Sedang Membaca
Tafsir Kerinduan (3): Kontempelasi Ketuhanan Melalui Perempuan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Tafsir Kerinduan (3): Kontempelasi Ketuhanan Melalui Perempuan

Husein Muhammad

Puisi-puisi di tulisan sebelumnya seringkali dipahami pembaca awam dan tekstualis sebagai bentuk kerinduan Ibnu Arabi kepada seorang perempuan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mereka, pembaca awam, menilai bahwa yang ditulis Ibnu Arab tiada lain kecuali sebuah kerinduan birahi, seksual dan erotis (gharamy) terhadap tubuh perempuan nan cantik-jelita, yang pernah ditemuinya selama di Mekkah: Sayyidah Nizham.

Mereka dalam hal ini telah terjebak dalam pemahaman yang amat dangkal, gersang dan tanpa makna. Orang-orang awam memang selalu dan hanya dapat memahami ucapan verbal seseorang atau goresan kata-kata menurut arti lahiriah, literalnya.

Mereka teramat sulit untuk bisa mengerti bahwa kata-kata sebenarnya adalah simbol-simbol dari pikiran dan relung hati yang amat dalam. Puisi adalah untaian kata yang sarat makna, penuh nuansa pikiran dan hati yang sulit ditebak. Maka ia memang bisa diberi makna ganda, eksoterik dan esoterik.

Dalam puisi-puisinya, Ibnu Arabi, oleh sebagian orang, boleh jadi memang sedang dicekam kerinduan yang membara terhadap seorang perempuan dalam arti secara fisik. Dengan kata lain kecintaan Ibni Arabi kepadanya tidak hanya secara spiritual dan intelektual, namun juga secara fisik dan psikis. Katanya:

“Jika saja tidak mengkuatirkan jiwa-jiwa rendah yang selalu siap dengan hasrat kebencian, akan aku sebutkan pula di sini keindahan lahiriah sebagaimana jiwanya yang merupakan taman kedermawanan.”

Baca juga:  Kisah Kefanatikan Kiai Ali Maksum pada Timnas Argentina

Akan tetapi para pengagumnya yang fanatik menolak tafsir ini.

“Tidak benar Ibnu Arabi berpikir tentang hasrat-hasrat seksual seperti ini. Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi, menurut mereka memang sungguh-sungguh tengah berkontempelasi dan merefleksikan cinta yang menggelora kepada Tuhan. Katanya suatu ketika, “Kontemplasi terhadap Realitas tanpa dukungan formal adalah tidak mungkin, karena Tuhan, Sang Realitas, dalam Esensi-Nya, terlampau jauh dari segala kebutuhan alam semesta. Maka, bentuk dukungan formal yang paling baik adalah kontemplasi akan Tuhan dalam diri perempuan.”

Dengan kata lain, merenungkan ke Ilahian. Menurutnya, dapat dicapai dengan merenungkan perempuan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Refleksi dan kontemplasi spritualitas Ketuhanan Ibnu Arabi seperti ini sebagaimana diungkapkan dalam kitab “Turjumunul Asywq” ini rasanya amat sulit untuk dapat dipahami, kecuali, meski belum tentu juga, dengan membaca syarah (komentar) yang ditulisnya sendiri:

“Dzakha`ir al-A’laq Syarh Turjuman al-Asywaq”.

Kitab komentar ini sengaja ditulis sendiri oleh Ibnu Arabi untuk menjelaskan berbagai kritik dan caci-maki orang (para ahl fikih) yang ditujukan kepadanya. Mereka menolak puisi-puisi cinta birahi (ghazal/erotis). Komentar yang ditulisnya di Aleppo, Damaskus, selama tiga bulan; Rajab, Sya’ban dan Ramadan ini kemudian dibacakan Qadhi ibn Adim di hadapan khalayak ahli fikih.

Begitu selesai, para pengkritik kemudian mengakui kesalahan atau ketidakpahaman mereka itu dan bertaubat.

Baca juga:  Munas NU dan Negeri Indonesia yang Bahagia

Ibnu Arabi mengatakan :

اشير بها الى معارف ربانية وانوار الهية واسرار روحانية وعلوم عقلية وتنبيهات شرعية وجعلت العبارة عن ذلك بلسان الغزل لتعشق النفوس بهذه العبارات فتتوفر الدواعى على الاصغاء اليها وهو لسان كل اديب ظريف روحاني لطيف.

“Di dalam buku itu aku tunjukkan pengetahuan-pengetahuan dan cahaya-cahaya ketuhanan, simbol-simbol isi hati, ilmu-ilmu rasional. Aku mengungkapkannya dengan bahasa ‘ghazal’ dan gaya anak muda, agar mereka tertarik lalu merenungkannya. Itu bahasa para ahli sastra yang cerdas, kaum spiritualis yang halus.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Meskipun begitu, masih banyak juga ulama yang menolak kumpulan puisi-puisi mistik ini.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top