Sedang Membaca
Berguru Kepada Tumbuhan
Penulis Kolom

Penggagas Komunitas Seniman NU. Penulis Buku dan Naskah Drama. Aktif Menulis Opini di Media Daring dan Luring.

Berguru Kepada Tumbuhan

Nagy Arnold X Ivvduhvdq Unsplash

Dalam agama Hindu, tumbuhan dianggap sebagai petapa sejati. Tumbuhan hidup dan berkembang menggunakan kekuatannya sendiri. Meskipun terlihat seolah-olah tidak bergerak, namun sesungguhnya tumbuhan tengah memberi manfaat bagi kehidupan banyak makhluk lainnya.

Kultur masyarakat Jawa mengamini cara pandang tersebut. Tumbuhan dianggap sebagai guru kehidupan. Mereka menganggap bahwa tumbuhan mengajari banyak hal tentang konsep kebermanfaatan. Demikian yang mendorong masyarakat Jawa zaman dulu menggunakan nama-nama tumbuhan untuk menamai suatu daerah. Misalnya; Jati, Waru, (be)Ringin, Kemiri, Manggis, dan lain sebagainya.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari keberadaan tumbuhan selain berfungsi sebagai pondasi utama kelangsungan hidup manusia. Mengurangi polusi udara, meningkatkan kualitas tanah, menjaga kestabilan iklim, mengatur siklus air, menyediakan habitat satwa liar, sarana pengobatan, hingga yang paling utama adalah sumber bahan makanan.

Dalam tradisi Jawa (sebelum mengenal agama), masyarakat begitu menghormati tumbuhan sebagai penghubung kekuatan supernatural di luar dirinya. Dengan menggunakan berbagai simbol, masyarakat menjalankan ritus sesaji, tiban, tedak siten, hingga selamatan untuk mengenalkan manusia dengan alam dan bentuk syukur atas kenikmatan yang diberikan semesta.

Ada anggapan juga yang menyatakan bahwa tumbuhan adalah saudara tua dari manusia. Pemikiran tersebut dilandaskan atas dasar keberadaan tumbuhan yang sudah ada jauh sebelum kehadiran manusia. Manusia diciptakan hanya untuk membuat kerusakan alam beserta tatanannya. Melakukan reboisasi, menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Bom di Mesir, Setelah di Gereja, Kini di Masjid

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30).

Penambahan jumlah penduduk dunia naik sekitar 1,5 persen setiap tahun (bertambah 90 juta orang/ tahun). Pada tahun 1990, populasi dunia mencapai 5,3 milyar. Pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 8,5 milyar. Dampak utamanya adalah peningkatan polusi. Mengurangi lahan pertanian dan lingkungan alam untuk kebutuhan tempat tinggal dan industri. Alam kembali dikorbankan.

Manusia modern lebih mengedepankan ego untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri. Acuh tak acuh pada kehidupan sosial, apalagi terhadap lingkungan alam. Konsep ekonomi yang akhirnya menghendaki segala cara untuk memperoleh kebahagiaan individu, meskipun harus mengorbankan alam. Manusia modern cenderung mengabaikan alam dan kelangsungan hidup di masa mendatang.

Generasi saat ini harus menengok ke belakang untuk belajar khasanah kebudayaan masyarakat Jawa. Bagaimana memegang nilai-nilai keluhuran etika ekologi untuk kelangsungan hidup keturunannya. Bahkan, ada ritual tertentu (berdoa) sebelum menebang pohon yang saat ini sering diabaikan. Jika memotong hewan ada doanya, kenapa memotong (menebang) pohon tidak berdoa? Bukankah keduanya sama-sama makhluk hidup?!

Baca juga:  Absennya Kewargaan (Citizenship) di Pemilu Pasca Orde Baru?

Perilaku merusak alam adalah kejahatan paling brutal dari manusia. Kalau korupsi atau mencuri adalah perilaku mengambil hak orang lain, merusak alam adalah perilaku “membunuh kehidupan” di muka bumi. Manusia tidak sadar bahwa sedikit-banyak perilaku perusakan alam telah menciptakan peluang untuk kehancuran dunia. Suhu udara meningkat, abrasi laut, banjir bandang, tanah longsir, dan dampak lainnya yang akan menyiksa generasi berikutnya.

Menghargai tumbuhan dalam tradisi masyarakat Jawa zaman dulu bukan berarti menjadikannya sesembahan. Ada ikatan persaudaraan antara manusia dan tumbuhan. Ada interaksi dan etika sosial ketika tumbuhan memberi makan dan manusia mengucapkan syukur. Alam memberikan segala hal, namun seringkali manusia merusakannya.

University of Maryland mencatat bahwa daerah tropis kehilangan 12,2 juta hektare tutupan pohon pada tahun 2020. Deforestasi global akan mengancam kehidupan manusia saat ini dan masa mendatang. Manusia modern harus mulai peka terhadap isu lingkungan. Jika tidak bisa menghargai lingkungan alam, minimal jangan angkuh merusak alam.

Manusia harus bisa berguru kepada tumbuhan. Belajar tentang keikhlasan dengan selalu memberi namun tidak pernah meminta, malah kadang sering “dihancurkan”. Belajar tentang karma. Ketika manusia melakukan sesuatu harus bersedia mendapatkan risiko. Kejahatan terhadap alam/ tumbuhan akan dibalas dengan kebinasaan.

Ditanam (tanaman), bertumbuh (tumbuhan), dan dipanen untuk konsumsi manusia. Ekosistem alam harus kembali ditata agar manusia tidak menjadi rakus. Tumbuhan adalah makhluk yang lebih tua dari manusia. Hargailah untuk menciptakan harmonisasi alam. Tumbuhan adalah sejatinya guru semesta.

Baca juga:  Governing The NU: Kepentingan dan Agenda
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top