Sedang Membaca
Ingusan, Merendahkan dengan Cercaan

Ingusan, Merendahkan dengan Cercaan

Heru Harjo Hutomo

Ada beragam cara untuk mencaci, secara kasar dan halus, yang membutuhkan konteks sejarah serta rasa bahasa. Dalam khazanah sastra Jawa ada ekspresi kebahasaan yang membutuhkan landheping panggrahita (kepekaan rasa) untuk memahaminya. Dahulu kala para pujangga Jawa tak wijang (rapi, serba beraturan-red) dalam mencerca. Memang, ekspresi kebahasaan yang lembut sering bertujuan untuk ndumuk rasa (menyentuh rasa-red).

Tapi saya tak menyukainya dalam konteks politik-keagamaan kontemporer di Indonesia. Ada beberapa sebab. Ekspresi kebahasaan itu ditujukan untuk menyudutkan pihak lain, untuk mengkambinghitamkan, untuk melemahkannya secara mental. Saya akan membongkarnya dan berusaha membalikkannya, bahwa mereka telah mempermalukan dirinya sendiri, melemahkan mentalnya sendiri.

Di zaman ini kita hidup dalam naungan teks, dalam diskursus. Tiap detik kita dihajar berbagai isu. Media massa dan media sosial seolah membuat kita terpenjara dalam diskursus. Kondisi semacam ini memang tak bisa dihindari. Abad teks, abad diskursus, bukanlah abad yang memerlukan keperkasaan fisik, tapi otak dan mental. Jagoan di hari ini adalah sejauh mana ia menguasai seluk beluk teks, belantara diskursus, renik bahasa, visual maupun auditif.

Konon, psywar lebih menentukan daripada perang fisik. Seorang economical hitman atau philosophical hitman jauh lebih efektif untuk memorakporandakan sebuah sistem atau pun tata nilai daripada seorang tentara di era digital semacam ini. Sebab yang dihajar adalah pikiran dan mental, bukannya fisik.

Pikiran dan mental kena, otomatis raganya juga kena—seandainya mau memprosentase entah telah berapa banyak orang yang terkena stroke dan jantung di hari ini. Teror mental jauh lebih efektif daripada teror fisik. Mental jauh lebih tahan lama, berkaitan dengan software yang tak mudah untuk dipulihkan.

Telah saya analisis tentang mekanisme teror mental lewat teks dalam Hikayat Kebohongan II (Heru Harjo Hutomo http://jalandamai.org/hikayat-kebohongan.html). Apa yang saya sebut sebagai “lontaran-lontaran verbal” bukanlah metode yang, saya yakin, dibuat oleh kalangan biasa. Mereka terdidik, paham efek bahasa atas kesadaran, paham psikologi—seperti gendam yang membutuhkan teks tertentu, baik visual maupun auditif.

Tiap detik, tiap menit kita dijejali dengan lontaran-lontaran verbal yang repetitif hingga seolah tertanam di alam bawah sadar kita. Terkadang kita pun menirukannya, semacam keseleo lidah, slip of the tongue. Konon, slip of the tongue adalah simtom bahwa orang yang bersangkutan telah tergarap bawah sadarnya. Dengan kata lain, banyak orang telah terkena neurosis, karena saking seringnya dijejali lontaran-lontaran verbal yang sifatnya repetitif. Dan pada akhirnya, apakah yang tersisa selain kematian nalar kritis?

Mirip dengan pelaku yang berupaya melakukan bom bunuh diri di Kartasura beberapa waktu lalu. Saksi mata mengatakannya bahwa sesaat sebelum melakukan eksekusi ia memekikkan lontaran-lontaran verbal semacam “Mati kowe! Mati kowe!”

Perendahan terhadap NU

Baca juga:  Wejangan Kiai Maemun, Agar NU Luwes dengan Pemerintah

Terkait dengan NU, ormas keagamaan yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari ini mengalami pergulatan sejarah yang tak luput dari makian dan perendahan. Relasinya dengan kalangan penganut Islam puritan memang tak pernah mulus. Ketika bergabung dalam Masyumi, kalangan Nahdliyin kerap dicibir sebagai kaum sarungan yang tak bisa apa-apa, utun dan ndeso.

Dahulu mereka hanya dipandang sebagai para jagoan di akhirat, dengan ritus doa yang panjang (kebiasaan wiridan setelah sholat, pujian di antara adzan dan iqamat, tahlilan ataupun dzikir fida’, belum lagi kebiasaan mereka untuk mengakrabi arwah).

Secara ekonomis, kondisi mereka pun dahulu tak semapan para penganut ormas keagamaan lainnya. Paling banter mereka “hanya” mampu menjadi modin dan kiai tanpa gaji. Seandainya ada kiai dari pesantren besar yang tanahnya berhektar-hektar, itu pun hanyalah hasil wakaf. Dahulu mereka juga kerap dituduh sebagai kalangan “kotor” hanya karena sifat luwesnya dalam mengakomodir berbagai ritus kejawen.

Kebiasaan merokok dan etos kerja yang nyantai celakanya juga sering ditengarai sebagai penyebab kemelaratan mereka. Rasa penganyomannya pada kalangan nonmuslim dan abangan yang kerap mereka tunjukkan disebut sebagai sebentuk kebodohan dalam memperjuangkan “kejayaan Islam.”

Bagi para penganut—ataupun orang-orang yang terjebak pada lontaran-lontaran verbal—Islam puritan, mereka seperti sesosok bocah yang lugu yang tak sadar ketika direndahkan secara halus. Dan parahnya, ketika NU terbukti menang, kalangan pencaci pun menutupi baunya dengan dalih demi membesarkannya, semacam pelecut semangat—baik sekali bukan, mereka?

Lontaran-lontaran verbal yang berupa cacian yang menghiasi perjalanan NU sebagai salah satu ormas keagamaan di Indonesia cukup berserak di ruang-ruang publik. Beberapa di antaranya adalah “dongamu kedawan (doamu kepanjangan),” “melarat,” (sangat miskin) “lugu” (mudah ditipu),” “lonthe gratisan (karena sikapnya yang enthengan dalam melayani umat dan mendukung atau pun membela sesuatu yang dianggap baik, serta membiakkan harapan).

Belum lagi potongan-potongan kalimat verbal yang dijumput dari media-media sosial—twitter, facebook, dan youtube—dari para pembencinya. Saya bahkan belum sanggup mengutip, silakan buka sendiri media-media sosial itu.

Baca Juga
Nasihat Politik Kiai Wahab di Zaman Jepang

Akan tetapi, kaum sarungan yang sering dicaci itu tidak seperti yang disangkakan. Mereka tidak lagi semuanya lugu, tidak semuanya pula menyukai doa yang panjang, tidak sedikit yang hidup mapan, dan makin banyak yang membobol anggapan “ndeso” dengan berdakwah melalui media sosial. Komunitas-komunitas dengan basis ke-NU-an juga semarak. Apa yang kemudian terjadi? Cercaan tetap sengit, apalagi ketika dikaitkan dengan narasi Islam Nusantara. Mereka seperti langsung didera alergi sekujur tubuh mendengar kata itu.

Siapakah yang menjadi mastermind dari segala perendahan baik secara kasar maupun halus semacam ini? Yang pasti, mereka orang-orang terdidik, paham psikologi dan teori tentang bahasa. Hanya orang-orang kritis yang mampu mematikan nalar kritis.

Sebermulanya kalangan seperti itu hanyalah kalangan amatiran soal wacana-wacana kritis. Mereka sekedar “bermain,” tak punya tanggungjawab etik atas keilmuannya. Mereka kalangan pragmatis yang tak peduli pada ideologi, sebab bagi mereka hal-hal abstrak semacam itu sudah selesai. Di belantara teks, tak ada hal lain yang dapat dilakukan kecuali bermain-main dengan penanda dan petanda, coding dan decoding. Mereka ingusan, tak punya komitmen pada apapun juga.

Setelah kedok terbongkar, beramai-ramai mereka memainkan wacana-wacana politik dan kebudayaan kontemporer. Mereka bersorak, girang bukan kepalang seandainya permainan mereka telah membuahkan kekacauan epistemologis dan disorientasi kultural. Mereka memilih radikalisme Islam, atau kalau tidak kalangan Islam puritan, sebagai aliansi—untuk tak menyebutnya sebagai para serdadu tolol.

Apa pasal? Posmodernitas ternyata memberi ruang bagi politik identitas untuk mengemuka sampai pada titik ekstrimnya. Mereka amatiran, sungguh amatiran. Akhirnya mereka kewalahan dengan permainan ala bocah ingusan. Islam puritan yang mereka ajak berkongsi kini beraksi tanpa kendali dan melumat mereka juga pada akhirnya.

Mereka telah melakukan bunuh diri epistemologis, seperti ular yang mencaplok ekornya sendiri. Dan, tertutup kemungkinan, mengingat efek permainan bahasa atas kesadaran, mereka akan bunuh diri sungguhan.

Soal pilihan politis-ideologis, soal keberpihakan, tak usah diragukan, mereka memang ingusan. Tanggung-jawab keilmuan saja –saya berani mengatakan– tak punya, apalagi tanggung-jawab sosial-politik. Seperti senyum lembut para puak di masa purba yang diam-diam menyengkelit sebilah keris di belakang punggungnya, demikian pula mereka.

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top