Sedang Membaca
Generasi Z dan AI, Ancaman atau Peluang?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Generasi Z dan AI, Ancaman atau Peluang?

Ira Rahayu

Pengantar: Sejak 21 Januari 2019, kami menurunkan 20 esai terbaik hasil Sayembara Esai Tingkat SMA/Sederajat 2018. Setelah pemuatan lima besar, tulisan-tulisan berikutnya dimuat berdasarkan urutan abjad nama penulisnya.

———

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Generasi milenial dan generasi Z. Apa bedanya? Selama ini mungkin yang sering beredar dalam berbagai tulisan adalah penggunaan kata milenial sebagai tren simbol generasi terkini yang berkaitan dengan teknologi. Hal ini menjadikan sebagian pembaca berasumsi bahwa generasi z dan generasi milenial adalah dua istilah yang sama untuk mengibaratkan generasi muda masa kini. Namun sebenarnya generasi z dan generasi milenial adalah dua istilah yang berbeda.

Nah, generasi Z adalah demografi dari generasi milenial (generasi Y) yang kisaran usianya antara 1995-2012. Dari berbagai sumber yang saya baca, tidak ada spesifikasi tahun yang jelas mengenai kisaran usia generasi Z ini. Satu hal yang pasti, generasi ini bisa dikatakan generasi yang paling canggih karena hidupnya sudah pada era ketika dunia sedang menggebu-gebukan artificial intelligence.

Berarti jelas kalau generasi Z dan milenial itu berkaitan tapi tak semakna. Sebuah artikel menyebutkan bahwa artificial intelligence atau AI menurut banyak ahli adalah masa depan, tetapi jika kita melihat sekeliling kita yakin bahwa itu bukan masa depan. Itu masa kini.

Apa itu AI? AI atau kecerdasan buatan adalah sebuah sistem kontrol yang diterapkan pada komputer atau mesin yang kerjanya sama rata dengan kecerdasan manusia, pengertian sederhananya begitu. Nah, tugas AI adalah mengganti tugas keseharian manusia. Dengan begitu pekerjaan manusia akan sangat terbantu.

“Waah enak dong kalau AI terus dikembangkan, kita bakal gak capek-capekan….” Oh jelas sekali memang, segala bentuk pekerjaan manusia akan menjadi mudah. Contoh sederhananya saja penerapan pembayaran cashless (dengan kartu) pada gerbang-gerbang tol, prosesya lebih cepat dan praktis. Bandingkan saja dengan sistem yang ada sebelumnya. Berapa banyak tumpukan mobil yang antre hanya karena menunggu kembalian dari petugas penjaga gerbang tol. Simpelnya kita dapat menghemat waktu.

Baca juga:  Ketika Gus Dur Menulis Kiai Sahal

Satu contoh lagi adalah ketika ustaz saya menjalankan tugasnya untuk mengikuti seminar internasional di Turki. Beliau menceritakan kepada murid-murid,  termasuk saya, bahwa Turki sangat menghargai bahasanya. Oleh karena itu walaupun acara tersebut beraroma internasional, mereka sangat sering melibatkan bahasa Turki kedalamnya. Selain itu beberapa negara serta elemen-elemen penting suatu organisasi juga dipersilakan untuk menyampaikan sambutannya. Bahasanya pun menjadi macam-macam.

Lantas bagaimana dengan para hadirin yang notabene hanya menguasai bahasa Inggris dan Arab? Disinilah AI kembali berperan. Pihak penyelenggara menyediakan headphone yang menerjemahkan secara otomatis. Pilihan bahasanya ada dua, Arab dan Inggris. Para hadirin bebas memilih.

Gimana? Kalo dipikir-pikir, enak kan? Nggak perlu repot mengundang jasa penerjemah. Well, kembali lagi pada generasi Z. Karena kehidupannya yang dikelilingi dengan teknologi yang pesat, tidak menutup kemungkinan bahwa generasi ini sangat bersahabat dengan teknologi digital serta penggunaan media sosial. Generasi ini juga merupakan generasi openminded karena terbentangnya wawasan yang sangat luas yang secara cuma-cuma bisa didapatkan hanya dengan mengayunkan jemari diatas layar smartphone.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Baru-baru ini pihak Microsoft memperkirakan bahwa wilayah Asia akan memiliki peranan penting dalam pengembangan AI. Hal ini dinyatakan karena Asia memiliki salah satu aspek unik yaitu dengan populasi generasi muda yang cukup besar, yang terlahir dalam era digital.

PBB memperkirakan sebanyak 60% populasi generasi muda dunia ada di Asia Pasifik. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran AI mendatangkan respon positif juga bagi Asia. Dan, sasaran utamanya tentu generasi Z.

Baca juga:  Filosofi Kolak

Indonesia juga perlu bersiap. Jumlah penduduk Indonesia pada bulan Mei 2018 terhitung sekitar 265 juta jiwa. Angka yang luar biasa bukan? Dan tentu jumlah terbanyak berada pada urutan remaja hingga balita. Melihat sasaran utama dari AI adalah generasi Z, maka ini bisa menjadi peluang dalam menumbuh-kembangkan perekonomian Indonesia. Karena sejatinya AI sedang populer di kalangan industri dan bisnis. Meski tidak menutup kemungkinan untuk bidang lain pula.

Dampak AI

Namun apa jadinya jika AI terus berkembang? Namanya saja kecerdasan buatan. Nah kalau kecerdasan buatan terus dikembangkan tanpa memperhatikan akibatnya, bobroklah dunia. Walaupun Indonesia memang belum terlalu menseriusi AI yang digagas oleh ilmuan Barat ini, namun lambat laun pasti merespons juga. Hidup selalu berputar bagai roda. Jadi bisa dikatakan Indonesia juga bisa ikutan “bobrok”.

Kenapa bisa begitu? Karena jika AI terus dikembangkan maka kelamaan kecerdasan manusia jadi lebih rendah daripada AI. Stephen Hawking dan Elon Musk juga pernah mengatakan bahwa jika AI terus dikembangkan dengan tujuan memiliki kecerdasan yang setara atau bahkan melebihi manusia, maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.

Mencermati contoh di atas, mari kita bayangkan, ketika seharusnya penerjemah atau oranglah yang berperan aktif dalam menerjemahkan bahasa. Tetapi dengan praktisnya pekerjaan tersebut, terenggut oleh alat yang automatically translating ini, msnah sudah pekerjaan penerjemah, kan?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hal lain adalah wacana bahwa sistem kampus akan diubah menjadi semacam EO yang mengatur kuliah ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Hal ini mengancam pekerjaan dosen. Dan banyak lagi pekerjaan lainnya yang menyusul terancam jika AI terus dikembangkan.

Baca juga:  At-Tin dan Beringin: Alquran untuk Semua

Akan tetapi saya beranggapan  bahwa yang namanya pekerjaan itu tidak pernah akan hilang. Faktanya tetap ada, tetapi kuantitasnya menjadi sedikit. Teknologi yang kian canggih memang tidak dapat ditawar. Justru manusialah yang seharusnya beradaptasi. Sungguh, kehadiran AI tidak 100 persen mendatangkan dampak negatif. Karena bagaimana pun selalu ada kemudahan di balik kesulitan, pun juga selalu ada penyelesaian di balik masalah yang dihadapi.

Generasi Z yang digadang-gadang akrab dengan teknologi bisa saja mengendalikan teknologi dengan baik. Juga menggagas bagaimana caranya agar Indonesia kian bersanding dengan negara-negara maju. Perpaduan antara teknologi AI dan juga kecerdasan natural nantinya membangun Indonesia menuju golden country.

Kreativitas dan pemikiran realistislah yang sekarang ini dituntut kepada bangsa Indonesia. Bagaimana cara menemukan pekerjaan baru ketika AI nantinya masuk pada tahap merajalela di negeri ini. Bagaimana hidup mandiri dengan segala dampak dari pergulatan teknologi. Bagaimana membangun bangsa ini menjadi teladan bagi bangsa lain. Bagaimana menjadikan negeri ini jauh langkahnya dengan segala fasilitas teknologi dan materi yang tersedia.

Saya membaca snapgram kakak kelas yang sekarang sedang kuliah di Fisipol UGM tentang ucapan Hari Sumpah Pemuda. “Selamat harinya para pemuda bersumpah, lur (sedulur. Sumpahnya udah sampe mana lur? Bangsa menunggu lur! Semangat lek makaryo lur. Negeri rusak udu goro-goro akeh e wong dzolim. Tapi wong apik sek podo meneng. Semangat lur”. (Selamat harinya para pemuda bersumpah, saudara. Sumpahnya udah sampe mana? Bangsa menunggu! Semangat berkarya, saudara. Negara rusak bukan karena banyaknya orang zalim, tetapi karena orang baik yang hanya bisa diam. Semangat, saudara……)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top