Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Mengenal Sufi Perempuan Mu’adzah

Mu’adzah adalah sufi yang hidup pada masa awal dinasti Umayyah. Suaminya, Shilah bin Usyaim al-‘Adawi, wafat dalam peperangan pada 75/694-95. Mu’adzah tidak pernah menatapkan wajahnya ke langit selama empat puluh tahun.

Ia tidak makan di siang hari dan tidak tidur di malam hari. Untuk itu orang berkata padanya, “Engkau mendatangkan mudharat kepada dirimu sendiri.”

Atas pernyataan ini, ia menjawab, “Tidak. Aku hanya menunda satu waktu hingga waktu yang lain. Aku menunda tidur dari malam hingga siang hari, dan menunda makan dari siang hingga malam.”

Biasanya Mu’adzah duduk dengan memeluk lututnya dan berwicara kepada kelompok perempuan yang duduk mengelilinginya.

Seorang perempuan biasa bernama Unaysah bint ‘Amr, menjaga Mu’adzah al-‘Adawiyah, yang biasa bangun malam untuk sembahyang. Manakala dirinya diserang oleh rasa kantuk, ia akan bangun dan berjalan-jalan ke sekeliling sambil bertutur:

“Wahai jiwa! Tidur nan abadi ada di depanmu. Jika aku mati, maka tidurmu di kubur akan merupakan tidur yang lama, baik tidur itu tidur yang memasygul, ataupun yang membahagiakan.”

Mu’adzah akan berada dalam keadaan terjaga hingga pagi menyapa.

Baca juga:  Sabilus Salikin (105): Macam-macam Zikir Tarekat Histiyah (3)
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top