Sedang Membaca
Meteor, Astronomi dan KH Ahmad Ghozali Masroeri
Stick Banner Nucare
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Marufin Sudibyo
Penulis Kolom

Ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula dalam Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), Ikatan Cendekiawan Falak Indonesia (ICFI), Jogja Astro Club dan International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sebagai pembimbing dan pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKF) Kebumen, keduanya di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Meteor, Astronomi dan KH Ahmad Ghozali Masroeri

Img 20200228 Wa0010

Di kala menekuri jalan setapak berbeton di tengah lahan persawahan menuju Pasareyan Sagi di dusun Kauman, desa Selo, kec. Tawangharjo (Kab. Grobogan), persemayaman terakhir almaghfurlah KH Ahmad Ghozali Masroeri sang ulama ahli falak sekaligus Ketua Lembaga Falakiyah PBNU 1999 – 2020 yang baru saja berpulang, ingatan saya melayang ke masa bertahun silam. Tepatnya ke satu kenangan di Batam bertitimangsa 2013, hampir tujuh tahun lalu. Saat itu kami sedang rehat kopi sejenak di tengah-tengah momen tahunan Temu Kerja Nasional Hisab Rukyat.

“Bapak bisa jelaskan apa itu meteor?” tanya beliau dengan nada santai.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Meteor adalah panah-panah malaikat yang melayang di langit, tukas saya. Mereka ditembakkan oleh para malaikat guna mengusir setan-setan yang hendak mencuri sekeping dari lalu lintas informasi di langit. Meski banyak setan berhasil diusir, namun tetap saja ada salah satu dari mereka yang berhasil. Informasi yang dicuri lantas diteruskan pada manusia berhati gelap yang berkoalisi dengannya.

“Iya itu dalam pengertian agama. Namun bagaimana dalam astronomi? Saya terus terang ingin tahu,” lanjut beliau.

Astronomi memandang meteor sebagai padatan batuan seukuran butir-butir debu hingga kerikil, lanjut saya. Mereka berasal dari remah-remah komet, yang tersembur dari paras sang komet oleh tekanan angin Matahari lantas terserak di sepanjang lintasan yang ditempuh komet itu. Mereka juga bisa berasal dari keping-keping asteroid, yang terhambur ke angkasa akibat tubrukan antar asteroid. Kala Bumi melintas di dekat remah-remah komet dan keping-keping asteroid tersebut, gravitasi Bumi menariknya masuk ke atmosfer. Kecepatannya yang masih sangat tinggi menciptakan tekanan unik di sisi depan, yang membuat kolom udara setempat tertekan hebat hingga berpijar sangat panas dan terang. Tekanan yang sama juga mengikis permukaan meteor itu, membuatnya habis tersublimasi jika ukurannya kecil.

Baca juga:  Kedekatan Imam as-Syafi'i dan Sayidah Nafisah

“Bagaimana dengan kejadian di Russia?” Beberapa bulan sebelumnya terjadi peristiwa Chelyabinsk. Pada 13 Februari 2013, sebuah asteroid bergaris tengah 20 meter menerobos tmosfer di atas Pegunungan Ural, Russia. Selain berpijar amat terang, terjadi juga pelepasan gelombang kejut yang membuat kaca-kaca jendela di ribuan bangunan pecah berkeping-keping. Ribuan orang luka-luka dibuatnya.

Itu terjadi tatkala meteornya cukup besar, ujar saya. Atmosfer Bumi memiliki kemampuan untuk memusnahkan setiap butir meteor yang masuk asal diameternya kurang dari nilai batas tertentu. Jika meteornya berukuran lebih besar dari batas itu, ia akan masuk lebih jauh ke dalam atmosfer dan memiliki energi lebih tinggi dimana energi meteor adalah fungsi pangkat tiga dari diameternya. Dalam hal ini perilaku meteor-besar mirip ledakan nuklir, jadi melepaskan gelombang kejut dan sinar panas khas yang bisa berdampak pada permukaan Bumi dibawahnya. Peristiwa Chelyabinsk melepaskan energi 560 kiloton TNT, 28 kali lipat kekuatan ledakan bom nuklir Nagasaki. Maka meski terjadi di ketinggian 20 – 30 kilometer, dampaknya tetap dirasakan di permukaan Bumi dibawahnya.

Jika meteornya sangat besar, atmosfer Bumi takkan sanggup menahannya. Dan ia akan jatuh dengan kecepatan yang masih sangat tinggi. Sebutir meteor bergaris tengah 500 meter mampu melepaskan energi setara Letusan Gunung Tambora 1815, dengan dampak relatif sama pula. Penelitian-penelitian menunjukkan pada 65 juta tahun silam sebutir meteor bergaris tengah 10 km, jadi lebih besar dari Gunung Everest, menabrak Bumi dengan dahsyatnya dan melepaskan energi yang setara 5 milyar butir bom nuklir Nagasaki diledakkan serempak di satu titik. Dampaknya sangat dahsyat, membuat populasi dinosaurus bersama dengan kelimpahan 75% makhluk hidup lainnya punah.

Baca juga:  Rayhanah al-Walihah dari Bashrah

Beliau tersenyum. “Saya punya harapan, falakiyah seperti itu. Falakiyah ya astronomi modern. Matahari, Bulan dan Bumi adalah tiga benda langit yang menjadi tetap fokus perhatian falakiyah karena terkait aspek ibadah. Namun di luar itu, falakiyah seharusnya juga mampu bertutur tata surya seisinya hingga betapa luasnya jagat raya,” lanjut beliau penuh semangat. Beliau juga menukil apa yang pernah saya tulis tentang pasukan bergajah Abrahah yang musnah kala hendak menyerbu Makkah. Masih sebatas hipotesa, karena belum diikuti penelitian lapangan untuk menguji ada tidaknya jejak-jejak khas yang ditinggalkan meteor-besar. Dalam hipotesa tersebut memang saya berpendapat peristiwa yang menghancurkan tentara Abrahah lebih bisa dijelaskan oleh kejadian meteor. Khususnya yang mirip dengan peristiwa Chelyabinsk kemarin. Jadi meteor-besarnya hancur berkeping-keping di udara, namun pada ketinggian lebih rendah (10 km) sehingga dampak gelombang kejut dan sinar panas ke lembah Wadi Muhassir dimana pasukan itu berada masih cukup besar. Tapi dampak yang sama diperhitungkan tidak mengenai kota Makkah beserta penduduknya.

“Pengetahuan-pengetahuan seperti ini yang perlu ditransfer ke dalam pengajaran falakiyah. Supaya generasi muda yang masih belajar juga tetap mengikuti perkembangan pengetahuan pada zamannya. Itu membuat saya kadang jadi merasa agak gimana. Kita anak-anak bermazhab. Para ulama mazhab demikian rajin menulis, ada yang kitab-kitab hasil karyanya sampai ratusan jumlahnya. Padahal beliau-beliau begitu sibuknya. Bagaimana dengan kita?” lanjut beliau retoris. Lebih khusus beliau menyoroti ranah falakiyah. Kitab-kitab falak adalah karya monumental para ulama pada masanya dan menjadi bahan pembelajaran dimana-mana terutama bagi Nahdliyin. Namun falakiyah adalah sebuah ilmu pengetahuan yang terus berkembang seiring masa. Maka perlu kita tulis kitab-kitab falak berdasarkan pengetahuan masa kini.

Baca juga:  Anak Kiai itu Bernama Surin Pitsuwan

Diskusi seru itu terus terngiang dalam benak, kala saya melangkahkan kaki masuk ke area pemakaman. Bersimpuh di sisi pusara sederhana pada gundukan tanah yang masih basah. Di dalamnya berbaring seorang ulama besar, ahli fikih dan ahli falak. Sosoknya telah tiada, namun semangatnya tetap menggaung di angkasa. “Sugeng tindak, Kiai. Insya Allah kami akan meneruskan perjuanganmu.”

(RM).

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)
  • Sebuah artikel yang sangat baik , memadukan antara pemahaman agama tradisional dan wawasan sains modern !
    Hal ini menjadi sebuah modal bagi ummat islam khususnya yg mempelajari ilmu falak / astronomi untuk bisa lebih maju lagi !
    Mengutip kata kata dari pidato (pale blue dot ) dari astrofisikawan terkenal carl sagan , bahwa astronomi adalah ilmu yg membuat kita rendah diri ! Khususnya bagi umat islam yg beriman adalah rasa tawadhu akan kebesaran Allah SWT, kalau di izinkan saya ingin menulis artikel tentang pidato ini !
    Saya juga punya 1 artikel yg sudah di terbitkan di alif.id mengenai ngaji ihya gus ulil , tetapi ketertarikan saya terhadap astronomi sangat besar ,sudilah kiranya redaksi memberikan kesempatan pada saya untuk menulis lagi hehehe …

Komentari

Scroll To Top