Sedang Membaca
Ibu Saya Gila

Ibu Saya Gila

M Faizi

“Hari itu kami pergi ke rumah Kiai Ahmad,” tutur paman saya (penulis), mengisahkan cerita ini. “Saya pergi sama Mahmud, ngantar dia yang bilang mau sowan sama Kiai Ahmad, yang kebetulan memang paman sepupunya. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuan si Mahmud ini. Saya hanya ikut karena diajak. Begitu saja alasannya. Ternyata, si Mahmud malah pergi untuk curhat.”

Di hadapan Kiai Ahmad, Mahmud bilang begini: “Saya minta sambung doa, Kiai, untuk kesembuhan ibu saya yang kumat lagi gilanya. Beliau bikin gara-gara lagi tempo hari.”

Kiai Ahmad tersenyum, seperti menyimak, tapi ekspresi seperti tidak kaget. Masyarakat memang mengenal kasyaf-nya Kiai Ahmad, yang konon dapat membaca pikiran orang serta kejadian yang rumit dipecahkan dengan logika manusia kebanyakan.

Dan Kiai Ahmad sendiri memang tahu kondisi Nyai Syam, ibu daripada Mahmud ini, ibu yang sedang di-curhat-kan itu, karena memang sepupunya sendiri.

Orang-orang mengenal Nyai Syam (ibu Mahmud) sebagai nyai yang nyeleneh. Beliau sering pergi keluyuaran dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Tak jarang beliau menggunakan sepatu boot dan baju tiga lapis. Gelang manik di tangannya sangat banyak. Tapi, masyarakat tidak menyebutnya “gila”, tapi ‘khilaf’.

“Oh, itu. Gampang. Kamu cukup baca Surah Yasin,” perintah Kiai Ahmad kepada Mahmud.

Baca juga:  Inspirasi Gus Baha

“Berapa kali, Paman Kiai?”

Baca Juga
anak anak masjid

“Setiap habis Magrib, sekali saja, yang penting istikamah. Jangan lupa, siapkan segelas air di dekatmu. Setiap kali kamu selesai membaca Yasin, tiuplah air tersebut.”

“Terus,” tanya Mahmud penasaran, “Air tersebut mau saya minumkan sama Ibu saya?”

“Tidak! Kamu yang pantas meminumnya.”

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top