Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

3 Humor Gus Dur Tingkat Tinggi: Menertawakan Kondisi Fisiknya Sendiri

Jika sedang ceramah atau mengisi pengajian di lingkungan NU atau pesantren, Gus Dur selalu menyelip senandung selawat, yang kemudian diikuti oleh jamaah. Apa faedah Gus Dur berselawat secara bersama-sama dengan jamaahnya?

Suatu hari Gus Dur mengungkapkan rahasianya. “Bapak-bapak, ibu-ibu, apakah tahu maksud saya  berselawat dan minta hadirin semua mengikutinya? tanya Gus Dur.

Gus Dur menjawab sendiri pertanyaan itu: “Saya minta panjenengan semua berselawat agar saya bisa memperkirakan berapa jumlah yang hadir di pengajian ini. Saya kan gak bisa liat, maka tekniknya ya hanya mendengar. Biasanya saya bertanya dulu ke panitia, tapi tadi ini lupa.”

Gus Dur bermaksud melucu, namun tidak ada yang tertawa. Respon jamaah justru terenyuh dan terharu. Itulah humor, saking tinggi tingkatannya, yang ada bukan tertawa, tapi terharu (jangan lupa, menangis terjadi bukan saja karena sedih, tapi juga bahagia yang berlebihan).

Bukan sekali itu saja Gus Dur menertawakan diri sendiri terkait kondisi fisiknya. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur tanpa ragu melontarkan kepahitan dirinya dalam bentuk humor, bahkan di forum internasional saat dirinya menjadi presiden.

Berikut kisah yang sudah masyhur dan direproduksi oleh banyak penulis dan pencerita yang mengagumi Gus Dur.

“Presiden dan Wakil Presiden kali ini tim yang paling ideal,” kata Gus Dur, seperti yang saya kutip dari buku Ger-Geran Bersama Gus Dur (Penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan). “Presidennya tidak bisa melihat, dan Wakilnya tidak pandai bicara…”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Napoleon, Al-Azhar, dan Kedokteran

Humor ketiga masih era Gus Dur jadi presiden, yaitu saat Gus Dur di-kuyo-kuyo diminta mundur oleh para politisi yang berkomplot dengan “baju seragam”, pengusaha, dan para pengikut Orde Baru yang masih kuat.

Gus Dur dengan enteng (bisa jadi dengan berat juga) mengatakan kepada publik bahwa dirinya tidak bisa mundur. “Maju saja dituntut kok disuruh mundur,” katanya.

Humor mengejek diri sendiri, self-mockery, jamak digunakan para komika atau pelawak. Dono atau Tukul Arwana misalnya, biasa mengejek senditi terkait bentuk giginya yang muncul ke depan. Bahkan dulu ada pelawak yang disebut Boneng, karen giginya tonggos. Gigi yang tidak rata biasanya bikin orang minder, tapi bagi para pelawak, bisa jadi bahan lawakan, bahkan dieksploitir.

Bagi orang yang berselera humor rendah, humor jenis ini jadi bahan tertawaan sebagaimana kita pernah menikmati Tukul Arwana. Tapi bagi penceritanya, saya yakin itu situasi yang sulit, terutama saat awal-awal bercerita.

Greg Barton dalam bukunya mengatakan Gus Dur sempat prustasi karena kondisi penglihatannya. Nah, dari sini, Gus Dur, mengejek diri sendiri mungkin menjadi semacam trauma healing. Betul kan daripada murung terus-menerus?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
5
Ingin Tahu
0
Senang
6
Terhibur
2
Terinspirasi
4
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top