Sedang Membaca
Saintek, Religiositas, dan Gerakan Intelektual
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Saintek, Religiositas, dan Gerakan Intelektual

Joko Priyono
  • Sains dan teknologi adalah anak kandung dari kebudayaan.

Riuh makin menyeruak akan realitas yang terjadi di ruang akademik, terutama adalah di beberapa perguruan tinggi—meningkatnya gerakan fundamentalisme dan intoleran yang terjadi di kalangan sivitas akademik.

Yang makin membuat terheran-heran adalah kejadian tersebut makin masif dan basis di kelompok intelektual dari jurusan maupun program studi dengan basis eksakta—sains dan teknologi (saintek). Jurusan yang banyak diperebutkan oleh calon mahasiswa biasanya dengan melihat tawaran-tawaran kesuksesan—prospek di masa depan.

Sebab-musabab akan apa yang terjadi itu adalah rantai panjang yang terus sambung-menyambung dari generasi ke generasi.

Banyak latar belakang maupun faktor yang melahirkan budaya seperti kalangan mahasiswa eksakta yang “ogah-ogahan” dalam mengkaji, mendiskusikan dan memperdalam wawasan ilmu pengetahuan terkait mengenai kajian keilmuan yang digelutinya. Justru, yang terjadi adalah minat kajian yang berbau keagamaan lebih mendominasi ruang diskursus akademik.

Hal tersebut sebenarnya jauh-jauh hari sudah pernah dibahas oleh rektor di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1978 – 1987, Andi Hakim Nasution. Ia menuliskannya dalam sebuah esai dengan berjudulkan Ketekunan yang Langka (Bandung Raya, 2001).

Salah satu keluh-kesah yang disampaikan olehnya adalah persoalan kemampuan jebolan perguruan tinggi di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara yang sudah mapan maupun maju jikalau ketekunan belajar di perguruan tinggi bukanlah pada bidang ilmunya sendiri.

Parameter Andi dalam membangun konstruk paradigma tersebut tatkala pengamatan pada cuaca keilmuan maupun aktivitas-aktivitas yang ada di ruang publik dalam kampus.

Seperti halnya adalah poster-poster maupun pamflet-pamflet yang tersebar di mading maupun papan informasi dalam kampus. Dominasi pamflet maupun poster pengumuman tersebut acapkali hanyalah informasi kegiatan yang berada di luar kajian keilmuan.

Baca juga:  Refleksi Muspimnas PMII: Menentukan Arah Khittah

“Apakah masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada, dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melainkan mengenai siraman rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di Tanah Air?” tanya Andi.

Sampai saat ini, hal tersebut bukanlah rahasia umum lagi. Baik di perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Tak ayal, kenyataan demi kenyataan tersebut juga menjadi catatan dan perhatian penting dari Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dalam buku putih yang berjudulkan Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045 (2017).

Hal yang dikemukakan oleh AIPI—salah satu faktor yang menjadi penyebab rendahnya kinerja sains, teknologi, dan pendidikan tinggi adalah faktor budaya inovasi.

Religiositas dan Intelektual

Ihwal keperdulian terhadap kebutuhan segi religiositas, solidaritas keimanan hingga narasi keberagamaan tentu saja perlu diperhatikan. Hanya saja perlu sebuah keugaharian dalam berpikir dan bertindak.

Beban lain dalam menggeluti kajian keilmuan di bidang sains maupun teknologi juga harus diperhatikan. Sebut saja adalah keberlanjutan sains dan teknologi untuk masa depan, inovasi maupun terobosan dari ilmu pengetahuan untuk kehidupan masyarakat ke depan, persoalan energi, kedaulatan pangan, kesehatan hingga dunia perindustrian.

Baca juga:  Absennya Kewargaan (Citizenship) di Pemilu Pasca Orde Baru?

Sebab, tak bisa dimungkiri jikalau budaya sebagaimana telah disebutkan di atas terus berlangsung, akan berdampak maupun berimplikasi pada gerakan intelektual dalam ranah sains dan teknologi.

Stagnanisasi maupun kemandegan aktor intelektual yang diharapkan menjadi seorang akademisi, inovator, peneliti maupun agen perubahan dalam jangka panjang sangat mungkin terus terjadi.

Di samping itu, pola-pola yang berkaitan mengenai religiositas berpeluang menciptakan kelompok-kelompok eksklusif.

Dalam arti lain, keruh demi keruh masalah-masalah baru dalam ruang akademis semakin bias wujudnya. Ancaman terhadap ilmu pengetahuan pun makin bertambah. Padahal dalam abad ke-21 ini, keilmuan seperti sains dan teknologi merupakan satu hal yang paling penting dalam keberlangsungan peradaban kehidupan yang ada.

Dalam konteks Indonesia, keperdulian pengembangan sains dan teknologi secara mendalam, harapannya tentu saja dapat mengimbangi atas apa upaya revolusioner yang telah dilakukan oleh banyak negara lain.

Dalam Majalah Prisma edisi No. 3 bulan Maret, tahun 1991, Gus Dur menulis esai berjudulkan Intelektual di Tengah Eksklusivisme. Ada banyak gagasan menarik yang disampaikan oleh Gus Dur.

Salah satuya adalah persoalan mengenai masa depan gerakan intelektual. Gus Dur menuliskan, tugas pokok intelektual adalah mempertahankan kebebasan berpikir dengan mengedapankan kejujuran intelektual.

Selain itu, ada parameter yang disampaikan oleh Gus Dur terhadap gerakan intelektual yang ada di Indonesia. Parameter tersebut berupa—para aktor gerakan intelektual tidak boleh “giring-giring” dengan kepentingan adanya keharusan dalam pendapat yang seragam.

Baca juga:  Delusi yang Menghancurkan Manusia

Dalam arti lain, perhatian akan pluralitas yang ada perlu menjadi perhatian khusus. Tidak lain dan tidak bukan karena intelejensia itu bukan punya kelompok tertentu saja, namun melainkan sebagai milik umat bersama.

Sains dan teknologi adalah anak kandung dari kebudayaan. Dalam keberjalanannya, dari tinjauan epistemologi keilmuan, ia juga melahirkan kebudayaan-kebudayaan baru dalam peradaban umat manusia.

Persoalannya adalah ketika menilik pada budaya yang terjadi di ruang akademik yang hingga saat ini, tentu saja benang merah untuk menyeka masalah demi masalah yang ada adalah keharusan. Paradigma yang dikembangkan menuju ke arah akan perawatan tradisi lama yang baik, dan penerimaan tradisi baru yang lebih baik lagi. Kesemuanya dapat berjalan dengan berdampingan.

Banyak pihak yang memiliki otoritas dalam menyelesaikan perkara tersebut. Pemerintah, kalangan sivitas akademik, cendekiawan dan intelektual, lembaga penelitian maupun lembaga-lembaga lain yang masih terkait.

Butuh kerja keras dan sikap keterbukaan antara satu dengan yang lain dalam melahirkan sikap antusiasme, komitmen, tantangan mengambil resiko, dorongan untuk terus belajar, bersikap skeptis dan dukungan melakukan proses berpikir kritis secara independen. Tidak lain adalah sebagai upaya menciptakan habitus yang sebagaimana mestinya. (atk) 

Lihat Komentar (0)

Komentari