Pengalaman Jumatan di Bandung: Khatibnya Tidak Paham

M. Faisol Fatawi
"Walk Out" Saat Khutbah Jumat

Siang itu azan dikumandangkan. Pertanda rangkaian salat Jumat dimulai. Tak lama setelah azan, seorang khatib naik ke mimbar. Khutbah pun dimulai. Dengan mengenakan jubah, sang khatib memulai khutbanya.

Khutbah dibuka dengan membaca tahmid dan selawat. Sang khatib kemudian mengisi khutbah dengan mengutip ayat dan menjelaskannya, dengan Alquran terbuka di depannya. Tanpa membawa teks. Sesekali bacaan ayat Alquran yang terlontar dari lisannya, terdengar tidak fasih. Isi khutbahnya lebih bernada provokatif dan intoleran. Khutbah ditutup dengan doa singkat.

Dalam khutbah kedua, sang khatib melakukan hal yang sama sebagaimana pada khutbah pertama. Dalam khutbah kedua, ia melanjutkan penjelasannya terkait dengan pemahaman ayat yang telah dikutip dalam khutbah pertama. Akhirnya, khutbah kedua pun selesai, dan ditutup dengan doa. Ikamah pun berkumandang, dan diakhiri dengan salat Jumat berjamaah.

Itulah cerita singkat dari pengalaman saya saat mengikuti salat Jumat pada sebuah masjid yang berada di tengah kota besar, Bandung Jawa Barat.

Hal yang cukup mengganggu pikiran, sejauh pengamatan saya selama mengikuti salat Jumat pekan lalu, adalah bahwa dalam berkhutbah sang khatib tidak membaca wasiat takwah yang justru menjadi rukun dalam khutbah Jumat.

Dan kesalahan ini dilakukan dalam kedua khutbah Jumat. Saya berhunuzan saja, mungkin kesalahan ini muncul karena tidak sengaja. Tetapi dalam hati kecil, saya mengatakan pasti kesalahan itu muncul karena kekurang-pahaman sang khatib dalam menguasai fikh salat, dalam hal ini khutbah Jumat.

Baca Juga:  Politik Gus Dur, Yitzhak Rabin, dan Lobi Yahudi

Baca juga:

Saya melihat peristiwa yang terjadi seperti ini sudah sering terjadi. Tidak hanya pada satu tempat, tetapi di beberapa tempat. Kejadian yang seperti itu, hampir menjadi “gejala sosial-keagamaan” di tengah masyarakat kita, lebih-lebih dalam komunitas keagamaan tertentu.

Dari pengamatan yang saya lakukan, sekarang ini telah terjadi gejala munculnya dai-dai atau ustaz-ustaz atau khatib-khatib yang “defisit ilmu”. Artinya, mereka dengan berani tampil di depan publik untuk menyampaikan nasihat-nasihat agama Islam, tetapi sebenarnya apa yang disampaikannya tidak sebanding dengan kedalaman penguasaan keilmuan terhadap agama Islam.

Saya melihat “defisit ilmu” sebagai gejala yang lahir akibat, anatara lain, era revolusi digital. Era ini telah menyuguhkan kemudahan bagi siapa pun untuk mengakses informasi dan ilmu pengetahuan. Bahkan dengan berdiam saja, seseorang bisa mendapatkan berbagai ragam informasi dan pengetahuan. Tentunya, hal ini sangat berdampak bagi seorang dai dalam mengakses ilmu pengetahuan keagamaan Islam.

Bisa dibayangkan, di tengah aktivitas kehidupan yang cukup padat, seorang dai dituntut untuk menjelaskan nilai ajaran agama yang begitu luas dalam waktu yang cukup singkat, dan bahkan berganti-ganti tempat. Seorang dai dituntut untuk menguasai berbagai tema ajaran Islam.

Baca Juga:  Kaum Delusif di Jumat Agung

Bagi seorang dai yang sejak awal sudah memiliki tradisi literasi yang baik, misalnya bergelut dengan banyak bacaan literatur, mungkin tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki tradisi literasi yang baik, maka akan menjadi sebuah kesulitan dan tantangan tersendiri.

Singkatnya, dengan tuntutan yang semakin tinggi, mencari informasi atau pengetahuan agama lewat media sosial menjadi jalan pintas. Akibatnya, pengetahuan agama yang diperoleh pun bersifat parsial dan tidak mendalam.

Di era revolusi digital seperti sekarang ini, literasi pengetahuan menjadi kebutuhan yang niscaya. Seseorang dituntut untuk bersifat kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Jika tidak, maka apa yang disebut “tsunami informasi” itu akan mengancam diri seseorang. Atau bahkan bias saja mengantarkannnya pada dunia penuh fitnah. Ini juga menjadi tantangan setiap orang yang beragama. Salah dalam menerima, mengakses dan memperlakukan informasi, maka seseorang akan dimakan oleh informasi itu sendiri. Ujung-ujungnya adalah menyebarkan berita hoax dan ujaran intoleran.

Sebuah kenyataan tidak dapat ditolak, bahwa revolusi digital telah melahirkan kondisi yang paradoks. Mesin-mesin digital yang sejatinya dapat mempermudah seseorang dalam mengakses informasi, justru cenderung dimanfaatkan sebagai media untuk memproduksi fitnah dan ujaran kebencian. Bahkan tak jarang informasi yang lebih bersifat fitnah itu menggunakan dalil-dalil agama. Hal ini tentu sangat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

Baginda Nabi Muhammad menggambarkan bahaya fitnah (berita bohong) seperti “api yang membakar kayu”, cepat menghanguskan dan hanya menyisakan abu. Fitnah akan membuat situasi semakin keruh dan tidak jelas, memantik rasa curiga antar sesama. Baginda Nabi bahkan pernah mengatakan bahwa “akan datang suatu masa dimana fitnah-fitnah itu menjadi semacam lipatan-lipatan malam yang sangat mencekam, gelap dan menyesakkan.”

Munculnya seorang khatib seperti yang saya ceritakan di atas, membuat saya gelisah akan fenomena “defisit khatib” dalam beragama di era revolusi digital seperti sekarang ini.

Khatib fasih (tak jarang yang blepotan) mengutip ayat Alquran, tetapi tidak memahami secara mendalam maksudnya, karena tidak memiliki tradisi literasi pengetahuan yang baik, sehingga menjadi serampangan dalam menyampaikan pengetahuan agama Islam.

Sungguh, saya teringat dengan sabda Rasulullah saw:

Akan datang kepada manusia sebuah masa (tahun-tahun) penuh tipuan dimana seorang tukang bohong berlagak menjadi orang yang jujur (benar), seorang yang jujur bertindak menjadi pembohong, seorang pengkhianat menjadi kepercayaan, seorang yang terpercaya dikhianati, dan seorang ruwaibidlah berani berkata-kata.

Dikatakan: “Siapakah ruwaibidlah itu?” Rasul pun menjawab: “Dialah orang bodoh yang berbicara tentang urusan umat.”

Na’udzu billah min dzalik.

Lihat Komentar (6)

Komentari