Sedang Membaca
Nasehat Untuk Suami: Jima’, iltiqa’ dan dukhul
Imam Nakhai
Penulis Kolom

Anggota Komnas Perempuan. Mengajar di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukerojo, Situbondo, Jawa Timur

Nasehat Untuk Suami: Jima’, iltiqa’ dan dukhul

Charles 7gmeefqq5vc Unsplash

Sebagai lelaki, saya terkaget ketika fasilitator yang perempuan bertanya pada peserta yang mayoritas perempuan. Seperti biasa, Saya berada ditengah tengah mereka.

Pertayaannya menggoda, “Adakah istri yang pura-pura orgasme ketika melakukan hubungan seksual? ” tayanya.

Yang mengejutkan adalah jawaban mereka, ” banyakkk…” jawabnya.

Jiwaku lalu masuk dalam perjalanan kelurgaku yang telah dikaruniai 5 anak. Jangan jangan istriku juga kerap berpura pura orgasme.

Jawaban mereka, mengingatkan saat saya memberikan pelatihan merajut keluarga sakinah. Saya bertanya pada ibu ibu, apakah setiap senggama selalu sampai pada puncak kenikmatan? Mereka jawab tidak, berbeda dengan jawaban laki laki dengan pertayaan yang sama.

Mengapa banyak ibu-ibu yang tidak sampai pada puncak kenikmatan hubungan seksual?
Menurut mereka banyak sebab, antara lain: suami yang egois, gangguan sensitivitas pada perempuan karena dikhitan, pandangan budaya dan juga agama yang tidak memandang penting seksualitas perempuan.

Saya ingin melihat dari aspek terahir ini, budaya dan agama. Ada perubahan konsep hubungan seksualitas suami istri dalam islam, yang menyebabkan seksualitas perempuan kerap terabaikan. Hal ini disebabkan pemahaman yang tidak tuntas terhadap teks suci.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam islam, hubungan seksualitas disebut “jima’ ” dan liqa’. Beberapa hadist secara terang benderang menggunakan dua kata ini. Jima’ berasal dari kata jaama’a (جامع) yang berarti “saling” berkumpul. Kata jaama’a mengandung filosofi bahwa suami istri harus “saling” melakukan hubungan seksual dan saling menikmatinya. Istri bukan obyek dan sementara suami subyek. Suami istri adalah subyek obyek dalam satu tarikan nafas. Suami istri adalah setara dalam hubungan seksual.

Baca juga:  Konsep Mahabah Perspektif Al-Ghazali

Kata Liqa Semakna dan sefilosofi dengan kata jaama’a. Hubungan seks bukan hanya menyatukan alat kelamin biologis, melainkan menyatunya (liqa’) jiwa, rasa dan asa. Itulah filosofi kata jima’ dan liqa’.

Namun dua kata itu digeser dengan kata “dukhul” yang dimaknai secara dangkal. Kata dukhul seringkali dimaknai “masuk”, masuk ke rumah, masuk pintu, masuk kota, masuk hutan, dll. Kata itu mengandung makna orang yang masuk sebagai subyek, sedangkan yang dimasuki (pintu, rumah, mobil, kebun dll) adalah obyek.

Pesan Kerudung Bergo

Fiqih juga kerap menggunakan kata dukhul dari pada jima’ dan liqa’ untuk menggambarkan hubungan seksual. Akibatnya perempuan lebih sering dijadikan obyek dan suami sebagai subyek. Sebagai obyek, perempuan bagaikan benda mati, tergantung akan dimainkan seperti apa oleh si subyek. Inilah akar kedhaliman dalam hubungan seksual.

Olehnya penting mengembalikan filosofi jima’ dan liqa’ untuk wujudkan keadilan dan kesetaraan dalam hubungan seksual. Sehingga tidak ada lagi kepura puraan orgasme hanya karena untuk membahagiakan suami di atas penderitaannya sendiri. (RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top