Sedang Membaca
Mau Kirim Hadiah di Hari Raya? Cara Syekh Abdul Hamid Kudus Ini Bisa Ditempuh
Ahmad Hakim Jayli
Penulis Kolom

CEO TV9 Nusantara, Televisi Kaum Santri. Penikmat sastra, Pegiat media Nahdlatul Ulama dan Pesantren.

Mau Kirim Hadiah di Hari Raya? Cara Syekh Abdul Hamid Kudus Ini Bisa Ditempuh

Adalah Syekh Abdul Hamid seorang ulama ternama Mekkah, berdarah Kudus, yang menuliskannya. Dalam suasana hari raya, termasuk Idul Adha seperti ini, berkumpul, makan bersama, bersenda gurau dengan keluarga adalah keindahan rutin yang biasa dinikmati kita semua. Bagaimana dengan mereka yang tahun lalu bahkan minggu lalu masih bersama kita, namun kini sudah tiada, kembali ke haribaan Allah Swt?

Dalam kitabnya Kanzus Najah Was Salamah, Syekh Abdul Hamid Kudus memberi cara indah kirim hadiah untuk para kinasih yang kini sudah tiada dan persembahaan untuk para ahli kubur.

ومن قال: *سبحان الله وبحمده (مائة مرة) يوم العيدوقال: يا ربِّ، إني أعطيت ثوابها أهل القبور، لا يبقى أحد من الأموات إلا يقول يوم القيامة: يا رحيم ارحم عبدك هذا، واجعل ثوابه الجنة*. اهـ.

Siapa saja yang di hari raya melafalkan ‘Subhanallah Wa Bihamdihi’ (dibaca seratus kali), seraya memohon, Ya Rabb, sungguh aku hadiahkan pahala lafal tasbih ini untuk ahli kubur kami, maka tak ada yang dilakukan masing-masing ahli kubur itu kecuali memohon di hari kiamat kelak: Wahai Dzat Maha Penyayang, Sayangi hamba-Mu (yang kirim hadiah) ini, dan anugerahkan untuknya balasan berupa surga.

Shekh Abdul Hamid mengutip riwayat itu dari risalah Syekh Alwina-iy yang mengetengahkan hal-hal penting dilakukan saat mengisi waktu di dua Hari Raya, Idul Adha dan Idul Fitri. Lebih lanjut, dalam rislahnya Alwina-i mengajarkan perlunya perbanyak baca istighfar, khususnya setelah subuh saat hari raya tiba.

Baca juga:  Ulama yang Lahir di antara Tumpukan Kitab

من استغفر في يوم عيد بعد صلاة الصبح (مائة مرة) لا يبقى في ديوانه شيء من الذنوب إلا مُحي عنه، ويكون يوم القيامة آمنًا من عذاب الله

Siapa saja yang beristighfar selepas shalat shubuh (seratus kali) maka akan diselamatkan darinya catatan dosa dalam catatan amalnya, dan di hari kiamat kelak akan aman dari Adzab Allah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Masih tentang hadiah untuk yang sudah tiada, Syekh Abdul Hamid mengutip kitab Tuhfatul Ikhwan bahwa suatu ketika Nabi saw pernah menyampaikan seperti ini:

وعن النبي صلى الله تعالى عليه وسلم: « من قال سبحان الله وبحمده (ثلثمائة مرة) وأهداها لأموات المسلمين دخل في كل قبر ألف نور، ويجعل الله تعالى في قبره إذا مات ألف نور.

Siapa saja yang mengucapkan Subhanallah Wabihamdihi (sebanyak 300 kali) dan menghadiahkannya pada kaum muslimin-muslimat yang sudah wafat, maka Allah menganugerahkan seribu benderang cahaya di setiap liang kubur yang ada. Pun Allah akan menerangi kubur hamba pembaca tasbih tadi benderang seribu cahaya serupa.

Di nusantara ini, hari raya identik dengan takbiran, bahkan sudah menjadi budaya. Dari Sahabat Anas RA, Rasulullah saw menganjutkan agar nemenuhi saat-saat idul adha dan idul fitri dengan apa yang sehari-hari kita kenal dengan istilah takbiran itu:

زيّنوا العيدين بالتهليل والتقديس، والتحميد والتكبير

Hiasilah dua hari raya dengan membaca tahlil (La Ilaha Illah), taqdis (qaddasa lillah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (allahu akbar).

Baca juga:  Abu Hurairah Pernah Berburuk Sangka pada Rasulullah Saw

Sambil menunggu shalat Idul Adha atau Idul Fitri dimulai, Sahabat Anas RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengajurkan kita membaca ini:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يُحيي ويُميت، وهو حيّ لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير

La Ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu, wahuwa hayyun la yamutu, biyadihil khoiri wahuwa ala kulli syai-in qodir.

Siapa yang membacanya 400 kali sebelum shalat eid, maka setara dengan pahala memerdekakan 400 budak, dan Allah akan memerintahkan malaikat membangun sebuah kota indah untuknya penuh rimbun pepohonan hingga hari kiamat tiba kelak.

Berbagai bacaan dan amaliah yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Hamid melalui kitabnya Kanzun Najah Was Surur ini berada dalam satu bab khusus

احياء ليالي التروية وعرفة والعيدين(الفطر والاضحى (النحر

“Menghidupkan malam-malam Tarwiyah, Arafah dan Dua Hari Raya.”

Sesuai arti dari nama kitab itu, berbagai wirid, doa dan dzikir tadi merupakan tips dan panduan peroleh keberuntungan dan kebahagiaan dengan memenuhi hari-hari dzikir dan lantunan kalam-kalam indah, termasuk di momen hari raya idul adha dan idul fitri.

Syekh Abdul Hamid adalah satu dari ulama kebanggaan Indonesia yang tersohor di dunia internasional di samping Syekh Nawawi Albantani, Syekh Mahfudz Attarmasi, Syekh Khotib Sambas, Syekh Yasin Alfadani dan belasan nama lain.

Baca juga:  Romo Louis Leahy dan Manusia Rohani

Selain kitab tadi, Syekh Abdul Hamid punya banyak karya, antara lain Irsyadul Muhtadi ila Syarh Kifayatil Mubtadi, Al-Anwarus Saniyah `alad Duraril Bahiyah, Fat-hul Jalilil Kafi bi Mutammimati Matnil Kafi fi `Ilmayil `Arudh wal Qawafi, Al-Futuhatul Qudsiyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, dan sejumlah kitab lain.

Kitab Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyatil lati ila Tasyarruhis Shudur, diselesaikan pada hari Jumaat, bulan Safar 1328 H, berisi berbagai amalan wirid, doa dan zikir.

Syeikh Abdul Hamid Kudus lahir di Mekah, pada 1277 H/1860 M, wafat tahun 1334 H/1915 M, dimakamkan di Mekkah. Walau lahir di Mekkah, tapi ayahandanya lahir di Kudus, bernama Muhammad Ali Qudus bin Abdul Qadir al-Khathib bin Abdullah bin Mujir Qudus.

Keturunan Syekh Abdul Hamid di Indonesia, salah satunya almarhum KH Ahmad Abdul Hamid Kendal, mustasyar PBNU era KH Abdurrahman Wahid. Salah satu karya non tulisan dari KH Ahmad Abdul Hamid ini sebagaimana sering disampaikan Gus Dur adalah kalimat penutup sebelum salam yang sering diucapkan oleh para kiai dan pengurus NU, yakni: Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharjeq.

Salah satu cucu Kiai Ahmad Abdul Hamid adalah Almarhum Nukman Lutfie, yang kita kenal sebagai Bapak Medsos Indonesia. Pada 2019, TV9 Nusantara dalam peringatan 9th anniversary atau Nawawarsa memberi penghargaan kepada Nukman Lutfie atas jasa dan inspirasinya menggagas gerakan positif melalui media sosial.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top