Sedang Membaca
Rahasia Sukses Nyantri ala Sahabat Anas Ibn Malik
Penulis Kolom

Alumni Institute Imam Malik, Tetouan-Maroko 2021. Sedang belajar mengajar dan mengasuh Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Daarul Uluum Lido-Bogor.

Rahasia Sukses Nyantri ala Sahabat Anas Ibn Malik

5920f8c20007372ece4b4ab764dbe809

Sahabat Anas Ibn Malik r.a merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadist nabi. Sebab ia adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan Rasulullah setelah sayyidah Aisyah, istri nabi. Kedekatanya dengan baginda Rasululullah juga menjadikannya sahabat sekaligus murid tercerdasnya Rasulullah Saw. Ia menjadi sahabat ke-tiga yang paling banyak meriwayatkan hadist setelah Abu Hurairah dan Abdulullah ibn Umar.

Anas juga adalah pelayan baginda Rasulullah sejak ia kecil. Ia sudah melayani nabi saat masih berumur 10 tahun sampai nabi wafat. Maka tak salah jika ia adalah orang yang paling mengerti budi pekerti baginda Rasulullah serta paling memahami maksud sabda baginda Rasulullah. Secara ruh dan akal, ia meneladani apa yang telah diajarikan oleh Nabi SAW. Dalam dirinya juga telah tumbuh suri tauladan yang ia ambil dari sosok baginda Rasullullah. Sebab itu, banyak masyarakat Madinah yang mendatanginya sebab ilmu dan pemahamannya tentang sabda nabi Saw.

Bukti bahwa dirinya benar-benar melayani Rasulullah SAW dan meneladani Rasulullah adalah pengakuan dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Anas bin Malik adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah Saw.

Kecerdasan dan kedekatan Sahabat Anas Ibn Malik dengan Rasulullah bukan lah sesuatu yang tak berdasar dan tak bermula. Semua itu terjalin sebab suatu pengorbanan dan latar belakang yang unik. Dan semua inilah yang menjadi kunci sukses Anas ibn Malik selaku santri Rasulullah.

Baca juga:  Kisah Perdebatan Seorang Badui dengan al-Hajjaj bin Yusuf 

Menitipkan anak kepada guru

Hal ini berawal saat Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke Madinah, saat itu, ibunya mengajaknya mendatangi Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah SAW, sungguh orang-orang anshar dan perempuan-perempuan anshar telah memberimu hadiah kecuali aku.

Dan aku tidak menemukan sesuatupun untuk dapat aku hadiahkan kepadamu, kecuali hanya anak laki-lakiku (ini). Maka terimalah dariku. Dia akan melayani keperluanmu,” kata ibunya.

Sejak itulah Anas resmi menjadi pelayan Rasulullah SAW hingga beliau wafat, saat Anas masih berumur 20 tahun.

Memang, anak kita pergi bukan untuk menjadi pelayan, tapi dari dialog Sang Ibunda yang menyerahkan anaknya kepada Rasulullah, kita akan memahami betapa besar dan luasnya hati Ibunda Anas ibn Malik merelakan anaknya yang masih kecil untuk ikut kepada baginda Rasululullah SAW.

Meminta doa dari guru

Selain mendapat keistimewaan dapat melayani Rasulullah SAW, Anas juga mendapat doa khusus dari beliau atas permintaan ibunya.

“Allahummar zuqhu maalaan wa waladan, wa baarik lahu.”

Ya Allah, limpahkanlah rizki dan keturunan kepadanya (Anas Ibn Maalik), dan berkahilah ia.

Berkat doa tersebut, Anas dewasa memiliki kebun kurma luas yang dalam setahun dapat panen dua kali. Saat dirinya meninggal, ia meninggalkan sekitar 120 orang anak dan cucu.

Baca juga:  Haji Fachrodin, Pahlawan Media dari Muhammadiyah

Dia pun memiliki umur yang panjang hingga 107 tahun, dan termasuk sahabat yang terakhir meninggal di Kota Bashrah pada 93 Hijriyyah.

Ulama adalah pewaris para nabi. Begitu salah satu adagium ummat islam. Maka doa-doa mustajabah ada di dalam doa para ulama. Maka seyogyanya, selain meminta foto bersama yang perlu kita utamakan adalah meminta doa dari sang guru. Dengan harapan, kelak kita atau anak kita ada dalam untaian doa para alim ulama.

Menumbuhkan rasa cinta kepada guru

Jauh sebelum bertemu Rasulullah, Anas ibn Malik  sudah diajak untuk jatuh cinta kepada baginda Rasulullah oleh ibunya. Sang Ibunda selalu menceritakan sosok Rasulullah kepada Anas kecil. Sosok yang begitu baik akhlaknya, ganteng parasnya, lembut budi pekertinya, dan segala keindahan ada dalam diri baginda Rasulullah. Semua hal itu masuk ke dalam relung hatinya sampai selalu terisi rindu untuk bertemu Rasululullah. Anas ibn Malik ingin sekali pergi ke Mekkah untuk bertemu sosok yang sering ibunya ceritakan. Dalam hidup Anas, hanya nama baginda Rasulullah yang sering disebut oleh kedua bibirnya.

Sampai hari itu pun hadir, hari ia bertemu baginda Rasulullah. Hari yang sangat menggembirakannya adalah hari pertemuannya dengan Rasulullah SAW, dan hari yang menyedihkan baginya adalah hari perpisahnnya dengan Rasulullah.

Baca juga:  Keistimewaan Kamus Al-Ashri Karya Kiai Atabik Ali

Kata-kata yang selalu dia ucapkan adalah: “Sungguh aku telah melihat Rasulullah SAW ketika datang kepada kami di Kota Madinah, dan sungguh aku telah melihat Beliau ketika beliau wafat di antara kita maka tidak ada hari yang lebih berharga dari pada keduanya.

Di hari pertama ketika Rasulullah SAW memasuki Kota Madinah, segala sesuatu tampak bercahaya, dan dihari ketika Rasulullah SAW meninggal segala sesuatupun tampak gelap gulita.

Dan hari terakhir ketika aku melihatnya adalah hari senin, ketika Sang Nabi membuka tirai kamarnya, maka aku melihat wajahnya putih bersih seperti lembaran kertas”

Betapa cinta sayyidina Anas kepada Rasulullah. Ini lah yang menjadi dasar kenapa ia mudah menyerap apapun yang datang dari Rasulullah.

Imam Zarkasyi dalam kitabnya Ta’lim muta’allim pun meyebutkan hal yang sama. Salah satu kunci mendapatkan ilmu yang bermanfaat adalah cinta dan hormat kepada guru dan apapun yang berkaitan dengan sang guru. Sebut saja misal, anaknya, saudaranya, keluarganya, dll.

Demikian, sedikit gambaran kehidupan Anas ibn Malik yang dapat menjadi contoh dalam kehidupan, terkhusus dalam meraih sebuah ilmu.

Disadur dari berbagai referensi, terkhusus kitab Suaru Hayaatis Shohabah karya Dr. Abdur Rahman Ra’fat Al-Basya.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top