untuk Karlina Supelli

Screenshot 2023 01 19 09 39 15 741 Com.yowhatsapp2

Pada 15 Januari 2023, genap 65 tahun seorang ilmuwan kenamaan Indonesia, Karlina Supelli. Ia merupakan astromon wanita pertama lulusan ITB. Dalam rangka memperingati hari istimewa tersebut, Joko Priyono menyusun sebuah buku berjudul, Kesetiaan adalah Jalan yang Sepi: 65 Tahun Karlina Supelli.

Mas Joko mencetak buku sebanyak 66 eksemplar. Saya adalah seorang yang beruntung karena berjodoh dengan salah satunya. Maklumlah, stoknya sudah habis beberapa hari setelah terbit. Sebagai persembahan, penulis tak memiliki hasrat ekonomis dengan menjual, melainkan murni sebagai hadiah secara khusus kepada Karlina Supelli, dan secara umum kepada khalayak umum.

“Tuliskan resensinya setelah kalian membaca buku ini” kata Mas Joko ketika kami hendak pamit setelah mendiskusikan sosok Karlina Supelli di kediamannya. Tulisan sederhana ini adalah amanah sekaligus ungkapan terima kasih kepada beliau.

Siapa Karlina Supelli

Karlina Supelli lahir di Jakarta, 15 Januari 1958. Masa kecilnya dihabiskan untuk mengagumi bintang-bintang di langit Sukabumi, Jawa Barat. Maklumlah, ia sering membuka jendela kamarnya lebar-lebar untuk “memandangi alam dan angkasa raya dengan penuh semangat” (h. 61). Ia lulus dari jurusan Kosmologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Departemen Astronomi, ITB dengan judul skripsi, “Runtuh Gravitasi, Singularitas dan Problema Lubang Hitam” pada Oktober 1981. Apakah cuma saya yang merasa ngeri dengan judul skripsi tersebut?

Bukan tanpa tantangan untuk menjadi astronom wanita pertama di Indonesia. Pada mulanya keluarga Karlina tidak merestuinya untuk menggeluti bidang ini sebab memandang astronomi bukan untuk perempuan. Namun ia bersikeras, bahwa menjadi seorang sarjana astronomi juga dapat menjanjikan masa depan yang gemilang. Bukan hasrat ekonomi belaka yang ia impikan. Sampai hari ini ia dikenal sebagai seorang astronom, filsuf, feminis, hingga aktivis kemanusiaan.

Baca juga:  Inilah 4 Bab Cerita dalam Novel Dunia Sophie yang Selaras dengan Ayat-ayat Al-Qur’an

Menjawab Pertanyaan Pembaca

Salah satu babak kehidupan Karlina Supelli yang dipaparkan oleh Mas Joko ialah saat ia aktif menjawab berbagai pertanyaan publik melalui rubrik “Adakah yang ingin Anda ketahui?” majalah Intisari dan “Surat-surat Anda” majalah Aku Tahu. Penulis menceritakannya sebanyak 3 kali dalam “Asap, Nyamuk, Gula”, “Kerokan, Langit, Latah”, dan “Surat Pembaca”.

Kedua rubrik tadi merupakan ruang bagi para pembaca untuk bertanya banyak hal kepada Karlina. Bisa serius, bisa sepele. Salah satu pertanyaan sepele ialah: Sejak kapankah kerokan dikenal, dari mana asalnya dan bagaimana cara kerjanya, sehingga dapat menyembuhkan masuk angin? (h. 19). Saya yakin kebanyakan kita tidak pernah bertanya soal ini. Tentu saja, karena sepele. Namun tidak bagi si penanya. Karlina sendiri tidak menyepelekan. Ia tidak memudahkan jawaban. Jawabannya sendiri bisa pembaca akses melalui buku Mas Joko, atau majalah Intisari edisi Maret tahun 1989, atau bertanya ke Karlina Supelli secara langsung. Mudah dan menyenangkan bukan?

Kedua rubrik majalah tersebut menarik bagi saya karena Karlina Supelli mampu memposisikan dirinya sebagai ilmuwan yang berpihak kepada masyarakat. Ia terlibat aktif dalam proses pendidikan dan pencerdasan. Sebagai seorang ilmuwan, ia tidak hanya asik meneliti di dalam laboratorium. Ia mau “turun gunung” berkomunikasi dengan masyarakat dan menjawab pertanyaan dan keresahan mereka. Dengan begitu masyarakat terbiasa untuk bertanya kepada otoritas asli, bukan otoritas palsu. Keterbukaan informasi secara “keterlaluan” di internet menjadi tantangan kita hari ini. Dibutuhkan berapa ilmuan, cendekiawan, filsuf, pimpinan, yang harus “turun gunung” untuk “melawan” otoritas palsu?

Baca juga:  Mutu Kitab Kuning Terbitan Lokal Terjaga 

Apresiasi dan kritik

Hidup untuk menulis, bukan menulis untuk hidup. Ungkapan ini saya kira pantas untuk disematkan kepada Mas Joko. Buku Kesetiaan adalah Jalan yang Sepi: 65 Tahun Karlina Supelli menjadi buktinya. Seperti yang saya sampaikan di awal, buku ini sepenuhnya penulis dedikasikan kepada Karlina Supelli dan khalayak umum yang berminat memilikinya secara cuma-cuma. Sekali lagi saya perjelas: Mas Joko menerbitkan buku ini dengan uang pribadi dan membagikannya secara gratis. Malahan ia mengatakan akan membagikan soft file (format pdf) buku ini di kemudian hari.

Penjelajahan Mas Joko ke berbagai arsip yang berhubungan dengan Karlina Supelli patut diapresiasi. Kita juga patut iri atas keseriusan dan kepeduliannya terhadap arsip yang tidak diperhatikan banyak orang.

Selain itu, saya kagum kepada Mas Joko yang mampu menghubungkan berbagai buku atau majalah yang sepintas tidak memiliki kaitan sama sekali. Siapa sangka buku berjudul Bahasa Kita garapan Baidilah Halim, dkk. (1968) bisa bermakna ketika dijadikan referensi dalam esai “Asap, Nyamuk, Gula” (h. 5). Padahal buku ini merupakan bahan ajar untuk murid kelas 3 SD saat itu.

Demikian juga dengan buku Marilah Bernjanji I (1950) yang semula digunakan sebagai bahan ajar kelas I-III di Sekolah Rakyat. Mas Joko membuka esai berjudul “Matahari” dengan mengutip salah satu lagu dari buku tersebut (h. 9). Kebanyakan di antara kita mungkin tidak akan melirik dua buku tadi untuk disimpan dalam koleksi bacaan dan menggunakannya sebagai referensi tulisan tentang Karlina Supelli, tentu saja selain Mas Joko Priyono.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (41): Nihâyatus Sûl dan Sikap Obyektif Al-Isnawî

Sedikit kekurangan buku garapan Mas Joko ini perlu juga saya sampaikan. Ini pun merupakan amanah beliau sebagai bagian dari resensi. Kekurangan itu terdapat dalam penggunaan kalimat yang kurang efektif di beberapa tempat. Misalnya kita temukan dalam kalimat berikut: Buku terbahasakan Indonesia oleh Susan Djoko. S (h. 12). Kata “diterjemahkan” sudah cukup untuk mengganti kalimat “terbahasakan Indonesia”. Juga pada kalimat “Jawaban tergunakan dengan penggunaan bahasa sederhana” (h. 21). Terdapat kata “tergunakan” dan “penggunaan” yang hanya dipisahkan oleh kata “dengan” dalam satu kalimat.

Mengenai kekurangan ini, saya kira tidak menjadi soal besar. Terlebih bagi yang sudah terbiasa membaca tulisan Mas Joko, tentu tidak akan asing dengan gaya penulisan tersebut. Keindahan pengisahan Mas Joko tidak berkurang. Ia tetap terbaca hingga terkesan. Salah satu kesan membaca buku ini, saya jadi tahu kalau Mas Joko cukup pandai bereksperimen dengan pola.

Selamat kepada Mas Joko atas terbitnya buku persembahan ini. Selamat ulang tahun yang ke-65 Bu Karlina Supelli.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top