Sedang Membaca
Beginilah Hadratussyaikh Mencintai Al-Qur’an (2): Genealogi Cinta Hadratussyaikh kepada Al-Qur’an

Dosen di Ma'had Aly KH Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang. Selain menulis di jurnal dan buku, Anang aktif menulis esai-esai populer di berbagai media. Buku yang sudah terbit antara lain, Karomah Sang Wali; Biografi KH. M. Adlan Aly Jombang (Pustaka Tebuireng), Aswaja dan KeNUan Pesantren Tebuireng (team) (Pustaka Tebuireng, 2020), dan مختصر جامعة المقاصد للعالمة الشيخ محمد هاشم أشعري (Turats Tebuireng, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Jombang). Aktif di pusat kajian pemikiran KH. M. Hasyim Asy'ari.

Beginilah Hadratussyaikh Mencintai Al-Qur’an (2): Genealogi Cinta Hadratussyaikh kepada Al-Qur’an

Genealogi Cinta Hadratussyaikh kepada Al-Qur’an (2)

Tidak berlebihan jika dibilang bahwa bakat cinta al-Qur’an ini pertama kali ditularkan oleh sang ibu, Bu Nyai Halimah. Putri Kiai Utsman yang juga akrab disapa Mbah Puteri Winih tersebut dikenal sebagai perempuan yang gemar menjalankan laku tirakat. Yang telah jamak diketahui adalah beliau berpuasa tiga tahun untuk keturunan dan para santri. Selain itu beliau juga tidak pernah absen untuk membaca al-Qur’an pada waktu-waktu tertentu. Laku tirakat Nyai Halimah ini kemungkinan muncul karena berdekatan dengan bidang keilmuan tasawuf yang ditekuni oleh sang ayah.

Selain itu, Kiai Hasyim juga kenyang meneguk ilmu dari para guru yang alim allamah dalam bidang al-Qur’an. Dikatakan allamah karena para guru ini memiliki karya dalam bidang tafsir, seperti Kiai Sholeh Darat al-Samarani, Syaikh Nawawi al-Bantani, Sayyid Abu Bakar Syatha, hingga Syaikh Mahfudz al-Tarmasi. Nama-nama tersebut merupakan poros ulama sunni yang mengajar di Masjidil Haram. Mereka menjadi rujukan bagi para pelajar yang berasal dari Nusantara antara abad ke 18-19 M.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai seorang alim yang menguasai bidang tafsir. Guru masa remaja Kiai Hasyim Asy’ari ini menulis karya tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa setelah diminta oleh para muridnya, (salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini). Lantas kitab itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an yang terhitung sebagai kitab tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Lalu Syaikh Nawawi al-Bantani, salah satu guru utama Kiai Hasyim Asy’ari yang memupuk rasa nasionalisme ini menulis karya tafsir al-Munir, yang juga dikenal dengan sebutan Tafsir Marahu Labid li kasyfi ma’na al-Qur’an al-Majid. Sebagaimana Kiai Sholeh Darat, kitab ini ditulis Syaikh Nawawi al-Bantani juga karena permintaan beberapa kalangan.

Baca juga:  Ulama Banjar (128): H. Tabrani Ali Maksum

Guru Kiai Hasyim Asy’ari yang ahli al-Qur’an lainya adalah Syaikh Mahfudz Termasi. Kakak dari Syaikh Dimyathi Tremas yang juga besan Kiai Hasyim Asy’ari ini menulis karya tafsir yang diberi judul Fath al-Khabir bi Syarh Miftah al-Tafsir. Tak hanya itu, dalam bidang qira’at, Syaikh Mahfudz al-Tarmasi juga mempunyai enam buah kitab. Salah satu yang terkenal adalah al-Risalah al-Tarmasiyyah fi Asanid al-Qira’at al-Asyriyyah.

Selain itu, guru Hadratussyaikh yang menulis tafsir al-Qur’an adalah Sayyid Abu Bakar Syatha (sayyid Bakri), meskipun kitab tafsir beliau tidak familier di kalangan umat Islam. Hal ini dikarenakan tafsir Sayyid Bakri hanya sampai juz 18 pada penjelasan Surah Al-Mu’minun. Sebagaimana dituturkan oleh Syaikh Abdul Hamid Kudus, bahwa Sayyid Bakri sempat menulis kitab tafsir, sebelum akhirnya beliau meninggal dunia di usia 44 tahun. Sedangkan Syaikhana Khalil dikenal sebagai hafidz Al-Qur’an dan ahli dalam bidang qira’at sab’ah, meskipun tidak mempunyai kitab dalam bidang tafsir.

Mengajar Tafsir al-Qur’an “Bil Ghaib”

Sebagaimana dikisahkan oleh R. Ahmad Nur Kholis dalam laman Nu.or.id, bahwa salah satu santri Hadratussyaikh yang bernama KHR. Abdul Majid Tamim ketika mengaji Ilmu Tafsir kepada Hadratussyaikh, bahwa beliau melihat Hadratussyaikh hanya membawa mushaf al-Qur’an, tanpa membawa kitab tafsir yang sedang dikajinya. Hadratussyaikh lantas membacakan satu atau beberapa ayat al-Qur’an, kemudian menerangkan tafsirnya secara langsung. Yang membuat Kiai Majid takjub adalah penjelasan Hadratussyaikh persis dengan isi kitab tafsir yang sedang dikaji.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Santri yang belajar di Tebuireng pada pertengahan tahun 30-an itu menurutkan bahwa Kiai Hasyim itu unik dan hebat. Ia membaca Al-Qur’an yang ada di depannya, kemudian menjelaskan tafsir ayat tersebut sesuai kitab tafsir yang ada di depan santrinya. Kiai Majid menambahkan bahwa cara mengaji tafsir “bil ghaib” tersebut tidak hanya berlaku untuk satu kitab tafsir saja, melainkan semua kitab tafsir yang dikaji di Tebuireng. Tercatat Hadratussyaikh pernah mengajar tafsir menggunakan Kitab Tafsir Jalalain, Tafsir al-Shawi dan Tafsir Baidlawi.

Baca juga:  Ulama Banjar (37): KH. Baderi

Lahirnya Santri yang Menulis Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Dari ribuan santri Tebuireng “tempo doeloe” yang pernah mendalami ilmu tafsir al-Qur’an kepada Hadratussyaikh, setidaknya ada tiga Kiai yang memiliki karangan berupa kitab ilmu al-Qur’an dan tafsir, yaitu KH. Arwani Amin Kudus, KH. Misbah Mustofa Tuban, dan KH. Bisri Mustofa Rembang. Dari ketiga kiai tersebut, hanya KH. Bisri Mustofa yang nyantri kilatan ke Hadratussyaikh saat bulan Sya’ban hingga Ramadlan.

KH. Muhammad Arwani Amin memang dikenal sebagai ulama ahli al-Qur’an. Pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an ini mengarang sebuah kitab di bidang ilmu qira’at sab’ah yang diberi nama Faidhul-Barakat fi Sab’il-Qira’at. Kitab yang terdiri dari tiga jilid ini sempat ditahqiq di Universitas Al-Azhar Kairo. KH. Arwani Amin mondok di Pesantren Tebuireng asuhan Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari selama empat tahun, antara 1926 hingga 1930 M, setelah sebelumnya mondok di Pesantren Jamsaren Solo.

Sepulang dari Tebuireng, Beliau melanjutkan pendakian ilmu ke Pesantren Krapyak Yogyakarta yang diasuh KH Munawir. Di Pesantren inilah beliau seperti menemukan spirit dan hasrat yang tumbuh sedari kecil sangat mencintai Alquran, bertemu dengan KH. Munawir seorang kiai yang menguasai qiraat sab’ah.

Nama kedua adalah KH. Misbah Mustofa, pendiri Pondok Pesantren Al-Balagh Tuban. Beliau menulis beberapa kitab di bidang tafsir, antara lain; Tafsir al-Iklil Fi Ma’ani al-Tanzil, Tafsir Taj al-Muslimin,  terjemah Tafsir al-Jalalain, dan terjemah Tafsir Surah Yasin. Karyanya berjudul Tafsir al-Iklil Fi Ma’ani al-Tanzil ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini ditulis selama kurang lebih 8 tahun (1977 M – 1985 M). Melalui kitab ini, KH. Misbah Mustofa dikenal sebagai mufassir berpengaruh di Nusantara.

Baca juga:  Dua Alasan Mengapa Kita Harus Meneladani Gus Dur

Kiai yang berasal dari Rembang ini mulai belajar secara langsung kepada Hadratussyaikh di Tebuireng sekitar tahun 1938 M, Setelah sebelumnya mondok di Kasingan Rembang di bawah bimbingan KH. Cholil Harun. Dilihat dari buah karyanya, Kiai Misbah termasuk ulama yang produktif menulis. Tidak kurang dari 200 kitab beliau lahirkan, baik berupa terjemahan maupun dari buah pemikirannya.

Nama ketiga adalah KH. Bisri Musthofa, pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin. Selain sebagai seorang penulis yang sangat produktif, Kiai Bisri juga dikenal sebagai orator ulung dan politikus handal.

Buah karya dalam bidang tafsir yang beliau karang dalam bahasa Jawa ini diberi judul Tafsir al-Ibriz li Ma’rifati al-Qur’an al-‘Aziz. Kitab tafsir Nusantara ini ditulis kurang lebih selama 6 tahun, antara 1954 hingga 1960. Kiai yang masih sepupu dari KH. Misbah Mustofa ini juga menulis kitab-kitab keagamaan di banyak bidang, baik di bidang tauhid, akhlaq-tasawuf, Fikih, Aqidah, hadits, tata bahasa dan sastra Arab. Umumnya karya beliau memiliki banyak varian yang berbentuk syarah kitab, terjemahan, syair, asma’, kumpulan pidato dan khutbah, hingga primbon. Karya-karya tersebut masih menjadi rujukan para ulama yang mengajar di pesantren hingga sekarang.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top