Sedang Membaca
Konsep Menyucikan Allah Menurut Imam Al-Ghazali
Hosiyanto Ilyas
Penulis Kolom

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Bangkalan. Pernah menimba ilmu di Ponpes Attaroqqi Karongan Sampang. Pegiat Bahtsul Masail LBM NU.

Konsep Menyucikan Allah Menurut Imam Al-Ghazali

Tentang Tasawuf

Imam Al-Ghazali dalam karyanya Kitab Arbain Fi Ushuliddin Juz, 1, hlm. 5, mengulas tentang dzat Allah. Menurut Imam Al-Ghazali kita dapat mengenal Allah melalui para utusannya.

Imam Al-Ghazali menegaskan:

الحمد الله الذي تعرف الى عباده بكتاب المنزل، على لسان نبيه المرسل

Segala puji bagi Allah yang telah mengenalkan kepada hamba-hambanya dengan kitab yang telah di turunkan melalui lisan nabinya yang telah diutus.

Selanjutnya Imam Al-Ghazali mengulas At-Taqdis (tentang menyucikan Allah), bahwa Allah bukan berbentuk jisim (badan-badan) yang bisa digambarkan, Allah bukan benda seperti mutiara yang dapat diukur dan diperkirakan kadarnya berat dan rendahnya. Allah tidak menempati suatu tempat dan tidak menempati sesuatu yang baru.

Allah tidak bisa disamakan dengan sesuatu yang ada dan yang ada tidak bisa disamakan dengan Allah. Allah tidak dibatasi oleh ukuran-ukuran dan Allah tidak mengeliputi segala penjuru dan arah, dan juga Allah tidak di kelilingi langit-langit dan tidak pula langit-langit mengelilingi Allah.

Allah menguasahi ‘arsy, dan Allah disucikan dari bisa disentuh, menetap, dan berpindah. Allah tidak memikul ‘arsy dan juga tidak duduk di ‘arsy, tetapi Allah yang menguasahi ‘arsy dan para malaikat yang memikul ‘arsy kesemuanya itu berada dalam kekuasaan Allah.

Baca juga:  Ngaji Rumi: Tuma’ninah, Jurus Ampuh di Era Modern

Segala sesuatu itu dekat dengan Allah seperti dekatnya urat leher, akan tetapi kedekatan Allah tidak bisa di sifati seperti dekatnya manusia dengan manusia lainnya yang bisa diukur oleh jarak dan waktu. Allah disucikan dari zaman dan tempat bahkan wujud Allah ada sebelum Allah menciptakan zaman dan tempat.

Keberadaan Allah saat ini seperti halnya yang terdahulu tampa ada perubahan, dan Allah beda dari sifat-sifat makhluknya, tidak ada di dzat Allah selain Allah. Allah disucikan dari perubahan dan perpindahan, sifat Allah tetap diagungkan tidak akan tergeser sedikitpun.

Sifat Allah sudah sempurna tidak butuh lagi pada tambahan kesempurnaan, Allah bisa diketahui wujudnya melalui akal. Akal yang sehat dapat mengetahui wujud Allah melalui kebesaran ciptaan Allah, seperti, adanya bumi,  langit, dan ciptaan yang lainnya.

Dan dzat Allah nanti di surga dapat di lihat dengan kasat mata, melihat dzat Allah di surga merupakan anugerah dan nikmat yang paling sempurna yang diberikan kepada hamba-hambanya yang beramal kebajikan di dunia. Melihat dzat Allah merupakan penyempurna kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada para hambanya. Wallahu A’lam Bissawab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
2
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
3
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top