Sedang Membaca
Osman Raliby, Jurnalis dan Politisi Masyumi dari Pidie
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Osman Raliby, Jurnalis dan Politisi Masyumi dari Pidie

Avatar

Dalam sejarah bangsa Indonesia, ada banyak sekali tokoh yang berperan besar namun tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Meski begitu, bukan berarti mereka biasa-biasa saja. Sebaliknya, banyak di antara jasa mereka sangat berarti dan terasa sampai sekarang, rermasuk salah satunya adalah Osman Raliby.

Osman Raliby termasuk intelektual muslim yang bergerak dalam berbagai bidang. Ia berkecimpung dalam bidang politik, jurnalistik, pendidikan, dan pemikiran. Perjuangan terlihat terutama pada era Orde Lama sampai Orde Baru. Baik sebagai politikus, wartawan, dan lainnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ia lahir pada 23 Mei 1915 di Pidie, Aceh. Jenjang pendidikan yang ia tempuh adalah Taman Siswa, MULO, dan kuliah di Universitas Al-Azhar. Kariernya dimulai sebagai wartawan. Sudah banyak media yang menjadi tempatnya berkarier. Beberapa jabatan pernah ia pegang. 

Dilansir dari konstituante.net, kariernya di media adalah Pembantu Luar Negeri  dari Pedoman Masjarakat, Medan Islam, dan Dewan Islam. (1926-1939). Ia juga pernah menjadi pemimpin majalah “Suara Peladjar” (1930-1933). Pernah pula menjadi pembantu harian “Pergaulan” dan “Pewarta Delie” (1934-1938). Dari karier sebagai wartawan, ia pernah pula menjadi anggota Tihoo Hoin (Pengadilan Negeri) di Sigli.  

Karena keterlibatannya di banyak media, ia menjadi lekat dengan dunia komunikasi. Ia bahkan menjabat sebagai Kepala Jawatan Penerangan Aceh. Dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid V, ia diangkat menjadi Kepala Jawatan Penerangan Sumatera Utara pada 13 Januari 1949.

Meski melekat sebagai tokoh komunikasi, cakupan bidangnya sebenarnya lebih luas. Misalnya, ia pernah menjadi anggota Dewan Konstituante dari Partai Masyumi. Selain itu, ia pernah menuliskan catatan sejarah, Documenta Historica. Buku yang cukup dikenal sebagai sumber sejarah terutama pada era revolusi.

Di luar itu, Osman Raliby sebenarnya juga berkontribusi besar dalam mengenalkan berbagai pemikiran Islam di Indonesia. Bukunya mengenai pemikiran Islam antara lain Ibnu Khaldun tentang Masyarakat dan Negara; Allah, Alam, dan Manusia; serta Islam dan Kehidupan: Mental – Spiritual – Material.

Ia juga menerjemahkan karya Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Edisi bahasa Indonesianya adalah Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam.

Dalam jurnalnya, Iqbal and the Malay World, Muhammad Uthman El-Muhammady menyatakan pentingnya peran Osman Raliby mengenalkan pemikiran Muhammad Iqbal. Muhammad Iqbal adalah seorang filsuf Muslim yang karyanya berpengaruh luas. Terjemahan karya utamanya oleh Osman Raliby mengenalkan pemikiran Muhammad Iqbal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Malaysia.

Proyek penerjemahan itu dilakukan dalam rangka kerjasama kebudayaan antara Indonesia dan Pakistan. Osman Raliby mengawali buku terjemahan itu dengan mengenalkan sosok Muhammad Iqbal. Ia mengutip pendapat M.M. Sharif, Rabindranath Tagore, dan Taj Bahadur mengenai Iqbal. Ia juga mengutip pernyataan Iqbal sendiri yang menyatakan Iqbal adalah pemikir Pan-Islamisme.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain Iqbal, pemikir besar Islam yang dikenalkan oleh Osman Raliby adalah Ibnu Khaldun. Kali ini ia tidak menerjemahkan, melainkan menuliskan buku khusus mengenai Ibnu Khaldun yaitu, Ibnu Khaldun tentang Masyarakat dan Negara.

Karya ini fokus pada pemikiran Ibnu Khaldun mengenai tata negara dan pemikiran sosialnya. Ibnu Khaldun sendiri memiliki pengaruh dalam berbagai bidang keilmuan seperti sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Bahkan ia dikatakan sebagai pencetus sosiologi.

Buku tulisan Osman Raliby ini bisa dibilang tulisan awal tentang Ibnu Khaldun dalam bahasa Indonesia. Buku ini diterbitkan Penerbit Bulan Bintang pada 1965. Pemikiran Ibnu Khaldun saat itu kebanyakan beredar dalam bahasa Arab maupun Inggris. Sehingga karya Osman Raliby yang satu ini benar-benar kontribusi yang luar biasa dalam diskursus pemikiran Islam di Indonesia.

Baca juga:  40 Hari Berguru Kepada Kiai Maemoen Zubair
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top