Sedang Membaca
Perempuan, Musik, dan Pengetahuan
Joko Priyono
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Perempuan, Musik, dan Pengetahuan

117389087 2626023374379662 5214099786658762609 N

Kalau kita membaca ulang teks pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2019 yang disampaikan seorang sastrawan, Seno Gumira Ajidarma, agaknya patut meletakkan dimensi keberadaan Nasida Ria. Dalam pidato berjudul Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi tersebut, ada sebuah pernyataan akan bagaimana gejala dan perhatian terhadap istilah perubahan zaman dalam konteks Indonesia tak perlu dipikir serius. Santai saja.

Pernyataan ditulis oleh Seno: “Dalam konteks Indonesia, terbukti bahwa bukan 4.0, tetapi mundur ke belakang, gejala 3.0, 2.0, bahkan 1.0 tidak dialami sebagai kontinuitas linear, melainkan saling bertumpang-tindih, menciptakan suatu organisme kebersamaan antardimensi, yang meskipun kadang-kadang terasa sebagai kekacauan nan absurd, tetapi dalam kenyataan sampai hari ini bangsa Indonesia itu selamat.”

Apa hubungannya dengan keberadaan Nasida Ria, sebuah kelompok musik kasidah yang lahir di Semarang pada 1975 silam? Dalam denyut kehidupan masyarakat, agaknya kita hutang rasa terhadap keberadaannya. Bagaimana tidak, kelompok yang mulanya terdiri dari 9 personel sosok perempuan dengan pendirinya: H. Mudrikah Zain itu mampu mengemas perubahan, perkembangan, dan tantangan zaman dalam bentuk nada kepada khalayak tanpa perbedaan kelas.

Sejarah

Listya Nurhidayah menyelesaikan program studi sarjana di Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro dengan menggarap skripsi berjudul Nasida Ria: Sejarah The Legend of Qasidah 1975-2011. Naskah itu diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Penerbit Dramaturgi, Pemalang pada tarikh 2019. Pembaca diajak menelusur jejak demi jejak sejarah akan kejayaan dan tantangan dalam zaman yang menyebabkan keredupannya. Paling pasti, dalam sejarah, Nasida Ria menjadi bagian penting perkembangan musik di Indonesia sejak era Orde Baru.

Baca juga:  Emma Poeradiredja, Pelopor Kesetaraan dari Tanah Pasundan

Di Majalah Dini Edisi No. 3, Tahun 1982 memuat sebuah liputan berjudul Nasida Ria: Berda’wah dengan Musik. Pembaca mengerti semenjak awal, keberadaannya telah ditopang dengan sistem dan manajemen yang ketat, rapi, dan disiplin. Di sisi lain, padahal yang menarik bahwa kelompok musik tersebut sejatinya tak hanya spesifik hanya membawakan lagu kasidah. Penjelasan itu berupa:

“Sebab, selain mahir dalam menyanyikan lagu-lagu berirama padang pasir, ternyata grup ini juga pintar menyajikan lagu-lagu berirama sungai gangga (ndangdut) yang berombak-ombak bagai irama sungai suci India itu. Bahkan lagu-lagu pop dan keroncongpun mereka bisa, juga jaipongan! Jika anda menyaksikan performancenya, anda boleh coba minta dimainkan lagu-lagu itu. Pasti sip!”

Perempuan dan Musik

Kita kemudian teringat sebuah buku garapan Prof. M. Quraish Shihab, Perempuan (Lentera Hati, 2005). Ia meletakkan bahasan perempuan dan seni suara. Dalam konteks itu, Prof. Quraish menjelaskan; baik laki-laki maupun perempuan, muslim maupun non muslim memiliki kedudukan yang sama dengan syarat kehadiran dari aktivitas bermusik itu mendorong kepada sesuatu yang baik.

Hingga abad ke-XXI, sayup-sayup lagu itu setidaknya masih saya temukan di kampung halaman. Ketika ada warga punya hajat pernikahan, satu hal tak boleh ketinggalan dilakukan petugas sound system saat sore adalah memutar kaset yang memuat lagu dari Nasida Ria. Kendati keberadaan Nasida Ria itu sdah kesekian kali dalam generasi, sebagaimana kita ketahui nama grup penerus yang eksis sejauh ini berupa: Qasidah EzzurA.

Baca juga:  Siti Umniyah, Perintis Taman Kanak-kanak Muhammadiyah

Kita masih bisa mendengar dan mengiringi langkah-langkah keberadaan para perempuan dalam panggung musik dengan bersenandung dakwah itu. Tentu saja, tak sedikit dari kita masih setia mendengarkan lagu-lagu yang tak lekang oleh zaman tersebut. Mulai dari Tahun 2000, Kota Santri, Pengantin Baru, Bom Nuklir, Anakku, Dunia dalam Berita, Munafik, Dimana-Mana Dosa, Jilbab Putih, Selamatkan Bumi Kita, hingga Surga di Telapak Kaki Ibu.

Lanskap Pengetahuan

Lebih menarik lagi, kalau kita menilik bagaimana wacana ilmu pengetahuan yang dibawakan dalam lirik demi lirik lagu. Misalnya saat kita menyimak lagu berjudul Tahun 2000 menemukan beberapa lirik penting: /Tahun 2000 kerja serba mesin/ Berjalan berlari menggunakan mesin/ Manusia tidur berkawan mesin/ Makan dan minum dilayani mesin/. Lirik itu sudah Revolusi Industri 4.0 banget, bukan?

Ternyata, jauh hari mereka telah mengenalkan kepada kita keberadaan kecerdasan buatan dengan segala jenis dan masalah yang dihadirkan. Hanya saja, mereka tidak menyibukkan diri dengan istilah sulit nan “keminggris”. Mereka memahami dan menyadari, yang dihadapi bukan hanya kalangan politisi, pejabat, hingga intelektual kampus, namun juga para petani, pedagang, warga desa, dan tukang becak yang lebih penting implikasi ketimbang mempersoalkan istilah.

Keberadaan Nasida Ria dan kelompok musik sejenis tentu akan menjadi oase di tengah kerinduan masyarakat terhadap kolaborasi antara nada dan irama yang dibalut dengan hal penting dan perlu diperhatikan khalayak, seperti masalah ekologi maupun lingkungan, ancaman perang, keberpihakan ilmu, keadilan, dan pengasuhan anak. Ketimbang katakanlah arus mainstream kebudayaan pop hari ini yang cenderung hanya terpusat pada kisah asmara.

Baca juga:  Perempuan di Kerajaan Demak

Di zaman yang terus berubah dari segi peluang dan tantangan, kita perlu terus mawas diri dan mempersiapkan dalam menghadapinya. Jangan-jangan sebenarnya kita tidak perlu sosialisasi, seminar, dan pertemuan untuk membahas perubahan zaman. Kita hanya butuh kehadiran Nasida Ria. Mungkin perlu dikata: Indonesia akan baik-baik saja ketika setidaknya ketika masih ada orang yang mendengarkan lagu-lagu Nasida Ria dan merefleksikannya dalam detak dan degup perkembangan zaman.[]

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top