Sedang Membaca
Potret Tiga Serangkai dari Tegal (3): Zaldi SA Sang Pionir Master of Ceremony
Luthfil Hakim
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Danawarih, Balapulang, Tegal dan Alumni Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah, Kambangan, Lebaksiu, Tegal.

Potret Tiga Serangkai dari Tegal (3): Zaldi SA Sang Pionir Master of Ceremony

Zaldi Sa (1)

Sosok terahir dari “tiga serangkai” asal Tegal yaitu Zaldi SA atau akrab disapa abah Zaldi.  Beliau merupakan sahabat karib dari KH. Imam Sibaweh, dan KH. Zaeni Nadhif. Nama lengkap beliau adalah Zaldi Saefudin Adnan namun lebih akrab disapa Zaldi SA. SA sendiri merupakan akronim dari Saefudin Adnan yang jadi pelengkap namanya.

Beliau lahir pada tanggal 6 April 1956 di Desa Pegirikan, Kec. Talang, Kab. Tegal buah pasangan dari ibu Bunayah, dan bapak Adnan.  Zaldi kecil mulai mengenyam pendidikan formalnya di SDN Pegirikan, kemudian menamatkan jenjang menengah pertamanya di SMPN 1 Adiwerna.   Selain dibekali pendidikan formal, Zaldi SA juga tercatat pernah bersinggungan dengan pendidikan non formal dengan ngansu kaweruh langsung kepada KH. Syaban, Pemalang. Kepada KH. Sya’ban, Zaldi SA muda belajar berbagai fan ilmu agama Islam, mulai dari ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu tajwid, hinga ilmu elat yang menjadi benteng dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk ketika mulai berkenalan dengan dunia penyiaran di radio.

Di usia mudanya beliau mulai aktif menjadi penyiar radio Raka 10.44 Am sejak era 80-an hingga bermigrasi   menjadi penyiar radio Raka Fm Tegal pada tahun 2000-an (kini radio tersebut sudah berhenti operasi sejak tahun 2016) yang mengudara di kanal 98.8 Fm.

Baca juga:  Al-Ghazali, Sains, dan Jawaban atas Tuduhan Kemunduran Islam

Keluwesan, dan kepiawaiannya yang ditopang dengan suara empuknya dalam setiap on air membawakan mata acara ajojing (ayo joget jingkrak-jingkrak), dan salela (salam lewat lagu) membuat abah Zaldi digandrungi oleh masyarakat Tegal dan sekitarnya.

Keluwesannya dalam membawakan acara di dalam bilik siarnya pun ahirnya menghantarkan abah Zaldi untuk off air sebagai master of ceremony (MC) dari panggung dakwah satu ke panggung dakwah yang lain, mulai dari panggung dakwah yang diisi oleh dai sejuta umat KH. Zainudin MZ (w. 2011), hingga dai kondang Ustadz Jefri Al Buchori (w. 2013) semua pernah dinahkodainya.

Hingga ahirnya takdir mempertemukan abah Zaldi dengan KH. Zaeni Nadhif, dan juga KH. Imam Sibaweh dalam satu panggung dakwah sebagai paket “tiga serangkai” yang melanglang buana dari  panggung dakwah satu ke panggung dakwah yang lain, saling melengkapi “rukun pengajian”. Mulai dari panggung dakwah Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Maulid Nabi Muhammad s.a.w, Isra Mi’raj dan berbagai panggung haflah ahirussanah yang digelar baik oleh madrasah, hingga pesantren-pesantren yang ada di bumi Persekat.

Bagi sebagian masyarakat Tegal, dan sekitarnya rasanya kurang afdhol jika menggelar acara, baik itu pengajian walimatul hitan atau walimatul ursy maupun PHBI tanpa mengundang MC kondang asal Bumi Pegirikan, Talang, Tegal yaitu abah Zaldi SA, dengan pembicaranya yaitu KH. Zaeni Nadhif, serta  KH. Imam Sibaweh sebagai qarinya.

Baca juga:  Filsuf Suhrawardi dan Teori Iluminasi

Penghormatan Terahir

Abah Zaldi SA wafat pada Jum’at 6 Juni 2014 atau 46 hari pasca wafatnya KH. Zaeni Nadhif 22 Maret 2014 —yang juga sama wafat pada hari Jum’at— dalam usia 58 tahun. Sebelum disumarekan di “kampung pesarean” —diksi “kampung pesarean” saya pinjam dari Muhammad Yaser Arafat (MYA) untuk menggantikan diksi “kompleks pemakaman” yang menurut MYA “kompleks pemakaman” itu tidak mencitrakan tentang lahan untuk mengubur jenazah sebagai sebuah “kompleks” layaknya kompleks perumaan elit di tengah-tengah kota metropolitan— kelurahan Panggung sebagaimana wasiat dari abah Zaldi SA kepada anaknya Reza Ahdiyat agar disumarekan di “kampung pesarean” Kelurahan Panggung Kota Tegal, jenazah almarhum abah Zaldi SA terlebih dahulu disholati di Masjid Agung Kota Tegal sebagai penghormatan terahir dari masyrakat Tegal dan sekitarnya kepada almarhum.

Sosok egaliter tersebut meninggalkan seorang isteri yang bernama  Faiqatun,  dan meninggalkan satu orang putera yang bernama Reza Ahdiyat  —buah pasangan dari isteri pertamanya yaitu almarhumah Nurhayati yang meninggal ketika Reza masih berusia dua tahun— serta dua orang puteri yang bernama Rozalina, dan Rizki Khalalila.

Itulah sekelumit potret sosok “tiga serangkai” dari Tegal yang terbentuk dari panggung dakwah di bumi Japan van Java, yang mana ketiganya kerap kali diundang secara bersamaan dalam pengajian dan saling mengisi “rukun pengajian” yang telah di-“rukun”-kan. Bahkan sebagian warga Tegal juga ada yang menyebutkan:

Baca juga:  Genealogi Pemikiran Martin Lings: Dari Orientalisme Menjadi Sufisme

 “Kurang marem rasanya jika sudah ada KH. Imam Sibaweh, dan. KH. Zaeni Nadhif, tapi MC-nya bukan abah Zaldi SA, ataupun sebaliknya.”

Baik KH. Imam Sibaweh, KH. Zaeni Nadhif, dan abah Zaldi SA mereka semua merupakan putera terbaik Tegal.  Namun kini ketiganya sudah marak sowan ing ngarsane Gusti Allah SWT., dan masyarakat Tegal begitu sangat kehilangan sosok “tiga serangkai” yang egaliterian dan humanitarian tersebut. Masyarakat Tegal begitu sangat berhutang budi kepada sosok “tiga serangkai” tersebut yang sepanjang hayatnya, baik tenaga, dan pikirannya telah dikorbankan demi kemaslahatan bersama.

Kagem KH. Imam Sibaweh, KH. Zaeni Nadhif ugi abah Zaldi SA kula ndherek nakseni bilih panjenengan sedaya menika tiang ingkang sae. Mugi suwargi langgeng kangge panjenengan sedaya. Amin …

Linnabi lahumul fatehah …

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top