Sedang Membaca
Potret Tiga Serangkai dari Tegal (2): KH. Zaeni Nadhif, Dai Multitalenta dari Bumi Japan van Java.
Luthfil Hakim
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Danawarih, Balapulang, Tegal dan Alumni Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah, Kambangan, Lebaksiu, Tegal.

Potret Tiga Serangkai dari Tegal (2): KH. Zaeni Nadhif, Dai Multitalenta dari Bumi Japan van Java.

Kh. Zaeni Nadhif

Sosok kedua dari “tiga serangkai” yang berasal Tegal yaitu KH. Zaeni Nadhif. Beliau lahir di desa Cangkring, kec. Talang, kab. Tegal pada  5 Agustus tahun 1965 dengan nama lengkap Achmad Zaeni Nadhif. Dalam riwayat hidupnya, Zaeni Nadhif kecil ngangsu kaweruh di Sekolah Dasar (SD) Negeri Cangkring, kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) Darun Najah di bawah naungan Pondok Pesantren Darun Najah, Desa Kajeksan, Kec. Tulangan, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur yang diasuh langsung oleh KH. Masduqi Zakaria (w. 1988).

Kepada KH. Masduqi Zakaria —yang notabene merupakan pendiri pesantren Darun Najah, Kajeksan— KH. Zaeni Nadhif banyak belajar berbagai fan ilmu agama Islam. Mulai dari ilmu tauhid, fikih, tajwid, ilmu mantiq (logika), ilmu nahwu (gramatikal arab) hingga ilmu shorof (morfologi).

Setelah boyong dari Darun Najah, dan muqim di rumah, beliau mulai melakukan dakwah Islam rahmatan lil’alamin-nya di bumi Japan van Java atau Tegal. Metode dakwah yang dipakai oleh KH. Zaeni Nadhif terbilang cukup unik, dan menarik. Beliau begitu sangat terampil dalam mengemas setiap materi dakwahnya dengan sentuhan kalimat-kalimat yang berirama (linguistik) serta dibalut dengan aneka guyonan (humoristik), sehingga pesan dakwah yang telah disampaikan  begitu mudah diterima oleh masyarakat yang hadir dalam setiap pengajiannya.

Selain menggunakan sentuhan lingustik-humoristik, beliau juga menggunakan pendekatan sosio-kultural dalam setiap penyampaian materi dakwahnya. Materi yang diangkat dalam setiap pengajiannya  begitu sangat dekat dengan realita kehidupan sehari-hari masyarakat Tegal dan sekitarnya, sehingga materi dakwahnya pun mudah diterima oleh masyarakat.

Baca juga:  Andaikan Nabi Muhammad Hidup di Zaman Sekarang, Kira-kira Sedang Apa Ya?

Trade Mark Dakwah KH. Zaeni Nadhif

Selain mengisi dakwah dengan materi keagamaan, beliau juga kerap kali mengisi dakwahnya dengan berbagai bumbu kritik terhadap oligarki   yang dipanggungkan dengan renyah jenaka, sehingga instrumen kritik yang disampaikan tetap tersampaikan dengan baik, dan tidak menyakiti perasaan orang yang dikritik.

Semisal kritik terhadap oligarki yang berkaitan dengan perilaku  korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin, dan anggota dewan yang telah menjadi “endemi” di negara ini yang dipanggungkan dengan begitu renyah-jenaka oleh KH. Zaeni Nadhif.

“Pemimpin saiki yen pan nyalon pada promosi, nang endi bae diparani, adu argumentasi, publikasi, barang dadi  njagong kursi, nganggo dasi, mobile mersi, nerima kwitansi, barang dadi rakyate ora diurusi.”

“Sekolah dhuwur ora wedi maring Gusti Alloh, senajan dadi insinyur ya kerjane ngawur, ngetunge ora jujur negara ekonomine ancur. Jawa Barat Jawa Timur, rakyate mlarat pejabate sing makmur.”

“Sing gawe rusak gili kuwe dudu truk gandeng sing sering lewat, tapi mobil-mobil sedan sing mewah. Lha wong sing nggo mbangun gili duite disak wong sing nganggo sedan mewah. Kongkon tuku watu nggo tuku sepatu, kongkon tuku semen duite nggo ngrusmen, kongkon tuku pasir duite nggo plesir, kongkon tuku kayu duite digawa mlayu, kongkon tuku aspal duite diuntal, kongkon tuku wesi duite dikorupsi.”

Ya, di tangan beliau materi dakwah yang awalnya begitu sangat ruwet, dan begitu kaku dapat dikemas dengan begitu ringan, luwes nan jenaka, sehingga para jamaah yang hadir tidak mudah tegang, dan bosan.

Baca juga:  Ulama Banjar (140): Prof. Dr. H. M. Yusran Salman

Begitupun dengan kritik terhadap oligarki, di tangan KH. Zaeni Nadhif nada-nada kritik yang begitu tajam bisa diracik secara elegan. Dengan “dioplos” berbagai humor —yang menjadi trade mark dakwahnya— suasana dakwah yang awalnya panas langsung menjadi adem, otot, dan otak para jamaah yang mulanya tegang langsung kendor kembali. Sehingga baik pesan dakwah, dan kritikannya dapat tersampaikan dengan baik, serta tidak mudah “barlen”bubar pengajian terus materine klalen.

Linguistik-kritik-humoristik, boleh jadi itulah yang menjadi kekuatan, kunci, dan ruh dakwah dari seorang KH. Zaeni Nadhif, serta menjadi personal branding dalam setiap dakwahnya, sehingga dakwahnya mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat, dan kritikannya terhadap oligarki pun tersampaikan dengan apik.

Tentu personal branding di atas tidak dibangun dalam sekelip mata, namun dibangun dengan berbagai macam usaha, pengalaman, dan spirit dalam hidup KH. Zaeni Nadhif utamanya dalam hal menuntut ilmu. Ditempa dengan dua corak pendidikan berbeda sekaligus (manunggal) formal, dan non formal selama ngangsu kaweruh di kawah candradimuka Darun Najah, Kajeksan, membuat KH. Zaeni Nadhif begitu piawai dalam meramu setiap materi dakwahnya, sehingga tema dakwah yang dibawakan selalu up to date dengan kahanane zaman. Tidak hanya sekadar materi agama semata, namun materi tentang sosial, budaya, dan ekonomi, serta kemajuan zaman juga tidak pernah luput dalam setiap aksi panggungnya.

Baca juga:  Ulama Banjar (89): KH. Abdurrasyid Nasar

Namun bumi Japan van Java harus rela melepas kepergian salah satu putra terbaiknya untuk menghadap sang Khaliq. Tepat pada Jum’at 21 Maret 2014 beliau menghembuskan nafas terahirnya di rumah sakit Kardinah, Tegal. Oleh pihak keluarga kemudian jenazah beliau disumarekan di “kampung pesarean” desa Cangkring, Kec. Talang, Kab. Tegal.

Beliau meninggal dalam usia 49 tahun, dan meninggalkan seorang isteri yaitu Hj. Masithoh, dan dua orang putera yaitu: Muhammad Khoirul Anam Azzaen, dan Adib Azzaen, serta dua orang puteri, yaitu: Ichya Fauziah Azzaen, dan Evi Azzaen.

Tongkat estafet dakwahnya kini diteruskan oleh putranya yaitu Muhammad Khoirul Anam Azzaen, dan saudara-saudaranya yaitu: KH. Ma’arif Afandi, serta KH. Nur Shidiq    dengan meneruskan warisan yang telah ditinggalkan oleh KH. Zaeni Nadhif yaitu berupa jamiyyah manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jailani serta Yayasan Pendidikan Islam Darun Najah yang terletak di kelurahan Debong Kulon, Kec. Tegal Selatan, Kota Tegal.

Jamiyah manakib tersebut merupakan legacy terbesar yang telah diwariskan oleh KH. Zaeni Nadhif kepada umat Islam Tegal khususnya, dan masyarakat Tegal pada umumnya yang harus dijaga bersama. Jamiyah manakib Syeikh Abdul Qadir al-Jailani tersebut biasa digelar setiap Jum’at pagi, mulai dari pkl. 05:00 WIB s/d 08:00 WIB. Jika bertepatan dengan Jum’at Kliwon jamiyah tersebut biasanya penuh sesak oleh ribuan jamaah yang datang dari berbagai penjuru persada Tegal.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top