Sedang Membaca
Sistem Terbaik Bukanlah Sound System
Joko Priyono
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Sistem Terbaik Bukanlah Sound System

Radio Puasa, Varia, 8 Maret 1961

Saya dan Anda semua mungkin berada dalam keresahan yang sama. Hari-hari penuh dengan tenggat pekerjaan, kemacetan di jalan, serta jalan hidup yang biasa-biasa saja. Kita mudah berlebihan dalam memikirkan sesuatu hal, gelisah, dan mudah takut dalam menjalani kehidupan. Di tengah-tengah itu, satu hal yang menolong, meyelamatkan, dan mungkin membuat perasaan kita mendapati rasa nyaman barangkali adalah dengan mendengarkan musik.

Penyanyi dengan ragam musik yang ia sajikan menawarkan pilihan dalam algoritma digital kita dengan jenama media yang ada di dalam gawai. Kita ingin menitikkan posisi musik sebagai bagian penting dari diri dalam menjalin keterhubungan terhadap suara. Suara itu berhubungan dengan telinga yang menyangkut pula pada sistem syaraf. Musik mampu menjadikan kita rileks dan menemui kenyamanan.

Suara demi suara adalah penuntun imajinasi. Pada abad XX, kaum pribumi mengenal radio. Radio menjadi medium bergeraknya suara. Orang bisa mendengarkan gosip, berita, lagu, ceramah, pengabaran politik, hingga dialog tokoh. Kita mendapatkan pengisahan radio dari Rudolf Mrázek melalui buku Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni (Yayasan Obor Indonesia, 2006).

Ia menulis, “Sebuah gerakan radio yang berkembang sejak lama sebelum perang, autoactivitiet (rakit sendiri), merupakan bukti bahwa memang beginilah keadaannya. Para pendengar di Hindia Belanda memperlihatkan keasyikan yang semakin besar untuk membuat radio mereka sendiri.” Keterangan sah menunjukkan pentingnya orang-orang menghadirkan bunyi maupun suara.

Baca juga:  Digitalisasi Dakwah dan Belajar dari Ceramah Ustazah Oki

Orang Indonesia mengenal Sound System, dengan imajinasi kolektif yang terbentuk. Di masyarakat kita, pengeras suara mudah kita temukan dengan adanya alat bermerek yang menempel di salah satu bagian bangunan masjid maupun musala. Di bagian itu, kita teringat esai Gus Dur yang berjudul ‘Islam Kaset’ dengan Kebisingannya (Tempo, 20 Februari 1982). Gus Dur melakukan kritik akan teknologi suara dalam konteks religiositas.

Dalam kondisi lain, utamanya di masyarakat pedesaan, teknologi suara terdapat pada gelaran hajatan pernikahan. Pengeras suara menjadi kebudayaan kolektif dalam masyarakat. Petugas Sound System biasanya menjadwalkan pemutaran lagu dalam membarengi para tamu yang berduyun-duyun datang. Tingkat volume suara itu keras, yang terkadang banyak orang merasa terganggu. Hanya saja dengan pikiran kegiatan tersebut singkat dan apalagi sudah membudaya, orang tidak mudah menggerutu. Mereka memilih tenggang rasa.

Hari-hari terakhir kita tahu pemberitaan mengenai parade Sound System yang mengusik banyak orang. Itu meresahkan.  Atas nama parade, rumah warga, fasilitas umum, hingga jalan mendapati kerusakan untuk melanggengkan kendaraan yang membawa alat serta kelengkapannya tersebut. Misi bersuara memerlukan motif dan tindakan banal. Atas nama suara dan bunyi, orang mudah dibuat menemui egonya.

Parade tersebut sejatinya sama halnya dengan sekelompok pemotor yang mengalami krisis eksistensi ketika di jalan raya. Alih-alih ingin tampil biar dilihat keren dan membuat orang bertepuk tangan, mereka memasang knalpot jenis brong dengan suara yang menyebabkan kebisingan. Mereka lupa, jalan raya itu bukanlah milik kelompoknya saja. Namun di sana ada orang lain, pemukiman, dan nasib telinga yang mesti dipikirkan keselamatannya.

Baca juga:  Karya Sastra dan Kebenaran Ilmiah

Sebagai bagian keilmuan, bunyi maupun suara terpelajari dalam ilmu fisika, secara spesifik pada akustik (ilmu tentang bunyi dan pengendaliannya). Kita sengaja membuka kembali buku serial Pustaka Ilmu Life yang terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Tira Pustaka pada dekade 1980-an. Buku itu berjudul Bunyi dan Pendengaran garapan S.S. Stevens dan Fred Warshofsky. Kita paham mengenai tingkatan intensitas bunyi.

Bahwa dalam keadaan normal, telinga manusia sanggup di intensitas suara maksimal sebesar 80 desibel. Pada angka 90 – 110 desibel berpeluang muncul risiko gangguan. Sementara itu, intensitas suara di atas 120 desibel sangat membahayakan telinga manusia. Dari buku, kita dapat keterangan: “Di samping kerusakan yang diakibatkan pada pendengaran, bunyi keras mempunyai efek fisik lainnya.”

Kita tak perlu langsung mengatakan bahwa mereka bodoh dan anti pengetahuan, meski secara ilmiah telah banyak riset yang membuktikan. Bunyi maupun suara ada kapasitas bagi keselamatan sistem pendengaran. Barangkali saja, di masa sekolah, saat pelajaran gelombang bunyi, mereka ketiduran saat guru memberi penjelasan atau bahkan malah membolos. Suara dan bunyi keras itu yang harusnya kelantangan akan adanya ketidakdilan dan kezaliman, akhirnya yang mereka pahami pada penggunaan knalpot brong dan Sound System.

Pada sebuah waktu, saya terkesima dengan sebuah kaus yang berisi satu kalimat yang terbaca: Sistem Terbaik adalah Sound System. Saya membeli dan percaya diri memakainya. Kaus itu dalam politik yang terjadi dalam tubuh saya membuat saya makin yakin dengan pelbagai gejolak ketika menjadi aktivis mahasiswa yang mudah menyuarakan perlawanan. Kalimat itu memengaruhi saya untuk bersuara lantang dan keras dalam mengkritik kebijakan dengan alih-alih menyalahkan sebuah sistem.

Baca juga:  Iman ialah Kepasrahan dalam Ketidakpastian

Kita lekas berpikir dan meragui tulisan yang terdapat dalam kaus dengan bergambar Nietzsche menenteng radio tersebut. Cara sekelompok orang dalam memaknai suara maupun bunyi dalam Sound System itu yang jadi perkara. Sebagai makna denotatif, berkaca pada masalah yang sedang viral itu, kalimat tadi agaknya sudah tidak relevan lagi. Saya hendak mengajukan pendapat dan memohon pada pembuat kalimat dalam kaus tersebut untuk merevisinya menjadi: Sistem Terbaik adalah Sound System yang tidak Menghilangkan Kemanusiaan Kita.

Dalam wabah kesepian yang saya rasakan ketika merampungkan tulisan ini, saya kemudian membuka salah satu aplikasi yang ada di dalam gawai. Saya mengetikkan lagu “Kugadaikan Cintaku” (1986) garapan Gombloh. Saya mendengarkan dengan saksama dan terbawa untuk bernyanyi, meski tak bersuara keras. Di radio aku dengar/ Lagu kesayanganmu/ Kutelepon di rumahmu/ Sedang apa sayangku/ Kuharap engkau mendengar/ Dan kukatakan rindu//. Oh.[]

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top