Sedang Membaca
Aku dan Islam Masa Depan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Aku dan Islam Masa Depan

Tsaqifa Aulya Afifah

Islam datang dengan penuh kelembutan, didakwahkan oleh manusia yang penuh teladan dan diakui kebenarannya oleh lawan dan kawan. Islam tidak mengatur urusan ibadah semata, namun segala sisi kehidupan manusia. Komprehensif. Islam merupakan agama Allah yang langsung diturunkan kepada suri teladan terbaik bagi umat manusia, Nabi Muhammad Saw.

Muhammad Saw membawa Islam dengan penuh kelembutan, tak ada satu helai pun bulu dari umatnya yang runtuh karena kekerasan. Beliau juga berpesan, “Tidaklah dikatakan muslim bila ia tidak mampu melindungi orang di sampingnya dari gangguan lisan dan tangannya”.

Setelah beliau wafat, perjuangan Islam terus dilanjutkan oleh para sahabat, khulafaur rasyidin. Setelah itu, penyebaran Islam dilanjutkan oleh para sahabat dan tabiin hingga Islam dapat berkembang pesat menuju dataran Eropa hingga sejumlah negara Asia, Afrika, dan Amerika. Islam hadir dengan slogannya rahmatal lil alamin, menjelajahi dunia, membawa kedamaian dan kebenaran, serta menyelamatkan manusia dari segala malapetaka. Begitulah sejarah bicara dan kita yakini.

Islam di Indonesia Masa Kini
Indonesia merupakan negara yang 85 persen penduduknya beragama Islam, menjadikannya negara muslim terbesar di dunia. Indonesia juga yakin,  Islam adalah agama rahmatal lil alamin yang membawa kebenaran dan kedamaian.

Meski demikian,  hal itu diingkari oleh sejumlah negara Eropa dan Amerika karena aksi teroris seperti Osama bi Laden, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), Al-Qaeda, dan lain sebagainya. Itulah yang menyebabkan Islam digeneralisasi sebagai agama penghasil teroris.

Menurut Al-Faruqi, umat Islam saat ini berada di anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Bahkan, kaum muslimin telah dikalahkan, dibantai, dirampas negerinya dan kekayaannya. Lebih parahnya lagi, oleh bangsa barat umat Islam diitnah dan dijelek-jelekkan dihadapan banyak negara di dunia.

Baca juga:  Menyimak Kisah-Kisah Santri Kelana

Indonesia adalah negara Islam terluas, tapi  masyarakatnya rata-rata tertinggal. Di kalangan umat Islam sendiri terus terjadi pertentangan, percekcokan, perpecahan, bahkan peperangan, sehingga umat Islam di Indonesia mudah dikuasai dan diadu-domba. Hal itu terjadi karena umat Islam  memecah diri serta menggolong-golongkan dirinya berbeda dengan yang lain, sebagai Muhammadiyah, Nadhatul Ulama (NU), MTA, ISIS, LDII, dan lain sebagainya. Mereka membanggakan golongannya dan menginginkan hegemoni atas golongan atau kelompok lain.

Hal lain yang juga terkait dengan perpecahan adalah banyaknya orang yang melakukan migrasi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, alhasil di kota pun mereka hidup di pinggir jalan, hidup seadanya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan di kota.

Kekayaan minyak dan gas bumi yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada Indonesia, ternyata bukan merupakan nikmat seperti seharusnya, karena pengolahannya terpaksa diserahkan kepada tenaga asing  yang kemudian disalahgunakan. Keadaan ini sungguh memprihatinkan.

Ditambah lagi dengan pemberitaan sejumlah media massa yang terus memojokkan Islam, bahkan lebih parahnya lagi ada sejumlah media secara gamblang menulis Islam adalah “agama teroris’.  Menanggapi permasalahan tersebut, kita perlu bekerjasama dan bekerja keras di antara semua umat Islam dan semua pemeluk agama di Indonesia.

Seluruh umat Islam di Indonesia, entah dari golongan mana pun harus menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya, yaitu tidak pernah mengajarkan  perpecahan, pemberontakan, terorisme. Selain itu, umat Islam harus pandai-pandai dalam menguasai media dan teknologi.

Baca juga:  Iklan Muhammadiyah di Majalah Milik NU Tahun 1941

Menurut Teungku Muhammad Yusuf (Tusop) pada satu saat dalam paparannya di pengajian Inspirasi Qalbu di Rumoh Aceh Kupi di Lingkee, “Islam saat ini dipandang dari penganutnya bukan dari isi ajarannya, sehingga masyarakat Islam tidak lagi sepenuhnya menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari”.

Ada satu blog yang menulis, ‘Mengapa Islam Harus Dikritik’. Saya tidak tunjukkan nama blognya, cukup postingannya. Kata ia, Mengapa Islam harus dikritik?  Pertama, Islam tidak terbukti merupakan dogma agama. Kebenaran Islam hanyalah pengakuan
umatnya saja, tidak lebih dari itu. Tiada alasan apa pun yang bisa menerangkan mengapa suatu pengakuan atas dasar moral atau ajaran tertentu tidak boleh dipertanyakan atau ditelaah. Malah sebaliknya, logika mengatakan bahwa suatu pengakuan sedemikian besar yang mempengaruhi begitu banyak umat manusia haruslah dikritik dan dianalisa sebanyak mungkin. Kedua, begitu banyak aspek ajaran Islam, misalnya Alquran dan kehidupan Muhammad, yang amat sangat bertentangan dengan akal sehat manusia tapi sangat mengkhawatirkan. Ini bukanlah pendapat, melainkan sebuah kenyataan.

Itulah sedikit postingan yang saya ambil dari blog itu. Membaca itu, perlu kita sadari bahwa pandangan negatif terhadap Islam sudah merebak di Indonesia. Sebagai umat Islam yang percaya dengan Allah dan Rasul, tidak sepantasnya kita lengah.

Solusi untuk Islam di Indonesia pada Masa Datang

Baca Juga

Sebenarnya, Islam telah menunjukkan kehebatnnya pada dunia terutama di Indonesia. Namun, dengan kondisi yang terjadi saat ini, nilai Islam telah dicoret di mata masyarakat. Oleh karena itu, semua umat dari golongan mana pun harus bersatu, bekerjasama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ajaran agama Islam.

Baca juga:  Ketika Bahasa Dipaksa Beragama

Jika saja semua umat Islam di Indonesia  berpegang teguh pada Alquran dan Hadis serta mengesampingkan perbedaan, maka subhanallah, Islam akan berdiri dengan tegaknya, dihormati oleh kawan dan lawan, menjadi agama  populer

Peran Semua Umat

Di Indonesia, Islam masa depan adalah hasil dari  peran seluruh umat dalam bekerjasama untuk memajukan Islam sebagai agama rahmatal lil alamin. Sering mengadakan forum pengajian bersama, musyawarah bersama, menetapkan hukum-hukum yang baru ada, dan lain sebagainya, maka hal itu lambat laun akan memajukan Islam di nusantara. Indonesia masa depan akan melihat volunterisme menjadi hal berharga.

Generasi Y dan Z yang berlandaskan Islam dan terpapar oleh teknologi justru sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan di antara seluruh golongan umat Islam, lalu melakukan hal-hal yang berdampak positif. Kegiatan keislaman yang pergerakannya besar, menyelami seluk-beluk perbedaan, dan menghadirkan persatuan, kerjasama, serta toleransi sebagai kearifan lokal.

Antara satu golongan dengan golongan lain membuat proyek bersama. Misi besar harus dimulai saat ini. Tanpa adanya perpecahan dan perdebatan. Walaupun banyak ancamanya, banyak kendalanya, kita harus tetap bersatu. Kegiatan sekecil apa pun harus tetap dijalankan.

Maka itu, idealisme akan terpuaskan. Kegelisahan masyarakat akan kompleksitas masalah sedikit terurai. Masa depan memang tidak dapat diprediksi, tapi setidaknya persiapan harus tetap dilaksanakan. Islam akan  menjadi agama kebanggaan umat bahkan hingga satu hari sebelum hari kiamat. Sebuh komitmen juang bersama yang bukan saja untuk diri sendiri, melainkan untuk negara bahkan dunia.

Lihat Komentar (0)

Komentari