Sedang Membaca
Tips Mendidik Anak, Ilmu Parenting yang Wajib Dipelajari Orang Tua
Penulis Kolom

Mompreneur, founder & teacher tahsinonlinebenome.

Tips Mendidik Anak, Ilmu Parenting yang Wajib Dipelajari Orang Tua

NU dan Anak-anak Kita

Banyak orang mengatakan kini perempuan sudah kebablasan dan malah meninggalkan tugas utamanya akibat gagal paham emansipasi. Tugas utama perempuan yang kelak menjadi ibu adalah mendidik anaknya.

Perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi seharusnya kembali ke rumah dan mendidik anaknya. Ilmunya dipakai untuk mendidik anaknya, bukannya untuk bekerja dan meninggalkan tugasnya. Pertanyaannya, apakah pendidikan formal yang tinggi merupakan jaminan bahwa seseorang ahli dalam mendidik (parenting)? Seorang doktor di bidang teknik apakah mempelajari ilmu parenting di kampusnya?

Sebaliknya, apakah perempuan yang tinggal di rumah sudah pasti memiliki banyak waktu untuk membersamai dan mendidik anak? Saya setuju bahwa mendidik anak adalah tugas penting bagi ibu, bukan hanya ibu, mendidik anak adalah tugas dari kedua orang tua.

Namun mendidik bukan sekedar mengasuh; memberi kebutuhan material untuk anak. Banyak orang tua yang fokus memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sebisa mungkin memenuhi kebutuhan sekunder berupa fasilitas dan mainan namun sekaligus melupakan kebutuhan non material pada anak.

Titik berat mendidik terletak pada pola komunikasi orang tua dan anak. Anak membutuhkan kasih sayang, dukungan, perhatian yang sifatnya non material. Mereka butuh teman curhat, teman berkeluh kesah, teman untuk berbagi dan teman terbaik bagi mereka adalah orang tuanya.

Mendidik juga tentang menerapkan kedisiplinan pada anak, menanamkan nilai dan norma, serta menanamkan nilai spiritual pada anak. Memberikan bekal agar anak bisa bertahan hidup dan mencari jawaban atas pertanyaan tentang kehidupan ini.

Baca juga:  Bahas Childfree, Kiai Moqsith Sebutkan Tujuan Perkawinan dalam Islam

Apakah seorang ibu yang di rumah sudah pasti bisa berkomunikasi intens dengan anaknya? Berapa jam seorang ibu di rumah akan menghabiskan waktu bersama anaknya? Seorang ibu yang seharian sibuk mengurus rumah, mulai dari mencuci pakaian, menjemur, memasak, membersihkan rumah, mencuci piring, mengangkat jemuran, melipat pakaian tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar berkomunikasi.

Belum lagi kebutuhan bayi mulai dari mengganti popok, memandikan, menyiapkan makanan khusus menyuapi, mengajak bermain, menidurkan, dan sebagainya. Bagaimana seorang ibu bisa mendidik anaknya jika seharian sibuk dengan pekerjaan rumah yang tiada henti?

Dengan kata lain, perempuan dengan pendidikan tinggi atau pun rendah tidak mempengaruhi perannya sebagai ibu, karena ilmu parenting tidak didapatkan di sekolah formal. Perempuan yang bekerja di rumah maupun di luar juga tidak berpengaruh dalam tugas mendidik anak, karena durasi kebersamaan dengan anak bukanlah tolok ukur keberhasilan mendidik anak.

Meski demikian, perempuan yang bekerja di kantor dianggap melupakan perannya. Padahal perempuan bekerja itu bukan fenomena baru. Pasar, kios, pedagang kaki lima, toko kelontong kebanyakan diisi oleh perempuan. Jadi, wanita bekerja atau wanita karir tidak melulu tentang mereka yang kerja kantoran.

Kalaupun tidak bekerja di luar, lalu memilih jualan online di rumah, waktu untuk membersamai anak pun berkurang. Jualan online tak sekedar sekali posting dan laku. Perlu optimasi postingan, membalas pertanyaan customer, packing, dan kirim.

Baca juga:  Selir dalam Islam (3): Harem dan Para Perempuan Timur

Artinya, perempuan yang bekerja baik di pasar, kantor, maupun di rumah memiliki porsi pekerjaan yang sama. Maka yang perlu disadari oleh semua ibu (dan ayah) adalah tentang pendidikan dan kebutuhan non material pada anak. Bukan pemenuhan kebutuhan material semata.

Seorang ibu yang bekerja di luar boleh jadi memiliki quality time bersama anaknya tiap malam. Ia bisa mengisi waktu itu dengan berbincang, melakukan berbagai hal bersama, dan menanamkan nilai dan norma untuk anaknya tiap malam dan akhir pekan. Ibu yang bekerja juga tetap bisa memberikan teladan bagi anaknya, memberikan perhatian, serta menjadi teman yang menyenangkan untuk anaknya.

Maka sebenarnya perempuan tidak gagal paham emansipasi, namun sebagian orang malah gagal paham parenting. Alih-alih memperdebatkan perempuan yang mengambil peran di luar, kita sebagai orang tua seharusnya lebih banyak mempelajari ilmu parenting, psikologi anak, dan kesehatan mental. Banyak ibu maupun ayah yang mengalami gangguan kesehatan mental karena luka masa lalu. Dengan mempelajari ilmunya, kita berharap tidak memberikan luka bagi anak kita.

Kita berharap bisa menyembuhkan luka kita dan menjadi pribadi yang bisa mencintai diri sendiri sehingga bisa mencintai keluarga kita. Tugas utama perempuan sebagai pendidik anak bukan terletak pada posisinya di luar atau di dalam rumah. Namun terkait kesiapannya dalam mendidik anak dengan mempelajari ilmu-ilmu parenting.

Hal ini sangat penting dilakukan dan disebarluaskan mengingat masih banyak orang tua yang belum melek informasi terkait ilmu parenting. Padahal, memutuskan memiliki anak berarti memutuskan untuk menerima amanatNya, mendidik wakilNya menjadi hambaNya dan khalifahNya.

Baca juga:  Konsep Kebaikan dalam Agama

Namun bagaimana bisa paham dengan pendidikan jika kegiatan sehari-hari hanya diisi dengan pekerjaan rumah yang tiada henti? Mendidik perempuan artinya mendidik bagaimana cara mendidik anak karena kelak kita akan menjadi ibu. Memiliki anak artinya siap menjadi orang tua, siap belajar, dan siap menjadi murid.

Baik bekerja di rumah maupun di luar, keduanya bisa mendidik anak dengan baik jika mau belajar, meluangkan waktu bersama anak, dan menerapkan ilmu parenting bersama dengan pasangan. Dan yang perlu dipahami adalah bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu, namun juga ayah.

Dan untuk mendidik dengan baik, perlu kerja sama ibu dan ayah agar kondisi jiwa keduanya stabil. Jangan sampai ibu terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah sehingga tak ada waktu untuk membersamai anak. Jangan sampai ayah terlalu sibuk di luar rumah sampai tak ada waktu untuk memberi teladan bagi anak.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top