Sedang Membaca
Melihat Konflik Agama dari Perspektif yang Berbeda
Imam Mawardi
Penulis Kolom

Mahasiswa yang lahir di Lamongan. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 di UIN Walisongo Semarang, jurusan Studi Agama-agama. Saya sekarang berdomisili di Semarang, di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo.

Melihat Konflik Agama dari Perspektif yang Berbeda

Taliban Dan Tiongkok

Dalam sejarah dan wacananya, sejak dulu bahkan sampai sekarang agama selalu dihubungkan dengan kekerasan dan konflik internal atau antar pemeluk agama. Seperti misalnya perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, perang salib, konflik Islam-Buddha di India hingga konflik Taliban di Afghanistan.

Sehingga, bukan tanpa dasar jika ada yang mengatakan agama adalah sumber bencana. Apalagi jika yang beranggapan seperti itu adalah korban kekerasan (atas nama) agama itu sendiri. Tapi tentu naif, jika kita memberi penilaian lantas menggeneralisasikannya hanya dengan melihat satu-dua peristiwa atau konflik saja. Karena masing-masing pemeluk dan kelompok agama cenderung memiliki penafsiran dan pengimplementasian yang berbeda terhadap agama.

Seperti bangkitnya istilah Islamfobia di Amerika misalnya. Istilah Islamfobia (ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap Islam) di sana dipicu karena adanya peristiwa serangan al-Qaeda (salah satu kelompok militan Islam) di World Trade Center (WTC), New York pada 9 September 2001. Meski istilah Islamfobia ini sejatinya telah ada jauh sebelum peristiwa yang menewaskan kurang lebih 3.000 korban jiwa tersebut. Namun dari situ banyak bermunculan tulisan-tulisan dan wacana tentang ‘sisi negatif’ Islam.

Tapi benarkah kekerasan yang katanya kekerasan atas nama agama tersebut murni dilatarbelakangi oleh agama?

Melihat Sekilas Kasus Taliban

Munculnya kelompok Taliban pada 1994 setelah kemunduran Uni Soviet tidak dilatarbelakangi oleh misi jihad –menurut penafsiran atau versi mereka— atas nama agama saja, tapi juga unsur politik yang menyertainya.

Baca juga:  Tionghoa Muslim dan Toleransi di Semarang

Dibalik justifikaisi Taliban sebagai kelompok teroris oleh Amerika, tidak serta merta didasari karena Taliban terlibat dengan penyerangan di WTC yang dilakukan oleh Osama bin Laden (pendiri kelompok al-Qaeda). Juga bukan murni karena tindak kekerasan Taliban dengan dalih syariat Islam yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Karena Amarika tidak peduli dengan tujuan Taliban untuk mendirikan Negara Islam di Afghanistan (Glyn Davies, Deplu Amerika: 1996).

Kepada Taliban, Amerika pernah bernegosiasi agar dapat menjalankan program pipanisasi minyak tanah sepanjang 400 mil melewati Afghanistan, guna meminimalisir pengeluaran minyak tanah impor Amerika yang saat itu mencapai 1,8 juta barel/hari (EIA:1996). Namun negosiasi tersebut selalu berujung penolakan sehingga menyulut api amarah dari Amerika dan dendam yang kemudian melabeli Taliban sebagai kelompok dengan bertopeng beragam dalih agama dan kemanusiaan.

Hal serupa juga dilakukan oleh China yang juga berinvestasi terhadap kekayaan yang tersimpan di Afghanistan. Seperti misalnya investasi penambangan tembaga di samping juga tujuan untuk membangun stabilitas keamaan di Provinsi Xinjiang (wilayah perbatasan China dan Afghanistan). Namun negosiasi Tiongkok berhasil karena Taliban tergiur dengan investasi pembangunan infrastuktur telekominkasi yang ditawarkan oleh Tiongkok, sehingga banyak industri Tiongkok yang beroperasi di Afghanistan.

Dari situ tergambarkan betapa kayanya Afghanistan akan sumber daya alam. Sehingga ada lelucon satir, “Pada akhir hari ketujuh saat Tuhan selesai menciptakan alam semesta, Tuhan menempatkan semua batu-batuan sisa yang tidak terpakai di Afghanistan,” yang batu-batu itu kini sedang diperebutkan.

Baca juga:  Herawati Diah: Perempuan Menggerakkan Pers

Atas kekayaan Afghanistan itulah Taliban enggan melepaskan Afghanistan kepada Amerika dan memilih mengeksploitasinya sendiri. Mulai dari pemberlakuan besarnya pajak, barang impor, hingga pemanfaatan ladang opium di Afghanistan dengan keuntungan 300 juta USD/tahun. Jadi kekuasaan Taliban di Afghanistan juga tidak murni untuk mendirikan Negara Islam saja, tapi ragam politik yang menyertainya.

Max Weber dan Teori Sosialnya

Dari situ untuk memahami pola masyarakat kontemporer, Max Weber sdalam konsep tindakan sosial mengungkapkan tipe ideal tindakan sosial. Bahwa, selalu ada kepentingan alamiah –individu maupun kelompok— yang mendorong manusia untuk melakukan apa saja demi memperoleh kekayaan, tujuan juga pengakuan. Dan peran agama di sini tentu sebagai topeng untuk melegitimasi gerkan tersebut lantas melakukan turth claim (klaim kebenaran) sebagai tindakan jihad.

Gerakan ekstrimisme –dalam hal ini adalah Islam, mayoritas ingin mendirikan negara Islam (khilafah) dengan syariat Islam yang mereka pahami sebagai dasar hukumnya. Di sinilah perlu adanya pelurusan dan terbukanya ragam perspektif dalam membaca konflik yang melibatkan agama. Karena pada hakikatnya puncak keimanan adalah keindahan, dan salah wujud keindahan dalam laku sosial adalah kedamaian.

Agama bukanlah terowongan gelap yang hanya terlihat pengap dan dilewati searah. Karena dalam menilai suatu objek, orang buta yang hanya meraba dengan orang yang hanya melihatnya saja tentu berbeda dalam penilaiannya meski objek yang dilihat (dinilai) sama.

Baca juga:  Dari Konservatif hingga Liberal: Melihat Sisi Moderat dalam Tubuh Islam (1)
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top