Sedang Membaca
Gus Dur dan Arswendo Atmowiloto
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Gus Dur dan Arswendo Atmowiloto

Hamzah Sahal

“Rasanya, ketika itu, mata saya tidak ingin melihat apa-apa, apalagi baca koran atau nonton berita TVR. Telinga saya tidak ingin mendengar apa-apa. Kaki saya pun berat melangkah ke mana pun. Telepon berdering-dering tidak pernah saya angkat. Baru ketika dengar Gus Dur berpendapat tentang tabloid Monitor, tentang saya, saya mak jenggelek, koyok urip meneh. Panca indra saya hidup lagi, merasa ada harapan.”

Kira-kira itu yang saya dengar dari pengarang kenamaan Arswendo Atmowiloto. Dia berbicara di forum Gusdurian di Jakarta, sekitar pertengahan 2016.

Itulah laki-laki pengarang yang saya tunggu kehadirannya sangat lama. Malam itu saya ketemu, duduk di depannya. Kami, para pendengarnya duduk lesehan di aula Griya Gus Dur, Matraman. Sementara dia duduk di kursi karena tidak kuat duduk lama. Malam itu dia mengenakan kaus panjang warna gelap, syal yang melilit, dan rambut yang dibiarkan tidak rapi. Sepertinya itu penampilang favoritnya.

Isi pembicaranya waktu itu juga seperti yang saya harapkan, yakni bagaimana Gus Dur berpendapat tentang dirinya, saat tabloid yang dipimpinnya dibredel karena tuduhan penistaan. Tahun 1990an tabloid itu merilis hasil poling orang paling populer, dan menempatkan Nabi Muhammad di urutan kesekian, di bawah Presiden Soeharto, BJ Habibie, KH Zainuddin MZ, dan lain-lain.

Arswendo didemo, dinistakan, dituntut, dan akhirnya divonis bersalah dengan hukuman lima tahun penjara.

Apa yang dikatakan Gus Dur tentang kasus tabloid Monitor itu?

Pernyataan Gus Dur untuk Arswendo melengkapi “kontroversinya” selama berkarir sebagai Ketua Umum PBNU. Sesungguhnya Gus Dur tidak membela Arswendo, tapi hanya mendudukkan persoalan. Melalui sebuah artikel Gus Dur mengatakan, Arsewondo itu kasus gila. Kira-kira Gus Dur ingin mengatakan Monitor itu sembrono, kurang kerjaan, buat apa poling itu dipublikasi. Namun, Gus Dur juga mengirimkan pesan pada umat yang marah, hal yang senada. “Seperti gila kasus,” tulis Gus Dur.

“Semua seolah-olah ingin berlomba-lomba membela Islam,” tulis Gus Dur dengan berani (ingat artikel Gus Dur “Tuhan Tak Perlu Dibela”).

Alih-alih meredakan, tulisan Gus Dur justru makin membuat orang marah. Komentar-komentar dia seperti menambah merah telinga tokoh-tokoh Islam. Saya masih ingat pernyataan Amien Rais di majalah Tempo yang sangat kasar (kira-kira, bukan kutipan langsung): Gus Dur tetap Gus Dur, meski diinjak kepalanya.

Komentar Amien Rais itu mereaksi pernyataan Gus Dur yang mengatakan Nabi Muhammad akan tetap mulia meski namanya tidak populer. Betapa panasnya waktu itu.

Baca Juga
Tentang Siluet Negara Islam 2

***

Kini, Arswendo telah berpulang, kemarin sore di Jakarta, di usia ke-70 tahun (katanya usia yang pas untuk meninggalkan dunia dengan sempurna). Gus Dur sudah berpulang lebih dulu, sembilan tahun lalu, di usia segituan juga. Namun, kita semua dapat melihat jejaknya dengan nyata. Kita sungguh kehilangan keduanya.

Dua tokoh kita ini memiliki kesamaan: sama-sama penulis, sama-sama pecinta sastra, sama-sama pemberani, sama-sama punya selera humor, dan sama-sama menggemari wayang (tradisi Jawa). Tak lupa, sama-sama kritis serta tidak mudah mengikuti arus besar opini publik.

Bedanya, Gus Dur muslim, Arswendo Katolik. Tapi keduanya sama-sama makhluk, ciptaan Tuhan. Tuhan mereka sama. Maka berpulang ke tempat yang sama. Semoga.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top