Sedang Membaca
Joyo Lengkoro Wulang dan Teladan Literasi Diponegoro
Agus Iswanto
Penulis Kolom

Lulusan Filologi Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang peneliti di Balai Litbang Agama Semarang

Joyo Lengkoro Wulang dan Teladan Literasi Diponegoro

Buku berjudul Joyo Lengkoro Wulang ditemukan di markas Pangeran Diponegoro di Selarong pada Oktober 1825. Buku tersebut ditulis di atas kulit kayu (naskah). Buku tersebut juga diduga kuat sebagai salah satu koleksi pribadi Sang Pangeran yang ikut disita oleh Belanda.

Buku tersebut berisi beraneka ragam seni kenegarawanan dalam bentuk cerita tentang seorang pangeran muda yang berkelana ke seluruh pulau dan bertemu dengan banyak guru di berbagai bidang kehidupan, baik yang “sekuler” (untuk pengertian kita sekarang) dan agamis hingga yang bernuansa mistis.

Buku Kiai Said
Pangeran Diponegoro dalam pengasingan sedang membaca teks mengenai tasawuf, ditemani istrinya, Raden Ayu Retnaningsih. Di bawahnya duduk anak lelakinya, Pangeran Ali Basah. Gambar diambil dari Babad Diponegoro: An Account of Outbreak of the Java War (1825-1830) karya Peter Carrey

Demikian salah satu fragmen tentang riwayat pendidikan sang pangeran yang disampaikan sejarawan Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro, Peter Carey (2011) dalam bukunya Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855). Dalam bagian ini, Carey banyak menceritakan soal berbagai ragam koleksi bacaan sang pangeran. Juga mendedahkan kebiasaan sang pangeran untuk membaca berbagai macam literatur.

Diponegoro membaca kitab-kitab Islam di berbagai bidang keilmuan, seperti Kitab Tuhfah, sebuah risalah sufi yang berjudul lengkap Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kitab Tuhfah adalah karya tasawuf dari seorang ulama Anak Benua India, Fadhullah Al-Burhanfuri (w. 1620 M). Kitab ini adalah ringkasan ajaran Ibn Arabi. Kitab ini adalah salah satu teks terpenting yang menjadi bahan perbincangan, bahkan perdebatan, dalam pemikiran keagamaan Islam (terutama tentang tasawuf wahdatul wujud) baik di Jawa maupun di Sumatera pada abad ke-17. Ajaran yang tertuang di dalam kitab ini kemudian lebih dikenal dengan martabat tujuh.

Pangeran Diponegoro juga akrab dengan literatur keagamaan yang lebih “ortodoks” baik dalam bidang kalam (teologi) maupun fikih (hukum Islam). Dalam bidang yang terakhir disebut, Diponegoro membaca kitab-kitab fikih yang sudah cukup dikenal di kalangan pesantren, seperti Taqrib dan Muharrar. Dengan rasa bangga, di hadapan pejabat kolonial, Sang Pengeran menyebut koleksi kitab fikihnya yang dikoleksi seorang sahabatnya di Yogyakarta sepanjang Perang Jawa berkecamuk. Dengan kitab-kitab fikih ini juga, sang pengeran mengritik pembaharuan hukum yang dilakukan oleh Raffles karena memangkas kewenangan pengadilan agama Jawa Surambi.

Pangeran Diponegoro tidak hanya membaca kitab-kitab Islam berhaluan ortodoks, tetapi juga kitab-kitab etika politik pun menjadi rujukan. Contohnya, dia membaca Taj al-Salatin (mahkota para raja), sebuah kitab populer di dunia Melayu dan Jawa yang berisi tentang etika kepemimpinan dalam Islam. Kitab ini juga menjadi salah satu karya yang pertama disalin ulang di Keraton Yogyakarta setelah koleksi perpustakaan keraton di rampas oleh Inggris pada 1812.  Bahkan, Diponegoro mengharuskan adiknya, yakni Sultan Hamengkubuwono IV (bertahta 1814-1822) membaca buku ini ketika ia sedang menyelesaikan pendidikannya di keraton.

Tidak terbatas pada karya-karya yang disadur dari tradisi Timur Tengah (Persia), Diponegoro pun membaca karya sastra Jawa Kuno versi Jawa Baru, seperti Serat Rama (suatu kisah Ramayana dalam versi Jawa Baru), Bhoma Kawya (episode kisah yang menceritakan peperangan Prabu Kresna dengan Sang Bhoma), Arjunawijaya (suatu kisah kemenangan Arjuna) dan Arjunawiwaha  (suatu kisah Mahabarata dengan episode Sang Arjuna melawan raksasa Sang Niwatakawaca). Ia juga akrab dengan kisah-kisah wayang dalam tradisi Jawa Baru,  bahkan Babad Diponegoro, sebuah autobiografi Diponegoro yang ditulis oleh dirinya sendiri, banyak berisi kiasan tokoh dari dunia pertunjukkan wayang Jawa.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saat diasingkan di Manado, sang pengeran meminta kepada pemerintah kolonial untuk menyalinkan seluruh kisah wayang Purwa hingga Bratayudha, kisah-kisah kepahlawanan Islam terkenal, Menak Amir Hamza, Serat Manikmaya (suatu kisah kosmogini atau asal-usul alam semesta yang berkaitan dengan dongeng pertanian dan tradisi wayang), dan Serat Angreni (suatu kisah Panji). Buku-buku tersebut diminta oleh Diponegoro untuk menjadi bahan pendidikan anak-anaknya yang lahir di tempat pengasingannya. Ini menunjukkan betapa Pangeran Diponegoro perhatian dengan literasi anak keterunannya.

Demikianlah, orang-orang Belanda di masa Perang Jawa akan menyatakan betapa terpelajarnya Diponegoro bila dibandingkan dengan keluarga  lain di Keraton Yogyakarta. Hal yang penting dicatat, meskipun bacaan Pangeran Diponegoro luas dan dianggap ahli dalam perkara hukum Islam, Ia tetap meminta pendapat ulama yang dianggap lebih ahli untuk memutuskan suatu persoalan atau meminta nasihat yang dibutuhkan. Inilah yang menunjukkan kelapangan hati Sang Pangeran di tengah luas bacaannya.

Budaya literasi menjadikan sang pengaran toleran sekaligus tegas dalam prinsip. Ini ditunjukkan dalam sebuah laporan pejabat kolonial yang menyebutkan bahwa Diponegoro dengan jelas menunjukkan sikap toleran terhadap orang Belanda yang Kristen, meskipun tegas tidak sepakat bahkan mengkritik konsep trinitas yang diyakini.   

 

 

 

Baca juga:  3 Model Kekuasaan dari al-Khulafa ar-Rasyidun ke Muawiyah
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top