Sedang Membaca
Perbincangan dengan Andree Feillard: Islam yang Berubah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Perbincangan dengan Andree Feillard: Islam yang Berubah

Amin Mudzakkir

Setelah naik mobil satu jam keluar dari Paris, sampailah saya di rumah Bu Andree Feillard. Setelah pensiun dari CNRS (semacam LIPI-nya Perancis), sekarang dia tinggal di sana. Lingkungannya sangat asri, khas pedesaan, dengan dentang lonceng gereja tua yang terdengar hampir setiap jam.

“Saya baru saja terapi. Sudah beberapa tahun saya kena semacam kanker darah. Untungnya bukan yang paling ganas,” Bu Andree memulai pembicaraan. “Tapi mari kita sekarang ngobrol tentang Islam.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bu Andree dikenal sebagai ahli Islam, khususnya NU, di Indonesia. Bukunya “NU vis-a-vis Negara” adalah buku wajib dalam topik ini. Di negerinya dia juga diminta untuk memberikan nasehat kepada pemerintah mengenai Islam.

“Perancis mempunyai sejarah unik. Sekularismenya sangat khas. Kalau konteks ini dipahami dengan benar, pelarangan penggunaan simbol keagaamaan di sekolah publik sangat masuk akal. Sayang pemerintah Perancis sendiri kurang memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal ini, sehingga muncul prasangka”, demikian dia menjelaskan pertanyaan saya tentang kontroversi hijab dan niqab di Perancis.

Andree Feillard, nama yang populer untuk pengkaji Islam di Indonesia, khususnya kajian NU.

Setelah panjang lebar bercerita tentang Gus Dur, lalu kami sampai pada topik kontemporer. “Islam memang sedang berubah, baik di Indonesia maupun di Perancis, tetapi juga ini merupakan gejala global. Di mana-mana kaum abangan makin religius. Beberapa mengambil jalan yang mengkawatirkan. Saya sudah melihat itu di Indonesia sejak ICMI didirikan,” ujarnya menanggapi isu-isu kekinian, termasuk peristiwa 212 di Indonesia.

“Di sini juga, banyak dari generasi kedua dan ketiga imigran yang mendekat dengan gagasan salafisme dan Wahabisme”

Terakhir kita berbicara tentang laicite dan Pancasila. “Keduanya mempunyai banyak kemiripan. Keduanya menekankan kesamaan di atas perbedaan. Multikulturalisme cocok buat Inggris dan Malaysia, tetapi tidak untuk Perancis dan Indonesia. Apalagi jika multikulturalisme dipahami sebagai ghetoisasi yang justru menyuburkan politik identitas,” argumennya mantap.

Baca juga:  Sejarah NU dan Pancasila, dari Kiai Wahid, Kiai Achmad Siddiq hingga Gus Dur
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top