Sedang Membaca
Alexander, Hidup di Antara Anak Panah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Alexander, Hidup di Antara Anak Panah

Muhammad Iqbal

Menurut sahibulhikayat, Raja Filippos dari Makedonia meninggalkan seorang putera bernama Alexander, yang tumbuh dewasa dengan bergas. Pada umur enam belas tahun, Alexander sudah menjadi wakil raja Makedonia ketika sang ayah pergi berperang. Apa cita-cita Alexander, manusia yang diagung-agungkan itu?

Syahdan, Alexander berwalang hati ayahnya tak akan menyisakan daerah yang masih bisa ditaklukkan. Pada umur delapan belas, dia memimpin kavaleri Makedonia dalam pertempuran yang membuat Filippos menguasai Yunani. Pada umur dua puluh, ketika Filippos mangkat. Lantas Alexander naik takhta dan langsung melanjutkan proyek ayahnya, perang mendaga Persia.

Sejarawan Peter Green (2013) menyigi, bahwa saat berusia dua puluh lima, musim semi 334 SM, Alexander meninggalkan Eropa dan balik gagang ke Asia Kecil bersama pasukan berkekuatan 35.000 orang. Dia bertempur ke selatan sepanjang pantai Asia Kecil; lalu berbelok-belok ke timur melalui Asia Kecil, menang dalam pertempuran demi pertempuran sampai dia menguasai seluruh Asia Kecil.

Maharaja Persia, Darius III, mengirim petaruh: apabila Alexander mau berdamai, maka sang maharaja akan memberinya uang, semua wilayah kekuasaannya di sebelah barat Sungai Eufrat, dan puterinya untuk dinikahi.

Seorang jenderal veteran Makedonia bernama Parmenion memberitahu sang penakluk muda bahwa seandainya dia jadi Alexander, dia bakal menerima tawaran Darius III. Alexander pun menjawab dengan berkata bahwa bila dia jadi Parmenion, dia juga bakal menerima. Di titik itulah Alexander memutuskan untuk melanjutkan sepak terjang dan menaklukkan seluruh Imperium Persia.

Jenderal lain boleh juga bertanya kepada diri sendiri apakah sebegitu sedikit orang yang berada nun jauh dari rumah bisa menang besar? Tapi Alexander tak galau. Dia sudah membuktikan, dan kemudian memperlihatkan lagi berkali-kali betapa spektakulernya dia dalam berperang.

Tubuhnya yang kokoh, meski sering terluka, bertahan dengan baik dalam pertempuran yang silang selimpat. Alexander menggerakkan pasukannya dengan cerkas melalui daerah yang dia belum pernah datangi, mengalahkan musuh dalam hal kecerdikan dan keberanian. Dan terutama, dia tidak pernah mau kalah.

Kini, Asia Kecil sudah di tangannya. Alexander kemudian memimpin pasukannya ke selatan menuju Suriah dan Palestina, menaklukkan kedua negeri itu, lantas merangum Mesir.

Baca Juga:  Dinasti Safawiyah, Gerakan Politik yang Lahir dari Tarekat

Dia lalu membawa pasukannya ke timur menuju kawasan Sungai Tigris dan Eufrat, di mana dia mengalahkan Darius. Dia bergerak melewati Babilon ke timur menuju Iran, pusat Persia. (Betapa daifnya sejarawan menulis “dia bergerak” dan “mengambil”, seolah-olah tidak ada usaha dan teka-teki yang terjadi.)

Di ibu kota Parsa (Persepolis), Alexander membakar istana yang dibangun oleh Khsyarsya satu setengah abad sebelumnya. Alibi Alexander, hal ihwal itu pembalasan karena Khsyarsya dahulu membumihanguskan Athena. Darius kabur tetapi dibunuh oleh salah seorang gubernurnya.

Alexander mengadakan upacara pemakaman kerajaan untuk sang maharaja dan mengvonis mati pembunuhnya. Dia lantas menuju makin jauh ke timur, memutari gurun, melewati pegunungan gersang. Terkadang orang-orangnya baru bisa mencapai benteng musuh dengan cara mendaki bebatuan bersalju dengan inayat tombak dan pasak besi.

Selanjutnya Alexander sampai ke India. Keberaniannya membidas tanah Hindustan dengan kekuatan pasukan sekitar 30.000 prajurit itu sudah mencapai taraf sinting! (Tentu saja, dia tak punya peta dan tidak tahu seberapa besar India sebenarnya.)

Kita hanya bisa menebak alasan Alexander. Pertama, Persia pernah menguasai ujung barat laut India, sepanjang Sungai Sindhu, dan Alexander selalu penasaran, dan barangkali dia ingin juga menjelajahi negeri eksotik itu. Dan kedua, dia seorang penakluk. Penaklukkan adalah pekerjaannya. Jadi, Alexander memimpin tentaranya ke Sindhu, dan dekat sungai itu, dia memangkah seorang raja yang menyerangnya dengan dua ratus gajah perang yang mencabarkan.

Menurut legenda, tatkala berada di India, Alexander bertemu beberapa orang suci yang tinggal di hutan, yang mengatakan kepadanya bahwa semua penaklukkannya tak berarti. Dia hanya memiliki apa yang mereka lakukan: tanah tempat berdirinya. Alexander menyanjung perkataan mereka.

Sang penakluk pun memberitahu anak buahnya bahwa mereka akan masuk makin dalam ke India. (Bisa jadi Alexander percaya dia berada dekat ujung timur bumi. Orang Yunani beriktikad bahwa Bumi berbentuk piringan nan dikelilingi sungai bernama Okeanos.) Ketika dia menyampaikan rencananya, pasukannya pun terkinjat. Mereka sudah berada jauh sekali dari rumah, kepanasan, kelelahan sesudah bertahun-tahun berperang. Mereka bertanya, apa dia tidak bakal berhenti? Yang tak terduga pun terjadi.

Baca Juga:  NU Era Gus Dur di Mata Djohan Effendi

Menurut sejarawan J. M. O’Brien (1994), pasukan Alexander yang setia itu berkata kepadanya, bahwa mereka tidak mau pergi lebih jauh lagi. Alexander bertengkar dengan mereka, dan selama beberapa hari bersungut-sungut dan mendekam dalam tenda. Namun akhirnya dia mengalah dan setuju untuk tidak maju lagi, sehingga mereka pun pulang. Sembari menderita kepanasan serta kekurangan makanan dan air, Alexander dan pasukannya bersusah payah kembali ke Iran.

Baca Juga

Apa yang Alexander rencanakan untuk perbuat dengan segala yang telah dia taklukkan? Tindakannya ketika mencapai Iran memberi kita beberapa petunjuk. Alexander menikahi puteri mendiang Darius, dan atas perintahnya, 80 perwira dan 10.000 serdadu bawahannya menikah dengan perempuan-perempuan Asia.

Alexander memindai pernikahan itu sebagai cara mempersatukan bangsa-bangsa yang telah dia taklukkan. Azam itu sudah lama dia utarakan kepada para jenderalnya, untuk mempersatukan tentaranya. Dia pun senang bisa meninjau pasukan beranggota 30.000 orang Persia yang dilatih bertempur di samping orang-orangnya sendiri.

Di satu pesta makan yang dihadiri perwakilan semua bangsa yang dia kuasai, Alexander menyampaikan apa yang –barangkali –benar-benar dia inginkan. Rupanya Alexander berdoa meminta perdamaian, dan agar bangsa-bangsa dalam imperiumnya bisa bersahabat (bukan sekadar taklukan), dan bahwa semua bangsa di dunia bisa hidup selaras serta bersatu.

Baca Juga:  Kisah Kayu Manis, dari Dupa Doa hingga Penyedap Rasa

Dari Iran, Alexander membawa pasukannya ke barat, ke Babilon, yang dia mau jadikan ibu kota, tetapi di sana dia sakit demam. Daya tahan tubuhnya sudah melemah setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi berat, juga luka-luka dan kebiasaan meminum minuman keras. Alexander semaput.

Ketika anak buahnya yang setia mendengar mengenai betapa sakit dia, mereka bersikeras ingin bertemu dia. Alexander tak mampu lagi merenjeng lidah, tapi selagi para prajuritnya –satu demi satu –berbaris melewati dia dalam senyap, tilikan mata Alexander mengucapkan selamat tinggal. Alexander mati pada Juni 323 SM, ketika berumur tiga puluh dua tahun (Davis 2018: 124).

Arkian, dalam satu dasawarsa, tanpa pernah mengambau dalam peperangan, Alexander telah membangun imperium yang membentang di seluruh Timur Tengah dan Mesir. Akan tetapi, sebenarnya dia tidak berbuat banyak dengan imperium itu. Boleh jadi, Alexander mengimpikan persatuan dan perdamaian dunia, tetapi dia belum mencapai cita-citanya. Alexander tak punya waktu, mungkin kepiawaian, dan mungkin angan-angan.

Alexander tidak menunjuk penerus untuk duduk di singgasananya. Tatkala seseorang bertanya kepada dia yang sedang sekarat, siapa yang harus menggantikannya, Alexander hanya berkata, “Yang terkuat.” Tidak heran apabila para jenderalnya tak dapat bersepakat mengenai siapa yang terkuat. Oleh sebab itu, tiga di antara mereka membagi imperium Alexander menjadi negara-negara lebih kecil (Mesir, Mesopotamia, dan Yunani) yang dianeksasi masing-masing jenderal.

Selama dua ratus tahun sesudahnya, mereka dan para penerusnya saling berperang. Provinsi-provinsi juga bergejolak berusaha memerdekakan diri. Pupuslah impian persatuan dan perdamaian Alexander.

Lihat Komentar (0)

Komentari