Sedang Membaca
Dalail Khairat: Citarasa Prosa Lirik dalam Shalawat
M Faizi
Penulis Kolom

Penyair, tinggal di Pesantren Annuqoyah, Sumenep

Dalail Khairat: Citarasa Prosa Lirik dalam Shalawat

Dalail Khairat: Citarasa Prosa Lirik dalam Shalawat

Dalail merupakan kumpulan shalawat yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Sulaiman al Jazuli. Di dalamnya, terhimpun shalawat-shalawat yang popular di zamannya dan juga pujian yang ia susun sendiri. Dengan begitu, Dalail merupakan kumpulan shalawat yang dipadukan dan hadir sebagai menu baru.

Dalailul Khairat, setahu saya, adalah bacaan shalawat terpanjang yang pernah ada. Bentuknya berbeda dengan shalawat-shalawat lain yang umumnya berbentuk syair, seperti Diba’i atau Simtud Duror. Ia dibangun sebagai prosa dengan penjagaan pada figure of speech yang kuat, rima dan juga repetisi, sehingga ia dapat disebut prosa lirik. Ia dibagi menjadi delapan bagian (hizib), sesuai hari-hari dalam seminggu (dua kali untuk hari Senin: Senin pembuka dan Senin penutup).

Jika dibaca menggunakan langgam, butuh waktu 15-20 menit untuk bacaan per harinya, tentu saja dengan syarat sudah lancar. Tapi, jika dibaca sampai khatam dalam sekali duduk, maka butuh waktu sekitar 75 menit jika sendirian atau 3 jam jika dibaca bersama-sama. Berdasarkan pengalaman pembaca, mereka biasanya asyik-masyuk saat tenggelam dalam bacaan madah nan panjang ini, dan itu membuatnya lupa pada angka-angka dan waktu. Larut dalam cinta pastilah membuat seseorang lupa pada apa pun kecuali pada dicintainya. Lebih dari itu, sejalan dengan perkembangan waktu, ia menjadi rutinan dan dibacakan secara perorangan, oleh kelompok tarekat, maupun oleh komunitas masyarakat tertentu.

Berbeda dengan Durrun Nasihin yang disusun oleh Al-Qadli Syaikh Yusuf bis Ismail An-Nabhani yang merupakan antologi shalawat secara ensiklopedik–dalail berdiri sendiri, utuh. Hizib-hizib lain yang ditemukan di dalamnya-seperti ditemukan di cetakan Indonesia—hanyalah rekayasa penerbit yang disisipkan ke dalam buku, bukan bagian dari Dalail itu sendiri.

Baca juga:  Masymumat al-Warrad Fi Tartib al-Awrad: Jejak Peninggalan Khazanah Spiritual Islam di Tanah Buton

Dalail—jika kita dalami keindahan susunannya—akan mirip dengan genre prosa lirik. Ibarat kata, Dalailul Khairat, secara bentuk, sedikit mirip dengan Tukang Kebun-nya Rabindranath Tagore atau Sang Nabi-nya Kahlil Gibran. Akan tetapi, secara isi, ia berbeda sama sekali, baik dalam hal gaya, lebih-lebih dalam hal materi.

Dalail ditulis dengan bahasa yang sangat puitis, dengan penjagaan pada rima dan pilihan kata. Gaya yang paling banyak digunakan adalah repetisi. Penyusun menggunakan jumlah—dan ini juga merupakan pilihan gayanya—benda yang terhitung dan tak takterhitung. Misalnya, “Sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad sejumlah orang yang bershalawat kepadanya, dan sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad sejumlah orang yang tidak membacanya”. Penyusun terkadang menggunakan bentuk takhitung dalam berbagai variasinya, seperti “sejumlah butiran pasir di gurun”, “sejumlah daun-daun pohon zaitun”, “sejumlah tetesan air hujan”, atau dalam redaksi yang berbeda: “sejumlah napas manusia” dan hitungan “sejak ia diciptakan pada awal mula hingga Kiamat, setiap hari, seribu kali”, dst.

Dalail mengandung lebih dari 400-an pujian untuk Nabi, termasuk di antara pujian lewat nama-nama dan sifat-sifat. Nama Nabi, sebagaimana diketahui, ada 201. Dalam ritual pembacaannya, nama-nama tersebut dibaca di awal mula, setelah Asmaul Husna. Ada pula yang melengkapi bacaan dengan Surah Yasin, meskipun ada pula yang tidak kedua-duanya. Model cara membaca ini memang beragam, bergantung kepada mujiz (orang yang memberikan ijazah)-nya.

Baca juga:  Mencari Tuhan: Menyusuri Jalan Cinta

Akan tetapi, menurut Kiai Sufyan Miftahul Arifin, salah seorang mujiz dari Situbondo, istilah ijazah untuk shalawat sebetulnya bukanlah ijazah secara hakiki karena—menurutnya, redaksinya kurang lebih seperti ini: “shalawat itu nyambungnya langsung kepada Rasulullah”. Mujiz hanya membimbing benar-tidaknya bacaan dan cara membaca (anggapan seperti ini bukan tidak berdasar sebab saya pernah menemukan sebuah naskah Dalailul Khairat versi terjemahan Indonesia yang banyak sekali kekeliruannya, terutama dalam tulisan teks aslinya, seperti penyebutan ‘alā [untuk] menjadi āli [keluarga] yang tentu saja menyebabkan perubahan makna yang signifikan).

Namun demikian, praktiknya, ijazah dalail tetap menjadi hal penting yang harus dipegang oleh para pengamalnya karena rata-rata para pengamal itu memiliki lebih dari satu jalan riwayat ijazah, bahkan hingga lima jalur atau bahkan lebih yang kesemua itu adalah demi kemantapan niat saja.

Umumnya, Dalail memang dibaca setiap hari. Namun, ada pula yang dibaca hanya satu minggu sekali, langsung khatam (jika tidak salah, ijazah seperti ini dapat ditemukan di Kediri). Ada pula yang hanya membaca Hizib Hari Jumat. Konon, cara ini hanya diperuntukkan kepada orang yang terlalu sibuk sehingga merasa berat atau susah kalau harus membacanya setiap hari selama sepekan (model seperti itu jika tak salah berasal dari Banjar). Cara lain yang lebih berat adalah amalan seperti yang diajarkan oleh—salah satunya—Kiai Basyir Kudus. Pembaca Dalail diharuskan berpuasa menahun dengan pembagian jumlah.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (70): Hikayatul Hayawan, Memetik Nasihat dari Kisah-Kisah Fauna

Tarekat yang secara disiplin menjalankan pembacaan ini adalah Tarekat Syadziliyah (dengan sanad ke Imam Hasan bin Ali Kw). Dalam pertemuan tahunannya di Toronto, Dalail dibacakan di satu majlis dalam sekali duduk. Di Aceh juga ada yang model seperti ini, bahkan diperlombakan. Aceh ditengarai sebagai pintu masuknya Dalailul Khairat ke Nusantara.

Meskipun begitu, yang menganggapnya sebagai biang kesesatan juga ada. Tak tanggung-tanggung, penyusunnya,  Muhammad bin Sulaiman al Jazuli, bahkan dianggap sebagai pelopor kemusyrikan dari abad ke 9 Hijriyah, satu barisan bersama Abu Hafs al-Mishri, Al-Jiili, Al-Jurjanji, dll. Demikian pandangan Khalid bin Ali al-Mardhi al-Ghamidi dalam syarah Nawaqidl al Islam karangan Bin Baz.

Mengapa ada anggapan seperti itu? Salah satunya adalah karena cara ekspresi yang dilakukan oleh Al Jazuli ini termasuk ghuluw atau sikap berlebihan, memuji manusia hingga ke derajat yang tak pantas, dan hal itu—menurutnya—tidak pernah diajarkan oleh Nabi sendiri. Tentu saja, semua ekspresi puitis itu cenderung berlebihan dan berlebihan dalam hal metaforis tidaklah sama artinya dengan berlebihan secara literal. Singkatnya, menafsirkan yang metaforis dengan cara literal tidak akan pernah menemukan titik sambung dan persamaan.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top