Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

Doi Besar itu Bernama Gus Dur

Humor Pesantren, dari Kiai Wahab Hingga Gus Dur

Suatu kesempatan, Gus Dur bercerita.

“Saya diundang ceramah untuk acara halal bi halal di sebuah universitas terkenal di Jakarta,” Gus Dur mulai bercerita.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Saya datang ke lokasi terlambat, karena macet,” lanjut Gus Dur.

“Pas saya datang, sang rektor universitas sedang sambutan. Di tengah sambutan, sang rektor memberi ucapan selamat datang kepada saya.”

“Hadirin, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mahasiswa-mahasiswi, dan para tamu undangan semuanya, mari kita sambut kedatangan KH Abdurhman Wahid atau Gus Dur, Sang Doi Besar dari Nahdlatul Ulama, dengan berdiri,” cerita Gus Dur menirukan sang rektor.

Ketika sang rektor dan Gus Dur duduk berdampingan di kursi depan, sang rektor bertanya:

“Pak Gus Dur, tadi kok ketika saya doi, Anda tersenyum-senyum sendiri?” tanya rektor penasaran.

“Hehehe.. Pak Rektor, yang benar itu dai, bukan doi,” jawab Gus Dur sambil senyum-senyum.

“Oooh.. Maaf Pak Gus Dur, saya lupa,” kata sang rektor tersipu-sipu.

“Ah, ndak apa-apa, Pak. Kan doi dan dai sama-sama pujaan hati?” kata Gus Dur. Keduanya lalu tertawa bersama.

Baca juga:  Asal-usul Pepatah "Loyal Seperti Samuel"
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top