Penulis Kolom

Husnul Athiya adalah alumni UIN Antasari Banjarmasin. Kini sedang mendalami Kajian Media dan Pop Islam

Urang Kalimantan, Urang Hutan?

Cnn Indonesia

“Marasa maka tahu!”
Lima hari terakhir, kalimat itu bergema di kepala saya. Kalimat yang merupakan peribahasa urang Banjar ini tafsirannya kurang lebih begini : Tuh kan, kalau nggak ngerasain sendiri, nggak bakal ngerti rasanya gimana.

Ya, sudah lima hari kalimat itu bergema, semakin hari semakin kencang, seiring dengan kencangnya air yang memasuki wilayah Gang Limau dan sekitarnya. Sejak hari Kamis minggu lalu, hidup saya dan mama yang ‘lembab’ karena cuaca lembab di Banjarmasin, berubah menjadi ‘basah’. Saya basah oleh air yang menggenangi rumah, sementara mama basah oleh air mata yang keluar saat berdoa agar bencana ini segera berakhir. Air sudah masuk ke ruang tamu, dapur, kamar, dan juga garasi dengan level ketinggian yang berbeda-beda. Lantai bawah rumah ini sudah tidak karuan bentuknya. Untungnya kami bisa mengungsi di lantai atas, dan kami tinggal berdekatan dengan kakak saya yang rumahnya selamat dari banjir. Jadi, mereka bahu-membahu membantu kami selama bencana ini.

Sembari mengamankan barang-barang, peribahasa ‘marasa maka tahu!’ muncul. Lalu, ada suara lain terdengar, terkesan mengejek saya, menertawakan saya, menyalahkan saya sambil berujar “Han maka sudah unda padahi, jangan mambuang sampah sembarangan. Jagai sungai wan selokan, Jangan menggunduli hutan. Jangan menambang behimat-himat. Nyawa kada heran-heran. Pas kabanjiran, calap saalaman rumah nyawa, nyaman lah! Tiwas kada mandangari unda. Marasa maka tahu!” Ya, saya berdosa kepada alam. Tidak, kami berdosa kepada alam. Tanpa disadari, kita semua berdosa kepada alam dan artinya juga berdosa kepada-Nya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selain ungkapan tersebut, ungkapan lain yang juga sering saya ucapkan adalah ‘Prepare for the worst, hope for the best’. Sejak Kamis itu, saya diperingatkan untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk jika debit air meningkat. Barang-barang di ruang tamu dibereskan, buku-buku diamankan, lemari diangkat ke atas meja dan kursi, sebelum kondisi semakin parah. Tetapi, sambil mengamankan barang-barang itu, saya terus berharap bahwa besok banjir akan surut dan saya hanya harus membersihkan rumah dengan riang gembira. Saya selalu berujar kepada mama ‘Tidak mungkin Allah tega sama kita. Besok pasti sudah surut.’ Tetapi, setiap harinya air terus meninggi dan keadaan semakin memburuk. ‘Hope for the best’ selalu termanifestasikan dalam bentuk ‘worst’– ‘getting worse’ lebih tepatnya.

Baca juga:  Percakapan Pasien Covid-19 Menuju Ruang Rontgen

Saat bencana menerjang, manusia pasti akan mencari penyebabnya. Dari sini, beragam perspektif bermunculan. Ada yang menyatakan bahwa banjir ini karena sampah, karena selokan yang tersumbat, karena resapan air yang kurang akibat hutan yang gundul, karena masifnya aktivitas pertambangan di wilayah Kalsel, tingginya curah hujan, mencairnya es di kutub, dan poin kerusakan lingkungan lainnya. Tetapi, yang menarik perhatian saya adalah analisis mama. Bagi mama, ini semua karena TERLALU BANYAK MAKSIAT di bumi ini.

Saya pikir, analisis ini keren, karena secara umum sudah merangkum semua penyebab yang dikemukakan, dengan bahasa yang sangat sederhana. Tak usahlah menyebut deforestasi, el nino, la nina, atau ‘basa laut’ lainnya. Kata mama, ‘kada bapaidah’. Intinya, kita sudah bermaksiat pada lingkungan. Dan maksiat itu akan berbanding lurus dengan bala yang turun. “Makanya, banyaki baistigfar haja kita ni, diang ae.” (Mama, 2021)
Mama saya memang best!

Mulai hari itu, saya merasa malu karena sudah berpikir ‘Tidak mungkin Allah tega’. Kita sudah sangat keterlaluan pada alam. Kita sudah dzalim pada alam. Kini, alam berontak dan menunjukkan kekuatannya. Malulah kiranya menyalahkan hujan atau air laut yang pasang. Bukankah itu sudah siklus alam? Memangnya zaman dahulu hujan tidak pernah turun atau air laut tidak pernah pasang? Saat itu terjadi, apa efeknya separah ini? Jadi, bencana ini bukan perkara Allah yang tega, tetapi kita yang sudah terlalu tega pada alam.

Baca juga:  Muslim dan Dunia Sains (4): Abdus Salam, Ahmadiyah, dan Hadiah Nobelnya

Kita renggut keperawanannya tanpa rasa segan. Kita nikmati hasilnya tanpa berpikir mengobati luka yang sudah kita torehkan di sekujur tubuhnya. Lalu, saat alam marah, kita menyalahkannya juga? Manusia macam apa kita ini? Jangan lupa, ayat al Quran yang turun pertama kali menyuruh kita untuk ‘membaca’, termasuk membaca tanda-tanda alam. Sebab, alam merupakan perwujudan dari kekuasaan Allah, Saat alam marah, artinya Allah memang marah, wak! Makanya kata emak, istighfar. Astagfirullahaladzim.

Setelah kejadian ini, saya mulai tersadar bahwa selama ini banyak hal kecil yang luput dari rasa syukur. Rupanya, bisa bangun tidur tanpa perasaan panik melihat air yang masuk ke dalam rumah adalah rahmat. Bisa memasak di dapur tanpa harus berendam di air yang tingginya setengah betis adalah rahmat. Bisa mencuci piring di dapur tanpa takut ada ular, biawak, atau tikus adalah rahmat. Bisa mandi dengan kamar mandi yang lantainya tidak tergenang air adalah rahmat. Bisa tidur di atas ranjang yang tidak terendam adalah rahmat. Dalam sehari, beribu rahmat Allah turun mengiringi kegiatan sederhana kita. Sudahkah kita bersyukur?

Kita sudah sama-sama tahu penyebabnya. Media sosial sudah ramai membicarakannya. Prediksi para pegiat lingkungan dan seniman yang fokus pada isu lingkungan sudah tampak buktinya. Ya, kita sudah paham. Namun, tak elok kiranya jika kita hanya fokus untuk menyalahkan pihak luar tanpa melihat ke dalam diri kita sendiri. Kita perlu jeda, introspeksi diri, berkontemplasi, dan menggemakan kalimat ini di dalam hati kecil kita “Sudahkah aku menjaga alam ini dengan baik?”

Baca juga:  Memulai Lagi Berkaligrafi dengan Huruf "Nun"

Sebagai orang yang pernah merantau, saya sering mendengar stereotipe Kalimantan di benak orang-orang di luar pulau ini. “Mbak Yay di Kalimantan? Oh yang banyak hutan itu?”, “Di Kalimantan ada sinyal nggak, Yay? Banyak banget ya hutan di sana? Ada mall nggak sih, Yay?”. “Hutan semua, Yay? Rumah kamu di dalam hutan apa gimana? Ada sinyal?” Yap, semua tentang hutan, hutan, dan hutan. Kami memang tinggal di hutan, dan hutan kami, hutan Kalimantan yang luasnya 40.8 juta hektar ini adalah salah satu paru-paru dunia. Sayangnya, paru-paru itu sedang sakit, karena terus dilukai tanpa pernah diobati.

Jika tidak ada perubahan yang terjadi di diri kita usai bencana banjir terbesar di Kalsel ini, jangan heran kalau nanti, ada kalimat: “Kamu dari Kalimantan? Oh, yang banyak hutan? Iya, HUTAN GUNDUL itu?” Semoga kita semakin menjadi manusia yang humanis dan cinta alam. Stay safe and stay sane semuanya! Kita pasti bisa melewati cobaan ini bersama-sama.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top