Sedang Membaca
Tafsir Al-Ibriiz: Kitab Suci di Jawa
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Tafsir Al-Ibriiz: Kitab Suci di Jawa

Al Ibriiz

Kapal-kapal berdatangan ke Nusantara. Kitab suci pun datang. Kita meniliki ratusan tahun lalu. Kitab suci datang dibawa manusia-manusia dari pelbagai negeri. Kitab suci melintasi samudera-samudera.

Kitab suci datang, bahasa-bahasa pun datang. Di Nusantara, bahasa-bahasa berbeda itu menimbulkan kagum, pikat, pujian. Bahasa-bahasa juga disikapi sebagai aneh, asing, dan unik. Bahasa-bahasa turut menguak sangsi dan keajaiban.

Pada suatu masa, kitab suci itu sampai ke Jawa. Di telinga, pembacaan kitab suci memberi panggilan iman. Di tatapan mata, kitab suci memiliki huruf-huruf istimewa. Kita membuka lembaran-lembaran silam saat bahasa Arab dan aksara Arab turut dalam babak-babak perubahan peradaban di Nusantara. Bahasa dan aksara itu mengajukan tema besar: kitab suci.

Abad demi abad berganti, kitab suci bergerak dalam dakwah Islam di Nusantara. Kitab suci itu menggerakkan Jawa menjadi ruang keimanan dengan pengaruh-pengaruh baru untuk “bercampur” atau “selaras”. Orang-orang Jawa perlahan beriman dan berpegangan kitab suci.

Pada abad XX, kitab suci itu makin “termiliki” bagi orang-orang Jawa beragama Islam. Kitab suci dalam arus percetakan dan kerja-kerja penafsiran. Kita mengingat tokoh, usaha penerbitan, usaha percetakan, komunitas keagamaan, institusi pendidikan, dan lain-lain. Kita memilih mengingat satu nama: KH Bisri Musthofa (1915-1977).

Sosok itu mendirikan pesantren di Rembang. Pada suatu masa, nama itu melekat dengan Tafsir Al Ibriiz. Di majalah Tempo, 20 Mei 2007, kita membaca keterangan: “Buku tafsir itu menggunakan huruf Arab pegon. Bahasanya Jawa tapi ditulis dalam huruf Arab – atau huruf Arab-Jawi. Cara membacanya pun khas agar orang tak sekadar tahu arti kata per kata tapi sekaligus belajar memahami nahwu-shorof alias tata bahasa.”

Baca juga:  Dari Minim Kritikus ke Jalan Kritik Sastra

Dua halaman di Tempo mengajak pembaca mengenali dan menghormati KH Bisri Musthofa. Kiai rajin menulis buku-buku berpengaruh besar, terutama di pesisir. Keterangan-keterangan singkat terbaca di Tempo meski kita diharuskan mencari sumber-sumber tepat dan benar.

Kalimat-kalimat terbaca mengenai Al Ibriiz: “Entah mengapa Kiai Bisri Musthofa memberi nama Al Ibriiz pada tafsir Quran karangannya. Kata itu, menurut kamus bahasa Arab terkemuka, Al Munjid, berasal dari bahasa Yunani yang berarti emas murni. Dari segi judul, bisa jadi dia terilhami kitab manakib klasik Al Ibriiz, yang ditulis sufi besar asal Maroko yang hidup di abad XVIII, Syaikh Abdul Aziz Al Dabbagh.”

Pada 2015, terbit Al Ibriiz: Terjemah Al Quran Bahasa Jawa Latin (Berdasarkan Kitab Aslinya Al Ibriiz Jawa Pegon). Terjemahan itu diterbitkan Menara Kudus. Di situ, kita membaca pengantar dari KH Ulil Albab Arwani: “Hadiripun Tafsir Al Ibriiz wonten ngersanipun para tiyang ingkang maos kelawan angginaaken basa Jawa lan kelawan tulisan Latin inggih menika, cetakan ingkang nglanjutaken sangking damel hal-hal ingkang sampun sinebut lan kanggeng ngasilake nyumrambahaken Al Quran wonten ing bumi meniko. Ingkan ngangge arti inggih supados Al Quran saget dipahami maknanipun ugi kandungan-kandunganipun ingkan saget dipun praktekake wonten ing dinten-dintenipun alam kagesangan.”

Baca juga:  Menyembah Allah dalam Diam

Kita ingin memiliki Al Ibriiz mesti mengeluarkan uang dua ratusan ribu rupiah. Kehadiran dengan huruf berbeda, sejak terbit 1959, mengajak orang-orang menemuki Al Ibriiz. Pilihan huruf atau aksara turut menentukan bagi orang-orang di Jawa “masuk” dan “menikmati” Al Ibriiz dalam situasi dan abad berbeda dari masa lalu. Kitab itu tampil berukuran besar dengan sampul warna hitam dan tulisan-tulisan keemasan. Mata memandang sudah takjub. Mata membaca bakal bergerak dalam arus iman.

Di majalah Tempo, kita membaca tentang Al Ibriiz edisi lama: “Tafsir Al Ibriiz merupakan kitab yang paling laris dan terus mengalami cetak ulang tiap tahunnya.” Kita mengerti ikhtiar KH Bisri Musthofa berterima oleh umat Islam di Jawa. Konon, Al Ibriiz juga beredar ke negara-negara berbeda, terbaca orang-orang memiliki leluhur atas berasal dari Jawa. Keterangan cukup mengejutkan: “Naskah Al Ibriiz dibayar dengan biaya berhaji untuk enam orang, Mbah Bisri dan keluarga.” Keterangan dari pihak cucu. Begitu.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top